Benarkah Raheem Sterling Jadi Investasi Gagal Chelsea? Begini Faktanya
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id — Perjalanan Raheem Sterling bersama Chelsea resmi berakhir pada Januari 2026. Kontraknya diputus lebih cepat, sebelum akhirnya winger Inggris itu melanjutkan karier ke Feyenoord hingga akhir musim 2025/2026.
Perpisahan tersebut memunculkan satu pertanyaan besar, apakah Sterling menjadi salah satu keputusan transfer paling merugikan The Blues dalam beberapa tahun terakhir?
Sebab, Chelsea merekrut Sterling dari Manchester City pada musim panas 2022 dengan mahar €56 juta (Rp980 miliar). Nilai itu mencerminkan reputasinya sebagai pemain kunci Manchester City yang ikut meraih empat gelar Liga Premier.
Baca Juga
Bayar Rp341 Miliar, Bournemouth Permanenkan Alex Jimenez Dari AC Milan
Tak hanya biaya transfer besar, Chelsea juga mengikatnya dengan bayaran premium £325 ribu per pekan (Rp6,5 miliar). Angka tersebut menempatkannya di jajaran pemain bergaji tertinggi di Liga Premier saat itu.
🐦 Social Media Post
URL: https://twitter.com/FabrizioRomano/status/2021988627908272601?ref_src=twsrc%5Etfw
Namun, ekspektasi tak berjalan searah dengan kenyataan. Selama berseragam biru, Sterling mencatatkan 81 penampilan dengan kontribusi 19 gol dan 15 assist. Itu angka yang tak sepenuhnya buruk, tapi jauh dari label pembelian bintang.
Musim 2024/2025 dia sempat dipinjamkan ke Arsenal dengan harapan bisa dipermanenkan. Alih-alih bangkit, dia kesulitan menembus tim utama dan akhirnya kembali ke Stamford Bridge.
Chelsea sebenarnya berupaya melepasnya secara permanen pada musim panas 2025. West Ham United dan Fulham dikabarkan tertarik, tapi mereka hanya bersedia dalam skema pinjaman. Sementara manajemen The Blues bersikukuh ingin menjual langsung. Negosiasi pun buntu.
Akibatnya, Sterling dibekukan dari skuad utama dan lebih sering berlatih bersama tim akademi. Situasi itu membuat nilai pasarnya terus menurun hingga akhirnya kontrak diputus tanpa menghasilkan pemasukan berarti bagi klub.
Secara hitungan bisnis, Chelsea mengeluarkan hampir €56 juta (Rp980 miliar) untuk transfer, membayar gaji ratusan miliar rupiah selama tiga musim, lalu berpisah tanpa biaya transfer balik. Dalam industri sepak bola modern yang semakin ketat secara finansial, angka-angka itu sulit dibantah.
Baca Juga
Atletico Madrid Beberkan Nikmatnya Bantai Barcelona 4 Gol Tanpa Balas

