ADB Pertahankan Proyeksikan Pertumbuhan Indonesia di 5% pada 2024
JAKARTA, investortrust.id - Asian Developtment Bank (ADB) mempertahakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 5% dan inflasi pada 2,8% untuk 2024 dan 2025. ADB dalam laporannya menyebut permintaan dalam negeri terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Konsumsi swasta, belanja bantuan sosial pemerintah dan pemilu, mengalami peningkatan,” tulis ADB dalam laporannya, dikutip Rabu (17/7/2024).
Sementara itu, ABD memproyeksikan inflasi Indonesia tetap pada kisaran 2,8%. Angka ini berada di bawah inflasi regional Asia Tenggara yang diproyeksikan berada di 3,2% pada tahun ini dan 3% pada tahun mendatang.
Inflasi Indonesia diproyeksikan masih akan di atas Thailand yang berada pada kisaran terendah di 0,7% dan Malaysia yang berada pada 2,6%. ADB menyebut inflasi di Indonesia ditopang berkurangnya inflasi produk nonmakanan dan kenaikan gaji pegawai negeri sipil.
Baca Juga
Puji Peran Airlangga sebagai Menko, SOKSI: Pertumbuhan Ekonomi Selalu di Atas 5%
ADB juga menyoroti kenaikan Bank Indonesia (BI) Rate pada April di 6,25% untuk menjaga nilai tukar rupiah.
ADB mengingatkan agar pelaku bisnis berhati-hati dalam menentukan kebijakan jelang periode pemilihan kepala daerah (pilkada) yang berpotensi memperlambat pertumbuhan investasi.
ADB mengatakan pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara dipertahankan menjadi 4,6% pada 2024. Keputusan ini diambil di tengah perbaikan dari permintaan domestik dan eksternal.
Baca Juga
Sri Mulyani Ungkap Target Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, dan Nilai Tukar Semester II-2024
Dua mitra dagang Indonesia dan negara di kawasan Asia Tenggara, China dan India diproyeksikan juga masih berada dalam kisaran pertumbuhan ekonomi, masing-masing, 4,8% dan 7%.
Dalam kesempatan yang sama ADB menyebut pertumbuhan ekonomi di China diproyeksi bertahan karena pemulihan di sektor jasa konsumsi dan ekspor yang lebih kuat dari perkiraan, di tengah kesulitan sektor properti. Sementara itu, untuk India, ADB menyebut sektor industri India diproyeksikan akan tumbuh mantap, didorong oleh manufaktur dan permintaan kuat di sektor konstruksi. Pertanian diperkirakan meningkat kembali di tengah prakiraan musim hujan dengan curah hujan yang lebih tinggi daripada normal, sedangkan permintaan investasi masih kuat, yang dipimpin oleh investasi publik.

