Jangan Biarkan Bank Indonesia Sendirian Memerangi Dolar
JAKARTA, investortrust.id – Kalangan ekonom mengimbau agar Bank Indonesia jangan dibiarkan sendirian dalam memerangi penguatan dolar AS terhadap rupiah. Pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga (K/L), termasuk Kementerian Keuangan lewat kebijakan fiskalnya, harus ikut aktif membuat strategi kebijakan agar dapat bersinergi dalam mendorong apresiasi nilai rupiah.
Sementara itu, dengan fundamental perekonomian Indonesia yang cukup bagus, kurs rupiah berpotensi menguat pada akhir kuartal II-2024 ini. Nilai rupiah yang mencerminkan kekuatan fundamentalnya dan titik ekuilibrium baru berada di level Rp 15.500 per dolar AS.
Demikian benang merah wawancara investortrust.id dengan Ryan Kiryanto, Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia dan Fendi Susiyanto, CEO PT Finvesol Consulting di Jakarta, Sabtu (27/4/2024).
Ryan Kiryanto menjelaskan, dalam rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rabu (24/4/2024), suku bunga acuan atau BI-Rate dinaikkan 25 basis poin menjadi 6,25 persen. Ryan menilai keputusan ‘setengah pahit’ itu sangat tepat dan memang harus, di tengah tekanan terhadap rupiah yang semakin besar.
“Jika BI-Rate tidak dinaikkan, rupiah akan semakin tertekan dan bergerak liar. Rupiah bisa menuju 17.000 per dolar AS,” tegasnya.
Pada penutupan pasar, Jumat (26/4/2024), kurs dolar di pasar spot antar-bank di Jakarta (JISDOR) tercatat sebesar Rp 16.222 per dolar AS.
Menurut Ryan, posisi rupiah sudah terdepresiasi lebih dari 5% sejak awal tahun. “Itu sudah melebihi ambang batas. Secara best practice (praktik yang lazim) di dunia internasional, pelemahan kurs mata uang jangan melebihi 5 persen,” ujar mantan ekonom Bank BNI tersebut.
Ryan mengingatkan agar Bank Indonesia (BI) jangan dibiarkan sendirian dalam memerangi keperkasaan dolar AS. Kebijakan moneter BI tersebut harus diperkuat dengan kebijakan fiskal dari Kementerian Keuangan.
Selain itu, sejumlah kementerian dan lembaga harus dikerahkan untuk bersama-sama memperkuat nilai rupiah. Ryan mencontohkan, Kementerian Perdagangan harus berperan untuk menggenjot ekspor, mengingat akhir-akhir ini surplus neraca perdagangan kian mengecil. Padahal, devisa hasil ekspor tersebut sangat penting untuk membentengi rupiah.
“Cadangan devisa Bank Indonesia yang semula mencapai US$ 145 miliar, sekarang tinggal US$ 140 miliar. Jumlah itu berkurang karena tersedot untuk intervensi pasar oleh Bank Indonesia,” kata Ryan.
Selain Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian juga bisa menggerakkan dunia industri untuk mengurangi kandungan impor. Sebab, selama ini ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku dan barang modal impor sangat tinggi. “Di sinilah pentingnya mendorong industri nasional untuk memperbesar porsi TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri,” tutur Ryan.
Kemudian, Kementerian BUMN harus menyerukan kepada seluruh BUMN untuk tidak gemar mencari pinjaman dalam bentuk valuta asing (valas). “Jika sinergi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan kementerian/lembaga itu dilakukan dengan baik, rupiah akan kembali ke level fundamentalnya,” ucap Ryan.
Ryan juga mendesak pemerintah untuk menekan para pengusaha, khususnya eksportir, yang masih memarkir devisa hasil ekspornya di luar negeri. Padahal, kata Ryan, mereka mengeruk kekayaan alam di dalam negeri. “Memang bank-bank di luar negeri sekarang menawarkan suku bunga valas hingga 4,5-5 persen, kita hanya 2-3 persen. Jadi, banyak eksportir yang tertarik menyimpan devisanya di luar negeri,” kata dia.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat pemilik dolar yang menyimpan dana di bank-bank dalam negeri saat ini justru mengalami suku bunga riil negatif (real negative interest rate). “Itulah sebabnya, Bank Indonesia dan pemerintah harus memberikan semacam sweetener (pemanis) agar pemilik dana tidak lari ke luar negeri,” ujar Ryan.
Ekuilibrium Baru 15.500
Secara terpisah, Fendi Susiyanto mengakui bahwa kurs rupiah saat ini menjauh dari level fundamental atau level wajarnya. Dia berpendapat, level rupiah yang sesuai fundamental, serta mencerminkan keadilan antara eksportir dan importir, semestinya berada di posisi Rp 15.500 per dolar AS.
“Level ekuilibrium baru rupiah berada di kisaran Rp 15.500 per dolar. Level tersebut diharapkan bisa tercapai di kuartal kedua ini,” kata Fendi.
Sebagai pelaku pasar modal, Fendi melihat bahwa keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan dan volatilitas di pasar modal. Pasar sudah mengkalkulasi dan memperhitungkan keputusan tersebut.
Atas dasar itu, Fendi berharap dana asing yang keluar dari pasar modal sebesar Rp 30 triliun sejak awal tahun, baik di pasar obligasi maupun pasar saham, bisa kembali lagi ke dalam negeri. “Apalagi pasar saham kita cukup tahan. Indeks harga saham gabungan tidak sampai jatuh di bawah level 7.000, bahkan bakal menguji di level 7.200,” kata Fendi.
Baca Juga

