Rupiah Menguat ke Rp 17.946 per Dolar AS, Menjauh dari Level Rp 18.000
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Rupiah terapresiasi 0,22% ke posisi Rp 17.946 per dolar AS, sehingga bergerak menjauh dari level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang justru melemah terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,04%, yen Jepang melemah 0,02%, ringgit Malaysia terkoreksi 0,18%, dolar Singapura turun 0,03%, dan baht Thailand melemah 0,10%. Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu menguat, yakni dolar Hong Kong sebesar 0,01%, peso Filipina 0,05%, dan won Korea Selatan 0,18%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 100,6 setelah melemah dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut didorong oleh data ekonomi terbaru yang menunjukkan ketahanan ekonomi AS masih berlanjut.
Baca Juga
Intip 4 Saham Pilihan Reliance Hari Ini, Ada BBCA hingga SCMA
Penjualan ritel AS meningkat sesuai ekspektasi. Penurunan harga bensin menekan penerimaan di SPBU, namun penjualan di dealer kendaraan bermotor dan peritel non-toko tetap solid. Sementara itu, klaim pengangguran awal turun menjadi 208.000, level terendah dalam dua bulan.
Menurut Andry, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan setelah AS meningkatkan serangannya terhadap Iran.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 12% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini, sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 56%.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik mendekati 4,60%, atau mendekati level tertinggi hampir dua bulan sebesar 4,62% yang tercatat pada 13 Juli. Kenaikan tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini.
Andry menjelaskan, eskalasi konflik antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi energi. Gelombang serangan kedua negara mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi dapat meningkat.
Baca Juga
IHSG Berbalik Rebound 0,51% hanya 40 Menit Transaksi, Saham Big Cap Melesat
Harga minyak mentah AS bertahan di atas US$79 per barel dan berada di jalur mencatat kenaikan lebih dari 11% sepanjang pekan. Peningkatan serangan antara AS dan Iran memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
AS dilaporkan melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran pada pekan ini, termasuk untuk pertama kalinya menghantam kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran sejak blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut kembali diberlakukan.
Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS dapat menargetkan infrastruktur Iran pada pekan depan apabila upaya diplomatik tidak menghasilkan terobosan.
Sementara itu, Teheran dilaporkan menginstruksikan pemberontak Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb apabila infrastruktur kelistrikan Iran diserang. Di saat yang sama, lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam sejak eskalasi terbaru, meski sejumlah kapal masih melintasi jalur tersebut.
