Rencana Penerapan Salary Cap Liga Premier Menuai Kontroversi Pemain dan Klub
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Liga Premier berpotensi menghadapi konflik besar dengan para pemain jika tetap melanjutkan rencana penerapan salary cap (batasan gaji) yang akan dibahas dalam rapat pemegang saham pada 21 November 2025.
Rapat pemegang saham pada 21 November akan menjadi momen krusial yang menentukan arah kebijakan finansial Liga Premier ke depan, antara menegakkan prinsip keberlanjutan ekonomi atau mempertahankan daya saing global yang selama ini menjadikan kompetisi Inggris sebagai liga terkaya di dunia dengan salary cap.
Langkah tersebut memicu penolakan keras dari Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) yang mewakili para pemain. PFA bahkan mengancam akan menempuh jalur hukum bila kebijakan itu disahkan.
Baca Juga
Hadapi Piala Dunia 2026, Casemiro Sebut Brasil Masih Butuh Neymar
🔝 projected merit-based fixed salary as per @CIES_Football statistical model* 📊
— CIES Football Obs (@CIES_Football) November 12, 2025
🥇 #KylianMbappe 🇫🇷 €22.8m
🥈 #MohamedSalah 🇪🇬 €17.9m
🥉 #JudeBellingham 🏴 €17.5m
* Last year min, sporting level, % in starting 11 & position
Top 💯 👉 https://t.co/ZvJYD7iMXH#Neves 🇵🇹… pic.twitter.com/6HlojLzK0U
Menurut laporan The Times, PFA telah mengagendakan pertemuan dengan para kapten dari 20 klub peserta Liga Premier pekan depan, menjelang pemungutan suara resmi. Beberapa pemain tim nasional Inggris juga disebut telah diajak berdiskusi terkait dampak rencana tersebut.
Dalam terminologi olahraga, usulan batas gaji ini dikenal sebagai sistem anchoring. Ini akan membatasi total pengeluaran klub hanya hingga lima kali lipat dari jumlah uang yang diterima klub peringkat terakhir di klasemen dari hadiah dan hak siar Liga Premier.
Sebagai ilustrasi, pada musim 2023/24 Sheffield United yang finish di posisi ke-20 menerima sekitar £109,5 juta (Rp2,4 triliun). Maka, batas maksimal pengeluaran klub diusulkan sebesar £550 juta (Rp12,1 triliun).
Kedua klub besar Manchester, Manchester United dan Manchester City, telah menyatakan penolakan terhadap rencana tersebut. Mereka menilai kebijakan itu akan membatasi kemampuan finansial klub besar untuk bersaing di tingkat Eropa.
PFA juga menilai Liga Premier tidak menjalankan proses konsultasi sebagaimana mestinya dengan para pemain sebelum merumuskan kebijakan. Karena itu, jika aturan tersebut diterapkan, asosiasi berencana menggugat secara hukum.
“Jika langkah ini disahkan, beberapa klub akan langsung melanggar batasan tersebut dan dipaksa memangkas pengeluaran. Dampaknya akan langsung dirasakan para pemain,” ujar seorang pejabat PFA dikutip dari laporan tersebut.
Para penentang batas gaji menilai kebijakan ini akan merugikan daya saing internasional klub Inggris. Hampir separuh tim Liga Premier musim ini berpartisipasi di kompetisi Eropa. Batasan pengeluaran internal justru bisa dianggap sebagai bentuk self-sabotage ekonomi.
CEO PFA Maheta Molango mengakui bahwa tekanan publik ikut memperkeruh perdebatan, karena banyak suporter menilai gaji pemain sepak bola kini terlalu tinggi. Tapi, Molango menegaskan persepsi itu tidak sepenuhnya benar.
“Gaji para bintang Liga Premier memang sangat tinggi, tapi mereka tidak mewakili mayoritas pesepak bola profesional. Banyak pemain di League One atau League Two memiliki karier pendek dan kontrak tidak menentu,” ujar Molango.
Baca Juga
Mungkinkah Phil Foden, Jude Bellingham, Harry Kane Main Bareng? Ini Kata Thomas Tuchel
🔺 EXCLUSIVE: The Premier League could find itself at war with its own players if it brings in a salary cap, with the PFA meeting all 20 top-flight captains before a vote on the ‘anchoring’ rule.
— Times Sport (@TimesSport) November 12, 2025
Full story by @Lawton_Times and @martynziegler ⬇️https://t.co/ND2MD5igvv

