Gubernur BI Mundur, Rupiah Kembali Mendekat ke Zona Rp 18.000 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (27/7/2026). Rupiah melemah 0,13% menjadi Rp 17.987 per dolar AS pada pukul 09.46 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi seiring kabar mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada Minggu (25/7/2026).
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi menyebut pengunduran diri Perry yang mendadak berpotensi beri dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada pasar keuangan Indonesia, rupiah, IHSG, dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).
"Pengaruhnya terhadap kondisi market saat ini adalah pasar keuangan pada sesi perdagangan hari ini kemungkinan besar akan merespons berita ini dengan tingkat kehati-hatian (wait and see) yang tinggi," kata Rahma.
Menurut Rahma, pergantian pucuk pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi makro dan fluktuasi nilai tukar dapat memicu spekulasi pasar terhadap arah konsistensi bauran kebijakan moneter selanjutnya.
Namun demikian ia menilai langkah cepat pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur sebagai langkah krusial untuk meredam gejolak.
Keberadaan sosok internal yang selama ini turut merumuskan kebijakan memberikan sinyal kontinuitas dan stabilitas institusional kepada investor domestik maupun asing namun tidak sepenuhnya bisa direspon positif market.
"Pelaku pasar akan terus mencerminkan reaksi mereka pada efektivitas langkah-langkah stabilisasi lanjutan yang diambil BI pasca-pengumuman ini, terutama dalam menjaga kepercayaan terhadap instrumen rupiah dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global," ujar dia.
Sedangkan pada pasar global, investor asing biasanya memantau ketat aspek kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi. Reaksi global akan sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan otoritas moneter mengomunikasikan stabilitas transisi ini guna memastikan bahwa komitmen pengendalian inflasi dan pertahanan nilai tukar rupiah tetap berjalan tanpa kompromi.
Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan dalam jangka pendek, saya melihat dampak pengunduran diri Gubernur BI terhadap nilai tukar rupiah akan relatif terbatas. Kalaupun terjadi pergerakan nilai tukar, baik berupa apresiasi maupun depresiasi, faktor yang lebih dominan tetap berasal dari sentimen global, seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, kondisi geopolitik, hingga pergerakan arus modal.
Baca Juga
Prabowo Belum Putuskan Calon Gubernur Definitif BI Pengganti Perry Warjiyo
"Di sisi domestik, perhatian pasar juga lebih banyak tertuju pada fundamental ekonomi dan arah kebijakan pemerintah, dibandingkan semata-mata pada pergantian pucuk pimpinan BI," kata Yusuf.
Di sisi lain, penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur dapat memberikan kepastian bagi pasar. Destry bukanlah sosok baru di BI. Sebagai Deputi Gubernur Senior, Destry memiliki pengalaman panjang dalam perumusan kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta memahami dinamika pasar keuangan.
Bagi investor asing, yang menjadi perhatian utama bukan semata siapa yang memimpin BI, melainkan bagaimana bank sentral menjalankan mandatnya. Kredibilitas BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan akan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan persepsi investor terhadap Indonesia.
Selain itu, koordinasi antara BI dan pemerintah juga akan menjadi sorotan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sinergi kebijakan moneter dan fiskal sangat diperlukan, tidak hanya untuk menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Selama koordinasi tersebut tetap terjaga dan arah kebijakan BI konsisten, saya melihat pergantian gubernur tidak akan mengubah kepercayaan investor secara signifikan," ujar dia.
