Airlangga Sebut Saat yang Tepat bagi Indonesia Gabung CPTPP, Apa Alasannya?
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan Indonesia telah memulai proses aksesi keanggotaan untuk bergabung dengan Comprehensive Progressive Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Bahkan, Airlangga mengeklaim saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk bergabung dengan CPTPP.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global relatif di kisaran 3% hingga 3,5%. Hal ini karena ekonomi global masih berada di masa transisi dan berupaya kembali bangkit setelah dihantam pandemi Covid-19.
"Sehingga pada saat nanti dunia recovery 2-3 tahun lagi, kuenya sudah membesar, nah kita sudah ada di dalam (CPTPP)," kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (25/9/2024).
Baca Juga
RI Mulai Proses Aksesi CPTPP, Menko Airlangga Bidik Pertumbuhan Ekspor 10%
Selain Indonesia, Airlangga mengatakan ada sekitar tujuh negara yang telah meminta proses aksesi keanggotaan di CPTPP. Di antaranya China, Taiwan dan Costa Rica. Terkait jangka waktu proses aksesi keanggotaan CPTPP, Airlangga mencontohkan Inggris membutuhkan sekitar 2,5 tahun sejak pertama kali melayangkan permohonan.
"Jadi pengajuan Indonesia dianggap tepat waktu karena bulan Desember nanti Inggris menjadi salah satu negara pertama yang masuk dalam CPTPP," katanya.
Melalui CPTPP, Airlangga berharap ekspor Indonesia dapat meningkat tajam. Indonesia dapat mengembangkan pasar ke sejumlah wilayah strategis, salah satunya Amerika Latin. Sebelumnya, melalui Comprehensive Partnership Agreement (CEPA), Indonesia telah memiliki kerja sama dengan Cile. Lalu dengan CPTPP, Airlangga berharap agar Indonesia dapat melakukan ekspansi dagang ke wilayah lain, seperti Meksiko hingga Kanada.
"Tentu dengan CPTPP ini kita melakukan kebijakan yang dengan standar tinggi sehingga dengan demikian perdagangan impor dan ekspor semakin meningkat dan juga ujungnya akan meningkatkan perdagangan antara negara CPTPP," paparnya.
Airlangga juga berharap pasar internasional untuk produk Indonesia akan makin luas dengan bergabung ke CPTPP. Dicontohkan, saat ini terdapat persaingan pasar antara Indonesia dengan Thailand pada industri otomotif setir kanan. Melalui CPTPP, Indonesia dapat merambah ekspor ke Meksiko lantaran akan memiliki insentif berupa trade-in kupta.
"Jadi bukan soal competitiveness, tetapi kita dikasih kuota untuk ekspor," katanya.
Baca Juga
Keuntungan itu diharapkan juga akan terjadi pada industri tekstil dan garmen. Saat ini Indonesia tengah membutuhkan penciptaan lapangan kerja. Salah satu yang tengah diupayakan adalah menekan biaya masuk 20-40% untuk meningkatkan potensi ekspor industri tekstil dan garmen.
CPTPP atau yang populer dengan TP-11 sendiri merupakan sebuah perjanjian dagang yang saat ini beranggotakan 11 negara, yakni Australia, Brunei, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura dan Vietnam.

