Asap Karhutla Batasi Perjalanan, BPS Catat Kunjungan Wisatawan Turun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat turunnya perjalanan wisatawan nasional atau wisnas. Wisnas merupakan wisatawan asal Indonesia yang melakukan perjalanan dari dalam negeri ke luar negeri dengan durasi tidak lebih dari satu tahun.
Sementara itu BPS mencatat terdapat 600.605 wisnas pada September 2026. Angka tersebut turun dari posisi Agustus 2026 yang sebesar 643.693 wisman.
Penurunan sebesar 6,69% secara bulanan dan 13,69% secara tahunan tersebut bukan tanpa sebab. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan bahwa karena penurunan perjalanan wisnas secara bulanan karena adanya kenaikan harga tiket penerbangan internasional.
“Contohnya di sini, dari Aceh ke Malaysia mengalami peningkatan serta juga ada fenomena kabut asap yang terjadi pada September yang memengaruhi penerbangan di level internasional,” kata Ateng, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Penurunan juga terjadi pada wisatawan mancanegara atau wisman. Wisman turun 10,79% secara bulanan dan 2,31% secara tahunan menjadi 1.427.114 wisman.
Sementara itu, wisatawan nusantara atau wisnus mengalami penurunan sebesar 7,3% secara bulanan dan 2,47% secara tahunan menjadi 96.690.631 wisnus.
Baca Juga
Kemenpar Bidik Wisatawan China, Labuan Bajo dan Bali Masih Jadi Andalan
Kondisi itu juga membuat tingkat penghunian kamar atau TPK klasifikasi bintang pada September 2026 mencapai 51,78% atau turun secara bulanan 0,74% poin dan naik 1,62% poin secara tahunan.
“Penurunan TPK secara bulanan sejalan dengan berakhirnya puncak liburan sekolah dan libur Hari Ulang Tahun Republik Indonesia pada Agustus, yang juga disertai dengan kendala kabut asap karhutla (kebakaran hutan dan lahan) serta adanya erupsi gunung berapi,” kata dia.
Berdasarkan data Center for Economic and Laws Studies (CELIOS) memproyeksikan sejak Januari-Oktober 2026 kebakaran hutan di Indonesia total mencapai 1,92 juta hektare. Papua Selatan mendominasi dengan kebakaran dengan 319.119,68 hektare atau 1,15 kali lipat dari Kalimantan Barat sebesar 277.127,29 hektare.
Dengan data yang ada, CELIOS memproyeksikan potensi kerugian yang hilang akibat karhutla dapat mencapai Rp 340,38 triliun atau 2,69% dari PDB.
