Tolak WO di Final Piala Afrika 2025, Sadio Mane Duta Sepak Bola Sesungguhnya
Poin Penting
|
RABAT, investortrust.id – Sadio Mane kembali menjadi pahlawan Senegal dalam final Piala Afrika 2025 di Prince Moulay Abdellah Stadium, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. Kali ini bukan lewat gol penentu atau aksi individu di lapangan, melainkan kepemimpinannya yang menyelamatkan pertandingan dari kekacauan.
Senegal keluar sebagai juara Piala Afrika setelah menaklukkan tuan rumah Maroko 1-0 lewat babak perpanjangan waktu dalam laga penuh kontroversi dan memalukan.
Drama terjadi di menit ke-98 ketika Maroko mendapat hadiah penalti seusai Brahim Diaz dijatuhkan El Hadji Malick Diouf. Keputusan wasit memicu kemarahan kubu Senegal. Pelatih Pape Thiaw bahkan menginstruksikan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Baca Juga
Cek Videonya! Momen Aneh Final Piala Afrika 2025 Rebutan Handuk Kiper Senegal
Saat para pemain Senegal sudah berada di ruang ganti, Sadio Mane justru tampil sebagai penengah. Bersama kiper Edouard Mendy, bintang Al-Nassr itu masuk ke ruang ganti dan membujuk rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan demi menyelesaikan pertandingan.
Sekitar 16 menit setelah penalti diberikan, laga akhirnya dilanjutkan. Brahim Diaz yang menjadi algojo justru gagal menunaikan tugasnya. Eksekusi Panenka bintang Real Madrid dengan mudah ditangkap Edouard Mendy.
Skor tetap 0-0 hingga waktu normal berakhir dan laga berlanjut ke extra time. Di momen inilah Senegal memastikan gelar juara lewat sepakan keras Pape Gueye yang tak mampu dibendung kiper Maroko Yassine Bounou.
Seusai laga, Sadio Mane menegaskan keputusannya membawa tim kembali ke lapangan adalah demi menjaga martabat sepak bola Afrika. “Sepak bola adalah sesuatu yang spesial. Dunia sedang menonton. Akan gila jika pertandingan dihentikan hanya karena keputusan wasit. Saya lebih memilih kalah daripada melihat sepak bola Afrika tercoreng seperti itu,” ujar Sadio Mane, dilansir BBC Sport.
“Sepak bola tidak seharusnya berhenti bahkan sepuluh menit sekalipun. Tapi, yang terpenting, kami kembali ke lapangan dan menyelesaikan pertandingan,” tambah Sadio Mane.
Aksi Sadio Mane menuai pujian luas. Legenda Nigeria Daniel Amokachi menyebut winger Al Nassr sebagai duta besar sepak bola sejati. “Dia melangkah lebih jauh demi sepak bola, dan itu terbayar. Dia benar-benar sosok luar biasa,” kata Daniel Amokachi.
Mantan pemain Maroko Hassan Kachloul juga menilai sepak bola Afrika nyaris kehilangan segalanya sebelum Sadio Mane turun tangan. “Yang saya lihat, hanya Sadio Mane dari Senegal yang bertindak. Itu menunjukkan betapa besarnya dia sebagai pribadi,” ujarnya.
Bagi Sadio Mane, gelar ini terasa istimewa. Pemain berusia 33 tahun itu sebelumnya mengisyaratkan Piala Afrika 2025 akan menjadi turnamen terakhirnya bersama Senegal. Dia kini mengoleksi dua gelar AFCON setelah sebelumnya membawa Senegal juara pada edisi 2021.
Namun rekan setimnya, Pape Gueye, berharap Sadio Mane mengurungkan niat pensiun dari tim nasional. “Kami ingin mempertahankannya lebih lama. Dia masih punya banyak tahun hebat di depan. Dia legenda Senegal,” kata gelandang Villarreal itu.
Dari jalanan berdebu di Bambali hingga mengangkat trofi Piala Afrika dua kali, perjalanan Sadio Mane adalah kisah kepemimpinan, kerendahan hati, dan pengabdian pada sepak bola. Di final penuh drama ini, ia sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar bintang, tetapi simbol sejati sepak bola Afrika.
Baca Juga
AS Roma Libas Torino, Paulo Dybala Sumbang Gol dan Assist Keren

