Bagikan

Profil Liam Rosenior, Pelatih Baru Chelsea Pengganti Enzo Maresca

Poin Penting

Liam Rosenior resmi menandatangani kontrak hingga 2032 dan menjadi pelatih kulit hitam kedua dalam sejarah Chelsea setelah Ruud Gullit.
Sebelumnya, Liam Rosenior sukses melatih Hull City keluar dari zona degradasi, membawa Strasbourg lolos ke kompetisi Eropa setelah 19 tahun, serta dikenal adaptif dalam taktik.
Liam Rosenior menekankan penguasaan bola, serangan progresif, fleksibilitas formasi, dan pengembangan pemain muda, menjadikannya simbol generasi pelatih baru yang visioner.

LONDON, investortrust.id – Chelsea akhirnya menemukan sosok yang dipercaya untuk mengarahkan kapal besar mereka. Liam Rosenior, mantan bek kanan yang kini menjelma pelatih muda penuh visi, resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala The Blues dengan kontrak panjang hingga 2032.

Chelsea berpisah dengan Enzo Maresca secara baik-baik pada 1 Januari 2026 setelah menyumbangkan gelar juara Liga Konferensi UEFA 2024/2025 dan Piala Dunia Antarklub 2025.

Sejumlah nama masuk dalam daftar pengganti secepatnya mengingat jadwal The Blues sangat padat. Salah satu yang ramai dibicarakan adalah Liam Rosenior. Dia mulai dijadwalkan memimpin Chelsea pada laga putaran ketiga Piala FA melawan Charlton Athletic, akhir pekan nanti.

Baca Juga

Tinggalkan Strasbourg, Liam Rosenior Segera Diresmikan Jadi Pelatih Baru Chelsea

Liam Rosenior saat menjadi nakhoda Strasbourg. (www.instagram.com/rcsa)
Source: www.instagram.com/rcsa

“Saya merasa sangat terhormat dipercaya memimpin Chelsea. Klub ini punya identitas unik dan sejarah besar dalam meraih trofi. Tugas saya adalah menjaga roh itu sekaligus membangun tim yang mencerminkan nilai-nilai tersebut di setiap pertandingan,” ujar Liam Rosenior dalam pernyataan resminya di situs Chelsea.

Siapa dia? Liam Rosenior lahir di Wandsworth, hanya beberapa mil dari Stamford Bridge. Dia menjadi pelatih kulit hitam kedua dalam sejarah Chelsea, mengikuti jejak Ruud Gullit hampir tiga dekade silam.

Darah sepak bola mengalir deras dalam dirinya. Ayahnya, Leroy Rosenior, pernah memperkuat Fulham, QPR, dan West Ham sebelum beralih ke dunia kepelatihan. Dari lingkungan inilah Liam kecil tumbuh, menyerap ilmu taktik sejak usia 11 tahun.

Sebagai pemain, Liam Rosenior dikenal sebagai bek kanan yang konsisten, dengan lebih dari 400 penampilan di Liga Premier dan Championship. Kariernya melintasi Bristol City, Fulham, Reading, Ipswich Town, Hull City, hingga Brighton and Hove Albion, sebelum gantung sepatu pada 2018.

Seusai pensiun, Liam Rosenior langsung menapaki jalur kepelatihan. Dia sempat menjadi asisten Brighton U-23. Lalu, bergabung dengan Derby County sebagai staf Phillip Cocu. Perannya semakin besar ketika Wayne Rooney naik menjadi nakhoda. Kemudian, dipercaya sebagai pelatih interim dengan catatan tujuh kemenangan dari 12 laga.

Liam Rosenior saat masih menjadi anggota tim junior Inggris. (www.chelseafc.com)
Source: www.chelseafc.com

Hull City kemudian memanggilnya pada 2022. Dari posisi nyaris terdegradasi, Liam Rosenior membawa mereka aman dan bahkan finish di peringkat tujuh Championship.

Keberhasilan itu membuka jalan ke Ligue 1 bersama Strasbourg. Di sana, dia menorehkan sejarah. Dia membawa klub finish ketujuh dan lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 19 tahun.

Sebagai pelatih, Liam Rosenior dikenal sebagai sosok yang menekankan penguasaan bola dan serangan progresif. Strasbourg tercatat sebagai tim dengan jumlah umpan panjang paling sedikit di lima liga top Eropa, tanda jelas preferensi membangun serangan dari belakang.

Liam Rosenior saat menjadi asisten Wayne Rooney di Derby County. (www.chelseafc.com)
Source: www.chelseafc.com

Liam Rosenior juga fleksibel dalam taktik, berganti antara formasi empat bek dan tiga bek sesuai kebutuhan. Musim lalu, Strasbourg menjadi tim Ligue 1 dengan gol terbanyak dari situasi sepak pojok sekaligus kebobolan paling sedikit dari skema serupa.

Di usia 41 tahun, Liam Rosenior mendapat pujian luas atas kemampuannya mengasah talenta muda dan membangun etos tim yang solid. Nama-nama seperti Liam Delap, Fabio Carvalho, dan Tyler Morton berkembang pesat di bawah asuhannya.

Dengan rekam jejak yang impresif, Liam Rosenior datang ke Stamford Bridge bukan hanya sebagai pelatih baru, melainkan sebagai simbol generasi pelatih modern: adaptif, visioner, dan berani menantang tradisi.

Baca Juga

Gelandang Chelsea Enzo Fernandez Bersimpati pada Pemecatan Enzo Maresca

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024