Anggota DPR dan Ekonom Minta Pemerintah Tetap Jaga Disiplin Fiskal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad meminta pemerintah terus menjaga disiplin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027. Seperti diketahui, batas defisit yang tercantum dalam undang-undang yaitu 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada kuartal pertama tahun ini, defisit APBN tercatat sekitar 0,64% dari PDB pada April 2026 dan menjadi sekitar 0,7% dari PDB pada Mei 2026.
“Ke depan, diharapkan terjadi perbaikan berkelanjutan seiring dengan mulai bergeraknya sektor keuangan dan meningkatnya penyaluran kredit kepada dunia usaha,” kata Kamrussamad, melalui keterangannya di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Kamrussamad mengatakan pertumbuhan ekonomi masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah pada kuartal I-2026. Namun, memasuki kuartal kedua, peran sektor keuangan dan pelaku usaha diharapkan semakin dominan.
“Ketika kredit mulai tersalurkan dan kepercayaan pelaku usaha meningkat, maka aktivitas ekonomi akan ikut terdorong,” kata dia.
Baca Juga
Defisit APBN per Mei 2026 Capai Rp 180,4 Triliun, atau 0,7% dari PDB
Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian melihat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dalam persoalan struktural ekonomi Indonesia. Persoalan struktural ini menjadi cerminan pelemahan nilai tukar rupiah dalam satu dekade terakhir.
“Pada periode awal, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 12.000 per dolar AS. Dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, terjadi depresiasi sekitar 26% hingga 31%,” ujar Fakhrul.
Dia menilai, posisi rupiah yang tertekan sebagai bagian dari proses penyesuaian ekonomi di tengah dinamika global.
Meski demikian, di tengah tekanan tersebut, Fakhrul melihat penguatan struktur ekonomi nasional selama periode 2014–2024 melalui pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan pembangunan infrastruktur secara masif dalam satu dekade terakhir.
“Hal ini bertujuan agar produk industri, termasuk UMKM dari daerah seperti Tasikmalaya dan Subang, dapat lebih efisien menjangkau pasar ekspor melalui pelabuhan,” kata dia.
Melihat kondisi ini, Fakhrul menilai, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat terbuka, terutama melalui pengembangan sektor energi dan pangan sebagai prioritas strategis nasional.
Dia juga menilai kinerja sejumlah indikator ekonomi, termasuk neraca perdagangan yang masih surplus, menunjukkan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga. “Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, didukung sumber daya alam yang melimpah dan potensi sektor produktif yang besar,” kata dia.
Karena itu, penguatan struktur ekonomi, peningkatan kualitas belanja negara, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global.
"Dengan membangun iklim usaha yang kondusif ini menumbuhkan kepercayaan para pelaku usaha sehingga serapan pertumbuhan kredit kita di perbankan bisa lebih baik," ujar dia.
