Bagikan

Mei 2026, Indeks Keyakinan Konsumen Diperkirakan Stabil

Poin Penting

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat stabil di level 123,0, menunjukkan daya beli dan optimisme masyarakat masih terjaga pasca momentum Lebaran.
Kenaikan IKK didorong konsumsi musiman Idulfitri, pencairan THR, serta membaiknya persepsi terhadap lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama.
Meski tetap optimistis, SSI memperkirakan sentimen konsumen mulai normalisasi pada Mei 2026 akibat tekanan global, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan inflasi pangan.

JAKARTA, Investortrust.id – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada April 2026 tercatat relatif stabil di level 123,0, sedikit naik dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9. Stabilitas ini menunjukkan daya beli dan optimisme rumah tangga Indonesia masih cukup terjaga di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah, terutama ditopang momentum musiman Hari Raya Idul Fitri. Sentimen konsumen kemungkinan akan mengalami normalisasi pada Mei 2026 setelah efek Lebaran mereda.

Macro Strategy Team SSI Research dalam laporan “Indonesia Consumer Confidence Index” yang diterbitkan Senin (11/05/2026) menyebutkan, kenaikan tipis tersebut sejalan dengan estimasi Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) dan didorong efek musiman Lebaran, termasuk pencairan bonus dan tunjangan hari raya (THR) pekerja yang menopang konsumsi masyarakat.

“Meski indeks utama masih berada di sekitar level terendah dalam lima bulan terakhir, ketahanan indeks ini mengindikasikan rumah tangga Indonesia masih mempertahankan selera belanja yang relatif sehat,” tulis SSI Research dalam laporannya.

SSI mencatat perbaikan terlihat pada sejumlah subindeks, khususnya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama (durable goods). Subindeks durable goods meningkat menjadi 112,6, yang dinilai mencerminkan kepercayaan konsumsi kelas menengah masih cukup kuat.

Selain itu, persepsi terhadap peluang kerja juga membaik seiring lebih solidnya aktivitas domestik pada kuartal I-2026, terutama pada sektor ritel, transportasi, dan jasa. Kondisi ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang sebelumnya melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan (year-on-year), ditopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

Namun demikian, SSI mengingatkan mulai muncul sikap kehati-hatian konsumen terhadap prospek ekonomi ke depan. Hal ini tercermin dari melemahnya sejumlah komponen ekspektasi, termasuk pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas usaha.

Menurut SSI, tekanan tersebut dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan kinerja pasar saham, ketegangan geopolitik global, serta melambatnya permintaan eksternal. Selain itu, masyarakat juga mulai mengkhawatirkan tekanan daya beli akibat kenaikan inflasi pangan dan volatilitas kurs.

Pandangan serupa sebelumnya juga disampaikan Bank Indonesia (BI). Dalam survei konsumen terbaru, BI menilai keyakinan konsumen memang masih berada di zona optimistis, tetapi tekanan eksternal dan volatilitas global mulai memengaruhi ekspektasi ekonomi rumah tangga. BI juga menyoroti kenaikan harga pangan dan pelemahan rupiah sebagai faktor yang perlu diwaspadai terhadap konsumsi domestik.

Lembaga internasional seperti Reuters dan CNBC dalam sejumlah laporan awal Mei 2026 juga menyoroti meningkatnya risiko terhadap negara emerging markets akibat penguatan dolar AS, perang di Timur Tengah, dan volatilitas harga energi global. Tekanan tersebut dinilai dapat memperbesar imported inflation dan memperlemah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

SSI memperkirakan sentimen konsumen kemungkinan akan mengalami normalisasi pada Mei 2026 setelah efek Lebaran mereda. Selain itu, volatilitas harga komoditas global dan ketidakpastian pasar keuangan masih berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi impor.

Meski demikian, SSI menilai berbagai subsidi pemerintah dan kondisi likuiditas domestik yang masih akomodatif dapat menjadi bantalan bagi daya beli masyarakat. Namun, risiko perlambatan konsumsi rumah tangga dinilai meningkat seiring potensi kenaikan inflasi yang dapat menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Laporan lengkap SSI Research tersebut dipublikasikan pada 11 Mei 2026 dalam “Samuel Economic Update: Indonesia Consumer Confidence Index”.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024