Banyak Biayai Renewable Energy, IIF Tingkatkan Pendapatan dan Laba
Oleh Reynaldi Hermansjah,
presiden direktur & chief executive officer PT Indonesia Infrastructure Finance
INVESTORTRUST - Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-14, PT Indonesia Infrastructure Finance mengawalinya dengan menandatangani kerja sama antara IIF dan PT MCA Indonesia. Ini dalam konteks IIF menjadi host dari program blended finance.
Kerja sama itu merupakan perwujudan nyata dari perjanjian induk, yang diteken Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dengan Menkeu Amerika Serikat (AS) Janet Yellen, pada April 2023. Salah satu programnya, IIF dipercaya melaksanakan program blended finance dan dilakukan penandatanganan Blended Finance Delivery Mechanism (BFDM) antara IIF dengan Millennium Challenge Account Indonesia.
Insya Allah, dengan ditekennya kerja sama itu, IIF yang merupakan perusahaan swasta nasional bidang pembiayaan infrastruktur, bisa turut serta membantu membangun infrastruktur Indonesia secara berkelanjutan. Dialog dan seminar untuk menyiasati climate change di Indonesia juga dilakukan dalam rangkaian perayaan ultah.
Baca Juga
Sri Mulyani: Transisi Energi Butuh Dukungan Multilateral Development Banks
Upaya mengatasi climate change ini sangat penting. Itulah sebabnya, IIF sebagai perusahaan yang terkait bidang infrastruktur berkomitmen semaksimal mungkin membantu menyediakan infrastruktur yang berkelanjutan dan bisa memitigasi dampak perubahan iklim.
Success Story
Pembiayaan infrastruktur ini ada cerita dinamika dan kompleksitasnya, termasuk success story yang bisa dicapai IIF. Pembiayaan ini ada risikonya, sehingga perlu blended finance atau program pembiayaan yang intinya melakukan bear risking dari proyek infrastruktur secara bersama.
Target pembiayaan tahun ini pun cukup tinggi dan angkanya masih difinalisasi, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang masih dalam proses penyusunan. Tapi satu hal yang kami yakin, tahun ini, pendapatan ataupun laba bersih tumbuh cukup tinggi, sekitar 23%. Secara umum, dalam 3 tahun berturut-turut, pertumbuhan laba bersih mencapai double digit.
IIF juga menerbitkan dua jenis obligasi. Pertama, di tahun 2020, yaitu obligasi global bond. Penerbitan obligasi IFF ini juga merupakan obligasi global pertama dari lembaga keuangan non-financial di Indonesia pada tahun itu.
Yang kedua, diterbitkan tahun 2023, yang merupakan obligasi atau surat berharga perpetual green bond. Hal itu cukup membanggakan, karena ini pertama kalinya surat berharga perpetual ditawarkan secara umum dan dicatatkan di bursa efek Indonesia secara terbuka. Hal ini sangat menarik buat IIF, dengan berlandaskan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /POJK.04/2018 Tahun 2018 tentang Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk kepada Pemodal Profesional.
Dukung Pembangunan IKN
IIF juga ikut mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), melalui jasa kepenasihatan. IIF memiliki dua lini bisnis, yaitu sisi pembiayaan dan jasa kepenasihatan.
Pada awalnya, IIF akan memulai dari sisi jasa kepenasihatan. Jasa IIF akan dibuka untuk mereka yang membangun proyek di iKN, dan nanti pada waktunya, bila project dari sektor swasta sudah mulai bergulir, perusahaan akan berpartisipasi secara pembiayaan.
Baca Juga
Bidik Net Zero Emission (NZE) 2045, IKN Prioritaskan Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan
Semua proyek yang dibiayai IIF memitigasi climate change. Contohnya pembangkit mini-hydro, yang pada dasarnya membangkitkan listrik dengan tenaga air sungai, sehingga mengurangi penggunaan fossil fuel, termasuk batu bara.
Selain pembangkit listrik tenaga air, IIF juga membiayai pembangkit tenaga surya dan pembangkit listrik angin, yang juga mengurangi pemakaian energi fosil. Bisa dikatakan, seluruh proyek khususnya yang berkaitan dengan energi, diarahkan ke sana semua, untuk memitigasi climate change dan mengurangi pemakaian carbon related product.
Biayai Rp 182 Triliun
Untuk gambaran pembiayaan proyek, secara total, selama 14 tahun, IIF sudah membiayai 80 proyek. Yang dibiayai IIF nilainya sekitar Rp 182 triliun secara keseluruhan.
Proyek-proyek itu tiga terbesar yaitu renewable energy, komunikasi, dan toll road. Untuk renewable energi, sudah mencakup seluruh sektor, yaitu dari pembangkit listrik tenaga mini-hydro, solar panel, wind, dan biomass.
Lokasinya tersebar di Indonesia. Tapi, proyek renewable energy umumnya banyak di Pulau Sulawesi dan Kalimantan.
Selama tahun 2010-2023, tiga besar proyek yang dibiayai IIF berubah-ubah. Tiga tahun yang lalu toll road yang nomor 1, dan di telekomunikasi banyak. Kemudian, sektor renewable energy tumbuh.
Ada juga proyek infrastruktur yang meski tidak spesifik pertanian, tapi mendukung sektor strategis itu. Ini seperti pelabuhan, perkeretaapian, dan jalan, yang semuanya untuk memastikan perpindahan barang dan jasa berjalan cepat. ***

