Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 18,62%, Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Sebesar 5,29%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid pada kuartal II-2026, ditopang akselerasi belanja pemerintah, investasi, konsumsi rumah tangga, serta aktivitas perdagangan dan produksi domestik. Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year-on-year (yoy). Dibandingkan kuartal I-2026, ekonomi tumbuh 3,73% secara quarter-to-quarter (qoq).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan Rabu (05/08/2026) menunjukkan, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai 5,45% dibandingkan semester I-2025 atau cumulative-to-cumulative (c-to-c). Pengeluaran konsumsi pemerintah menjadi komponen permintaan dengan pertumbuhan paling tinggi. Pada kuartal II-2026, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% secara tahunan dan 15,08% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, secara kumulatif selama semester I-2026, pengeluaran konsumsi pemerintah melonjak 18,62%. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan seluruh komponen pengeluaran lainnya. Namun, angka 18,62% perlu dibaca sebagai pertumbuhan konsumsi pemerintah selama semester I-2026, bukan hanya pada kuartal II-2026. Kontribusi atau sumber pertumbuhan konsumsi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 1,07 poin persentase.
Tren Pertumbuhan sejak 2024
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak kuartal II-2024 bergerak di sekitar 5%, meskipun sempat mengalami perlambatan pada beberapa periode. Pada kuartal II-2024, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05% secara tahunan. Pertumbuhan kemudian melambat menjadi 4,95% pada kuartal III-2024, sebelum meningkat menjadi 5,02% pada kuartal IV-2024.
Memasuki 2025, pertumbuhan ekonomi kuartal I tercatat sebesar 4,87%. Laju pertumbuhan kemudian meningkat menjadi 5,12% pada kuartal II-2025 dan 5,04% pada kuartal III-2025. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi kembali menguat menjadi 5,39%. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,03% pada 2024. Momentum pertumbuhan berlanjut pada 2026. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, sebelum berada di level 5,29% pada kuartal II-2026.
Dengan demikian, laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan sejak kuartal II-2024 adalah Kuartal II-2024: 5,05%, Kuartal III-2024: 4,95%, Kuartal IV-2024: 5,02%, Kuartal I-2025: 4,87%, Kuartal II-2025: 5,12%, Kuartal III-2025: 5,04%, Kuartal IV-2025: 5,39%, Kuartal I-2026: 5,61%, dan Kuartal II-2026: 5,29%
Pada kuartal I-2026, konsumsi masyarakat menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. BPS menyebut mobilitas penduduk, libur hari besar keagamaan, pembayaran tunjangan hari raya, pengendalian inflasi, serta stimulus transportasi turut menjaga konsumsi domestik. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
PDB Harga Berlaku Rp6.552,1 Triliun
Besaran Produk Domestik Bruto Indonesia pada kuartal II-2026 berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun. Angka tersebut meningkat dari Rp6.187,6 triliun pada kuartal I-2026. Sementara itu, PDB berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun, naik dari Rp3.447,7 triliun pada kuartal sebelumnya.
Berdasarkan lapangan usaha, nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.257,6 triliun. Pajak dikurangi subsidi atas produk tercatat sebesar Rp294,5 triliun. Industri pengolahan menjadi lapangan usaha dengan nilai ekonomi terbesar, yakni Rp1.212,1 triliun berdasarkan harga berlaku. Posisi berikutnya ditempati pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp889,1 triliun serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar Rp853,3 triliun. Konstruksi membukukan nilai tambah Rp641,2 triliun, sedangkan pertambangan dan penggalian sebesar Rp581,1 triliun.
PDB Per Kapita
BRS pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tidak memublikasikan angka PDB per kapita baru karena indikator tersebut pada umumnya dihitung dan diumumkan berdasarkan PDB selama satu tahun penuh.
Angka resmi terakhir yang dipublikasikan BPS adalah PDB per kapita Indonesia tahun 2025 sebesar Rp83,7 juta atau US$5.083,4 per penduduk, dengan PDB harga berlaku sebesar Rp23.821,1 triliun. Data tersebut diumumkan BPS pada 5 Februari 2026. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Karena itu, nilai PDB Rp6.552,1 triliun pada kuartal II-2026 tidak tepat langsung disebut sebagai PDB per kapita tahunan. Angka per kapita 2026 secara resmi baru dapat ditentukan setelah keseluruhan PDB tahun 2026 dan jumlah penduduk yang menjadi dasar penghitungan tersedia.
Pertumbuhan Berdasarkan Lapangan Usaha
Dari sisi produksi, hampir seluruh lapangan usaha tumbuh positif secara tahunan pada kuartal II-2026. Satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi adalah pertambangan dan penggalian, yang turun 1,64%.
Pertumbuhan tertinggi dicatat oleh sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 10,81%. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan energi yang sejalan dengan aktivitas produksi, bisnis, dan konsumsi masyarakat.
Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60%, menunjukkan berlanjutnya peningkatan mobilitas, perjalanan, aktivitas pariwisata, kegiatan perhotelan, restoran, serta penyediaan makanan.
Konstruksi tumbuh 6,68%, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 6,39%, sedangkan transportasi dan pergudangan tumbuh 5,65%.
Industri pengolahan sebagai sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB tumbuh 4,52%. Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 3,80%.
Lapangan usaha informasi dan komunikasi tumbuh 6,97%, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib tumbuh 6,89%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 6,88%, serta jasa lainnya tumbuh 6,36%.
Jasa pendidikan tumbuh 5,92%, jasa perusahaan sebesar 5,08%, real estat 3,64%, dan jasa keuangan serta asuransi 3,11%. Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang tumbuh tipis 0,03%.
Dilihat dari sumber pertumbuhan, industri pengolahan menyumbang 0,90 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Perdagangan menyumbang 0,83 poin, konstruksi 0,62 poin, informasi dan komunikasi 0,48 poin, serta pertanian 0,46 poin.
Akomodasi dan makan minum menyumbang 0,35 poin persentase, transportasi dan pergudangan 0,27 poin, serta administrasi pemerintahan sebesar 0,23 poin.
Sebaliknya, kontraksi pertambangan dan penggalian mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,11 poin persentase.
Struktur Ekonomi Masih Ditopang Industri
Struktur PDB berdasarkan harga berlaku tidak mengalami perubahan besar. Industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi 18,50% terhadap PDB.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 13,57%, diikuti perdagangan besar dan eceran serta reparasi kendaraan sebesar 13,02%.
Konstruksi memberikan kontribusi 9,79%, sedangkan pertambangan dan penggalian sebesar 8,87%. Secara keseluruhan, lima sektor utama tersebut menyumbang 63,75% terhadap perekonomian nasional.
Transportasi dan pergudangan berkontribusi 6,16%, informasi dan komunikasi 4,30%, jasa keuangan dan asuransi 4,05%, serta administrasi pemerintahan 3,23%.
Akomodasi dan makan minum menyumbang 2,77%, jasa pendidikan 2,71%, real estat 2,17%, jasa lainnya 2,14%, dan jasa perusahaan 1,96%.
Pertanian Tumbuh Paling Tinggi
Dibandingkan kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 3,73% terutama ditopang peningkatan aktivitas pertanian.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 12,26% secara kuartalan. Pertumbuhan ini berkaitan dengan pola musim panen dan meningkatnya produksi sejumlah komoditas pertanian pada kuartal II.
Pengadaan listrik dan gas tumbuh 9%, transportasi dan pergudangan meningkat 4,21%, jasa perusahaan 4,13%, serta akomodasi dan makan minum 4,03%.
Perdagangan tumbuh 3,26%, jasa pendidikan 3,71%, jasa kesehatan 3,36%, informasi dan komunikasi 2,71%, konstruksi 2,12%, dan pertambangan 1,57%.
Industri pengolahan tumbuh 0,88%. Adapun jasa keuangan dan asuransi mengalami kontraksi tipis 0,03%.
Kinerja Semester I-2026
Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45% dibandingkan semester I-2025.
Penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,83%. Jasa lainnya tumbuh 8,09%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 7,24%, serta informasi dan komunikasi 7,05%.
Transportasi dan pergudangan tumbuh 6,81%, administrasi pemerintahan 6,67%, perdagangan 6,33%, konstruksi 6,09%, dan jasa pendidikan 5,56%.
Industri pengolahan tumbuh 4,78%, pengadaan listrik dan gas 4,83%, pertanian 4,35%, jasa perusahaan 5%, jasa keuangan 3,89%, serta real estat 3,59%.
Pertambangan dan penggalian menjadi satu-satunya lapangan usaha yang terkontraksi selama semester I-2026, yakni sebesar 1,89%.
Pertumbuhan Berdasarkan Permintaan
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen permintaan tumbuh positif secara tahunan pada kuartal II-2026.
Konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan paling tinggi sebesar 15,97%. Dengan kontribusi 7,57% terhadap PDB, komponen tersebut menghasilkan sumber pertumbuhan sebesar 1,07 poin persentase.
Pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga atau LNPRT tumbuh 6,93%, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto atau investasi tumbuh 6,87%.
Konsumsi rumah tangga, yang menjadi komponen terbesar PDB, tumbuh 5,06%. Ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13%, sedangkan impor barang dan jasa meningkat 8,82%.
Karena impor ditempatkan sebagai faktor pengurang dalam penghitungan PDB, pertumbuhan impor sebesar 8,82% menghasilkan pengurang pertumbuhan sebesar 1,77 poin persentase.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi sumber pertumbuhan paling besar, yakni 2,67 poin persentase. PMTB memberikan sumber pertumbuhan sebesar 2,06 poin, konsumsi pemerintah 1,07 poin, ekspor 0,99 poin, dan konsumsi LNPRT 0,09 poin.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 bukan hanya ditopang belanja pemerintah, tetapi juga oleh konsumsi masyarakat dan peningkatan investasi.
Nilai dan Struktur Permintaan
Berdasarkan harga berlaku, konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 mencapai Rp3.493,5 triliun, meningkat dari Rp3.363,2 triliun pada kuartal I-2026.
PMTB atau investasi mencapai Rp1.923,7 triliun, ekspor barang dan jasa Rp1.515,5 triliun, serta konsumsi pemerintah Rp496,1 triliun.
Impor barang dan jasa tercatat sebesar Rp1.576,3 triliun, sedangkan konsumsi LNPRT sebesar Rp88,6 triliun.
Dari struktur PDB, konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan kontribusi 53,32%. PMTB menyumbang 29,36%, ekspor 23,13%, konsumsi pemerintah 7,57%, perubahan inventori 2,50%, dan konsumsi LNPRT 1,35%.
Impor sebagai faktor pengurang memiliki porsi 24,06% terhadap PDB.
Konsumsi Pemerintah Tumbuh 18,62% pada Semester I
Sepanjang semester I-2026, konsumsi pemerintah meningkat 18,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut jauh melampaui konsumsi LNPRT sebesar 6,61%, PMTB 6,43%, konsumsi rumah tangga 5,28%, dan ekspor barang dan jasa 2,56%.
Impor barang dan jasa tumbuh 7,68%.
Kuatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah menunjukkan meningkatnya realisasi belanja negara, baik berupa belanja pegawai, belanja barang dan jasa, maupun pelaksanaan berbagai program pemerintah.
Pada kuartal I-2026, BPS sebelumnya menyebut pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21,81% didorong pembayaran gaji ke-14 atau tunjangan hari raya serta peningkatan belanja barang dan jasa, terutama untuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Pada kuartal II, realisasi belanja pemerintah kembali meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal itu terlihat dari konsumsi pemerintah yang tumbuh 15,08% secara kuartalan, dari Rp415,6 triliun pada kuartal I menjadi Rp496,1 triliun pada kuartal II-2026 berdasarkan harga berlaku.
Investasi Menguat
Pertumbuhan PMTB sebesar 6,87% menunjukkan aktivitas investasi dan pembentukan kapasitas produksi terus meningkat.
Secara kuartalan, PMTB tumbuh 5%, setelah pada kuartal I-2026 mengalami kontraksi musiman sebesar 7,54% dibandingkan kuartal IV-2025.
Kenaikan PMTB juga tercermin dari peningkatan nilai investasi berdasarkan harga berlaku, dari Rp1.750,5 triliun pada kuartal I menjadi Rp1.923,7 triliun pada kuartal II-2026.
Kontribusi PMTB terhadap PDB meningkat dari 28,29% pada kuartal I-2026 menjadi 29,36% pada kuartal II-2026. Dengan sumber pertumbuhan 2,06 poin persentase, investasi menjadi penopang terbesar kedua setelah konsumsi rumah tangga.
Pertumbuhan Ekonomi Secara Spasial
Secara spasial, seluruh kelompok pulau mencatat pertumbuhan positif pada kuartal II-2026.
Bali dan Nusa Tenggara membukukan pertumbuhan paling tinggi sebesar 6,10% secara tahunan. Tingginya pertumbuhan kawasan ini sejalan dengan menguatnya kegiatan pariwisata, transportasi, perhotelan, restoran, serta berbagai aktivitas ekonomi pendukung.
Jawa tumbuh 5,65%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sulawesi tumbuh 5,53%, Sumatera 5,06%, Kalimantan 4,10%, serta Maluku dan Papua 1,36%.
Dibandingkan kuartal I-2026, ekonomi Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 5,01%, Sulawesi 4,69%, Sumatera 3,63%, Kalimantan 3,11%, Maluku dan Papua 2,13%, serta Jawa 2,03%.
Secara kumulatif selama semester I-2026, Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 6,98%, Sulawesi 6,22%, Jawa 5,72%, Sumatera 5,10%, Kalimantan 4,09%, serta Maluku dan Papua 2,87%.
Jawa Menyumbang 56,47% PDB
Pulau Jawa tetap mendominasi struktur perekonomian Indonesia dengan kontribusi sebesar 56,47% terhadap PDB nasional.
Dengan pertumbuhan 5,65%, Jawa memberikan sumber pertumbuhan terbesar, yakni 3,31 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.
Sumatera menempati posisi kedua dengan kontribusi 22,50% terhadap PDB. Dengan pertumbuhan 5,06%, Sumatera menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 1,05 poin persentase.
Kalimantan berkontribusi 8,15% terhadap PDB nasional dan memberikan sumber pertumbuhan sebesar 0,34 poin persentase.
Sulawesi menyumbang 7,28% terhadap PDB dan memberikan sumber pertumbuhan sebesar 0,38 poin persentase.
Bali dan Nusa Tenggara memiliki kontribusi 2,84% dengan sumber pertumbuhan 0,17 poin persentase. Maluku dan Papua berkontribusi 2,76%, tetapi hanya memberikan sumber pertumbuhan sebesar 0,04 poin karena pertumbuhannya terbatas pada 1,36%.
Komposisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih sangat bergantung pada aktivitas ekonomi di Jawa dan Sumatera. Kedua wilayah tersebut secara bersama-sama menguasai 78,97% struktur perekonomian Indonesia.
Faktor Pendorong Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 ditopang oleh beberapa faktor utama.
Pertama, realisasi belanja pemerintah meningkat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 15,97% secara tahunan, 15,08% secara kuartalan, dan 18,62% secara kumulatif selama semester I-2026.
Kedua, konsumsi masyarakat tetap terjaga. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% dan memberikan sumber pertumbuhan paling besar, yakni 2,67 poin persentase.
Ketiga, investasi menguat. PMTB tumbuh 6,87% dengan sumber pertumbuhan sebesar 2,06 poin persentase. Peningkatan ini menunjukkan berlanjutnya pembangunan fisik, pengadaan mesin dan peralatan, serta pembentukan kapasitas produksi.
Keempat, aktivitas perdagangan dan jasa meningkat. Perdagangan tumbuh 6,39%, konstruksi 6,68%, transportasi 5,65%, serta akomodasi dan makan minum 10,60%.
Kelima, meningkatnya permintaan energi menjadi faktor pendukung. Pengadaan listrik dan gas tumbuh paling tinggi dari sisi produksi, yakni 10,81%.
Keenam, aktivitas pertanian mengalami peningkatan kuat secara kuartalan sebesar 12,26%, sejalan dengan pola musim panen dan peningkatan produksi komoditas pertanian.
Ketujuh, ekspor tumbuh 4,13% secara tahunan dan 8,45% secara kuartalan. Meski demikian, pertumbuhan impor yang mencapai 8,82% secara tahunan menunjukkan permintaan terhadap barang modal, bahan baku, dan barang konsumsi juga meningkat.
Data BPS tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia pada kuartal II-2026 masih memiliki fondasi pertumbuhan yang cukup luas. Pertumbuhan tidak hanya berasal dari konsumsi rumah tangga, tetapi juga didukung belanja pemerintah, investasi, ekspor, konstruksi, perdagangan, pertanian, dan sektor jasa.
Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas belanja pemerintah, memastikan investasi menciptakan kapasitas produksi dan lapangan kerja, memperkuat industri pengolahan, serta mengurangi ketergantungan pertumbuhan pada Jawa dan Sumatera.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik Nomor 78/08/Th. XXIX, “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026”, diterbitkan pada 5 Agustus 2026. Data PDB per kapita menggunakan Berita Resmi Statistik BPS tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2025, diterbitkan pada 5 Februari 2026.
