Bos LPDP Buka-Bukaan Dana Abadi, Tembus Rp 154 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Plt Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Andin Hadiyanto buka-bukaan laporan posisi dana abadi yang dikelola saat melakukan rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia mengungkap hingga 31 Mei 2024 jumlah dana abadi yang dikelola oleh LPDP menembus Rp 154,1 triliun.
Andin menguraikan total alokasi tersebut terdiri dari dana abadi pendidikan sebesar Rp 126,1 triliun, dana abadi penelitian Rp 12,99 triliun. Kemudian ada dana abadi perguruan tinggi Rp 10 triliun dan dana abadi kebudayaan Rp 5 triliun.
"Terima kasih kepada pimpinan dan anggota Komisi XI terutama di empat tahun terakhir ada penambahan dana abadi cukup tinggi dan ini kita maksimalkan untuk memberikan layanan yang lebih optimal," kata Andin menuturkan, Senin (11/6/2024).
Setidaknya sampai dengan tahun 2020 diungkap oleh Andin LPDP mengelola dan menyalurkan sendiri beasiswa pendidikan dan riset kepada mahasiswa Indonesia. Namun setelah tahun 2020 LPDP bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kementerian Agama (Kemenag) dalam menyalurkan beasiswa.
Dalam laporannya hingga 31 Mei 2024 LPDP telah menyalurkan langsung beasiswa kepada 45.577 orang. Kemudian terdapat sebanyak 536.427 orang penerima beasiswa kolaborasi dengan Kemendikbud dan 40.905 orang melalui Kemenag.
"Untuk yang riset kita ada 2.954 proyek dan yang sudah selesai ada 983 proyek dengan akumulasi dana riset Rp 2,7 triliun," ungkap Andin.
Gunakan Instrumen Investasi
Disamping dana abadi sebesar Rp 154,1 triliun, LPDP menyimpan surplus sebesar Rp 4,2 triliun. Dengan demikian, akumulasi asset under management (AUM) LPDP hingga 31 Mei 2024 mencapai Rp 158,3 triliun.
"Saat pandemi banyak sekali kampus di luar negeri yang tutup. Akibatnya, pendapatan kami melebihi belanja, sehingga akumulasi surplusnya 4,2 triliun," papar Andin.
Andin menjelaskan, LPDP menggunakan sejumlah instrumen investasi dalam mengelola dana yang tersedia. Ini di antaranya adalah deposito, serta obligasi negara dan korporasi.
Bauran investasi LPDP pada instrumen deposito sebesar Rp 50,57 triliun (31,49%), dengan menggandeng 21 bank mitra. Kemudian, bauran investasi LPDP pada instrumen obligasi negara sebesar Rp 99,68 triliun (62,96%).
"Deposito ada 21 bank mitra yang sehat, kita lakukan lelang sebulan bisa 2 atau 3 kali. Sifatnya jangka pendek, karena kebutuhan bulanannya cukup tinggi," imbuhnya.
Selain itu, LPDP memanfaatkan bauran investasi pada instrumen obligasi korporasi sebesar Rp 2,72 triliun (1,72%). Investasi ini menyasar 13 BUMN, yakni PT Pupuk Indonesia, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, PT Angkasa Pura II, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Kemudian ada PT Sarana Multi Infrastruktur, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), PT Semen Indonesia Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan dan PT Kereta Api Indonesia (Persero). "(Obligasi korporasi) ini return-nya tinggi 7,74%. Lebih tinggi dari obligasi negara dan deposito," sebutnya.
Andin menjelaskan LPDP memilih untuk tidak menaruh seluruh aset di obligasi negara, dikarenakan untuk tetap menjaga kebutuhan cashflow tiap bulannya.

