Cerminkan Kepercayaan, S&P Afirmasi Peringkat RI di Atas Investment Grade
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga pemeringkat S&P kembali mengafirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia (RI) pada peringkat BBB dengan outlook stabil, pada 30 Juli 2024. Ini satu tingkat di atas investment grade.
S&P meyakini bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap solid, ketahanan eksternal dan beban utang pemerintah RI terjaga, serta didukung oleh kerangka kebijakan moneter dan fiskal yang kredibel. “Afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB oleh S&P memperkuat keyakinan lembaga pemeringkat utama, seperti Fitch dan Moody's, yang terlebih dahulu memberikan afirmasi atas rating Indonesia pada awal tahun ini," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangan di Jakarta, pada 30 Juli 2024.
Baca Juga
Melonjak 28,9%, Pemerintah Menarik Utang Baru Rp 214,69 Triliun Semester I
Afirmasi ini juga mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap prospek perekonomian Indonesia yang baik, serta keyakinan terhadap langkah-langkah sinergi kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dan Bank Indonesia. BI pun terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah tantangan ketidakpastian global.
S&P sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB dengan outlook stabil pada 4 Juli 2023.
Proyeksi Pertumbuhan Sekitar 5%
S&P memproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tiga sampai empat tahun ke depan akan tetap terjaga sekitar 5,0%. Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh permintaan domestik yang tetap kuat, serta belanja pemerintah dan investasi swasta yang meningkat.
S&P juga memandang ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga dalam jangka menengah. Kinerja sektor eksternal tersebut didukung oleh prakiraan kenaikan ekspor, sejalan dengan implementasi kebijakan hilirisasi di tengah pelemahan harga komoditas.
"Lebih lanjut, S&P juga mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia untuk menjaga inflasi, yang terjaga sejak tahun 2010. S&P memproyeksikan inflasi pada tahun 2024-2025 akan berada pada kisaran target 2,5%+1%, masing-masing sebesar 2,8% dan 3,0%. Selain itu, inovasi strategi operasi moneter yang pro-market dengan penggunaan instrumen berbasis pasar dinilai semakin meningkatkan fleksibilitas kebijakan moneter," paparnya.
Baca Juga
Bahlil Beri Sinyal Tak Ada Investor Asing ke IKN hingga Akhir Jabatan Jokowi
Di sektor fiskal, S&P memandang pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB). Secara umum, S&P meyakini pemerintahan baru akan memperhatikan aspek keberlanjutan kebijakan guna menjaga kredibilitas, serta menghindari disrupsi ekonomi dan keuangan yang signifikan.

