Ekonom Tri Megah: Kenaikan BI Rate Balikkan Arah Nilai Tukar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menjadi satu-satunya ekonom dalam konsensus Bloomberg yang memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps). Dia menyebut, kenaikan BI Rate menjadi 5,25% itu merupakan langkah tepat untuk menstabilkan rupiah.
“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,” kata Fakhrul, dalam keterangan resmi kepada investortrust.id, Rabu (20/5/2026).
Beberapa jam setelah keputusan BI Rate yang naik, pasar merespon. rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di posisi Rp 17.598 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 16.00 WIB, menurut data Investing.
Menurut Fakhrul, kenaikan 50 bps ini akan menjadi titik balik penting bagi rupiah. Dia memperkirakan rupiah berpotensi menguat secara bertahap, dengan level penting pertama berada di sekitar Rp 17.300 per dolar AS, sebelum bergerak menuju keseimbangan baru di sekitar Rp 16.800 per dolar AS.
Baca Juga
Jurus BI Balikkan Posisi Rupiah Terhadap Dolar AS: Naikkan BI Rate dan Ubah Struktur Bunga SRBI
“Rupiah sudah selesai fase overshootingnya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru. Level Rp 17.300 menjadi titik berhenti pertama, dan apabila koordinasi kebijakan berjalan baik, rupiah bisa bergerak menuju Rp16.800,” ujar dia.
Fakhrul menilai saat ini pelaku pasar tidak lagi perlu terlalu defensif terhadap dolar AS. Menurutnya, kombinasi kenaikan BI Rate, intervensi valas, penguatan DNDF/NDF, serta perluasan transaksi CNH-rupiah dan LCT akan memperkuat keyakinan bahwa tekanan rupiah mulai dapat dikendalikan.
“Ini saatnya mulai buang dolar secara bertahap,” kata dia.
Meski demikian, Fakhrul menegaskan pekerjaan belum selesai. Setelah BI menaikkan suku bunga acuan, langkah berikutnya adalah memperbaiki struktur pasar uang dan obligasi domestik. Dia menilai suku bunga SRBI perlu mulai diturunkan secara bertahap agar tidak terus menyedot likuiditas dari pasar obligasi negara dan aset berdurasi panjang.
“Setelah BI Rate naik, SRBI tidak boleh terlalu lama menjadi magnet utama likuiditas. Kalau SRBI terlalu menarik, dana akan terus terkonsentrasi di instrumen pendek. Ini bisa mengganggu pasar SBN, menekan yield curve, dan membuat transmisi kebijakan tidak sehat,” ujar Fakhrul.
Setelah itu, Fakhrul juga menekankan pentingnya kekompakan antara BI dan Kementerian Keuangan. Menurutnya, kenaikan suku bunga BI harus diikuti komunikasi fiskal yang jelas, terutama terkait subsidi energi, strategi penerbitan SBN, serta arah pembiayaan pemerintah.
