BPS: Neraca Perdagangan Barang Indonesia pada Juni 2026 Kembali Defisit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit Neraca Perdagangan Barang pada Juni 2026 mencapai US$ 0,45 miliar. Angka ini utamanya dikontribusi oleh defisit pada komoditas migas.
“Defisit pada Juni 2026 disebabkan komoditas migas yaitu defisit sebesar US$ 3,49 miliar,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi BPS, Ateng Hartono, saat paparan bulanan di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Adapun komoditas utama penyumbang utama pada migas, kata Ateng, yaitu hasil minyak dan minyak mentah.
Pada saat yang sama, Ateng menjelaskan bahwa neraca perdagangan komoditas non-migas mencatatkan surplus sebesar US$ 3,04 miliar. Komoditas penyumbang utama surplus yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Baca Juga
BPS: Ekspor Juni 2026 Mencapai US$ 25,46 Miliar, Naik 8,84% Secara Tahunan
Meski terjadi defisit, neraca perdagangan kumulatif Indonesia pada Januari-Juni 2026 masih tercatat surplus sebesar US$ 3,58 miliar. Angka merupakan penurunan sebesar 81,7% dibandingkan surplus neraca perdagangan pada periode Januari-Juni 2025 yang sebesar US$ 19,6 miliar.
BPS mengatakan surplus sepanjang 2026 ditopang oleh komoditas non-migas. Surplus komoditas non-migas mencapai US$ 19,35 miliar. Berada 32,17% di bawah angka surplus nonmigas periode Januari-Juni 2025 yang sebesar US$ 28,53 miliar.
Sementara itu, untuk komoditas migas, terjadi pelebaran defisit. Pada periode Januari-Juni 2026, defisit migas mencapai US$ 15,77 miliar atau melebar 76,59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan nilai defisit US$ 8,93%.
Menilik pada negara penyumbang surplus selama periode Januari-Juni 2026, tiga negara utama adalah yaitu Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 8,55 miliar, diikuti India sebesar US$ 6,68 miliar, dan Filipina sebesar US$ 4,24 miliar.
Sebaliknya, tiga negara penyumbang defisit terbesar bagi Indonesia yakni China sebesar US$ -13,61 miliar, Australia sebesar US$ -4,4 miliar, dan Singapura sebesar US$ -4,33 miliar.
