Rupiah dan Sejumlah Mata Uang di Asia Menguat, Imbas The Fed Tahan FFR
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dan sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (29/10/2026). Rupiah menguat sebesar 0,24% ke posisi Rp 18.140 per dolar AS.
Penguatan terpantau juga pada sejumlah mata uand negara-negara di kawasan Asia. Yen Jepang menguat 0,1%, yuan China menguat 0,06%, dan won Korea Selatan menguat 0,52%.
Selain itu, penguatan juga terpantau pada ringgit Malaysia sebesar 0,25%, peso Filipina sebesar 0,26%, dolar Singapura sebesar 0,12%, dan baht Tailan sebesar 0,09%.
Akan tetapi, terjadi pelemahan terhadap mata uang dua negara di Asia. Rupee India dan dolar Taiwan terpantau melemah, masing-masing 0,12% dan 0,16%.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan bahwa rupiah diperkirakan menguat seiring pelemahan dolar AS pascakeputusan FOMC.
Baca Juga
Rupiah Meluncur ke Rp 18.184 per Dolar AS, BI Ungkap Pemicunya
"Namun, fokus pasar masih tertuju pada pergerakan ekuitas domestik," kata Lukman.
Menurut dia, jika investor asing kembali mencatatkan net buy seperti pada Rabu, hal ini akan memberikan dukungan tambahan bagi rupiah.
Diberitakan investortrust.id, Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya. The Fed memilih pendekatan hati-hati di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda sesuai harapan para pembuat kebijakan.
Dalam keputusan pada Rabu (28/10/2026), Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) mempertahankan suku bunga federal funds dalam kisaran 3,75%-4%. FFR (Fed Fund Rate) berada pada level itu sejak The Fed menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Pernyataan resmi setelah rapat menegaskan bahwa inflasi masih tinggi. The Fed menyatakan tambahan informasi ekonomi diperlukan untuk menentukan kebijakan yang tepat guna memastikan inflasi kembali ke sasaran 2% secara berkelanjutan.
