The Fed Pangkas Bunga, Kurs Rupiah Ditutup Melesat
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melesat terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Kamis (19/9/2024). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah menguat 63 poin ke level Rp 15.287/USD, dari hari sebelumnya di posisi Rp 15.350/USD.
Pada perdagangan di pasar spot valas, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank juga perkasa terhadap dolar AS. Dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.30 WIB, kurs rupiah menguat 97 poin ke level Rp 15.232/USD, dibanding pada penutupan perdagangan sebelumnya yang bertengger di Rp 15.329/USD.
Menguatnya mata uang rupiah merupakan respons positif bagi perekonomian domestik, usai Federal Reserve pada Rabu (19/9/2024) waktu setempat, memangkas suku bunga 50 bps ke kisaran 4,75% - 5,00%. Keputusan itu dengan keyakinan yang lebih besar bahwa inflasi akan terus surut ke target tahunan bank sentral AS sebesar 2%.
"Para pembuat kebijakan melihat suku bunga acuan The Fed turun 50 bps lagi pada akhir tahun ini, 100 bps lagi pada tahun 2025, dan 50 bps lagi pada tahun 2026, hingga berakhir pada kisaran 2,75%-3,00%," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan di Jakarta, Kamis (19/9/2024).
Baca Juga
Pemotongan suku bunga yang sangat besar oleh Federal Reserve memicu beberapa kekhawatiran atas ekonomi AS yang melambat. Bank sentral AS khawatir atas perlambatan di pasar tenaga kerja, yang berpotensi menimbulkan lebih banyak hambatan ekonomi dalam beberapa bulan mendatang.
"Pemotongan suku bunga The Fed menimbulkan reaksi beragam. Bank Sentral AS memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada hari Rabu - batas atas ekspektasi pasar - dan mengumumkan dimulainya siklus pelonggaran yang akan membuat suku bunga turun lebih jauh. Sementara suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi pertanda baik bagi aktivitas ekonomi, di sisi lain pemotongan suku bunga agresif The Fed memicu kekhawatiran memang ada potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi," lanjut Ibrahim.
Baca Juga
Harga Emas Antam Turun Rp 10.000 per Gram, Termurah Rp 765.000
Sementara Ketua The Fed Jerome Powell membantu meredakan beberapa kekhawatiran ini, ia mengatakan, The Fed tidak berniat kembali ke era suku bunga yang sangat rendah. Suku bunga 'netral' Bank Sentral AS kemungkinan akan jauh lebih tinggi dari yang terlihat di masa lalu.
"Komentar Powell menunjukkan bahwa sementara suku bunga acuan AS akan turun dalam jangka pendek, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka menengah hingga panjang," ujarnya.

