Seri Musik Rock Dunia, John ‘Bonzo’ Bonham si Pemilik Ketukan Aneh di Led Zeppelin
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Bagi generasi baby boomers hingga Gen Y, nama grup musik Led Zeppelin bisa jadi akan menjadi nama kelompok musik cadas yang akan mereka sebut pertama, jika harus menyebut satu-persatu nama yang mereka kenal dan mereka ingat.
Buat generasi milenial yang belum kenal, Led Zeppelin adalah grup musik rock legendaris asal Inggris yang dibentuk di London pada tahun 1968 oleh Jimmy Page si gitaris, dan John Paul Jones pada bass dan keyboard. Belakangan mereka tertarik dengan suara khas Robert Plant dan mengajaknya untuk bergabung untuk melanjutkan proyek The Yardbirds yang ditinggal mati vokalisnya, termasuk para gitarisnya yang hengkang. Menariknya, John Bonham bukanlah drummer yang menjadi pilihan Jimmy Page, sampai akhirnya si Robert "Planty" Plant mengatakan, "Kalau mau cari drummer, Bonham-lah yang terbaik di dunia."
Pada akhirnya Jimmy Page dan John Paul Jones benar-benar kepincut dengan gaya ketukan Bonham, dan memastikan bahwa Bonham adalah drummer The Yardbirds, yang pada akhirnya bermutasi menjadi Led Zeppelin, sebuah nama yang melegenda sebagai kelompok band cadas dunia.
Mereka mulai dikenal luas lewat album-album awal yang sukses besar, terutama “Led Zeppelin IV” yang dirilis pada tahun 1971. Album ini memuat salah satu lagu paling ikonik dalam sejarah musik rock, “Stairway to Heaven”, yang sering dianggap sebagai mahakarya mereka.
Banyak yang menyebut keistimewaan Led Zeppelin ada pada kemampuan memadukan berbagai genre seperti rock, blues, folk, dan hard rock dengan aransemen yang kompleks, permainan gitar yang inovatif, range oktaf vokal yang tinggi, serta ritme drum yang kuat dan bertenaga.
Mereka juga dikenal sebagai pelopor sound heavy metal, meski karya-karya mereka sering kali menampilkan nuansa akustik dan eksperimen musik yang luas. Hingga kini, pengaruh Led Zeppelin terhadap musik rock modern masih terasa kuat, dan banyak band besar yang terinspirasi oleh gaya mereka.
Meskipun setiap anggota band memiliki bakat musik luar biasa, ada satu orang yang membangun fondasi kokoh bagi pertumbuhan grup, dia adalah John Bonham. Bonzo, demikian sapaan akrab awak band buatnya, punya fungsi yang unik dalam musik Led Zeppelin.
Fungsi drummer pada umumnya bertugas sebagai penjaga tempo layaknya metronom hidup, sekaligus membantu membangun dinamika. Sehingga drummer bisa saja bermain pelan untuk memberi nuansa lembut, atau keras untuk momen klimaks lagu. Perubahan volume, intensitas, dan teknik pukulan merekapun pada akhirnya bisa membentuk suasana yang dibangun dalam sebuah lagu.
Contoh metronom hidup boleh lah kita sebut Charlie Watts, si penabuh drum di The Rolling Stones. Simak saja lagu "(I Can’t Get No) Satisfaction" milik mereka yang rilis tahun 1965 dan sangat laris. Lagu ini dimainkan dengan pola drum yang cukup sederhana dengan jenis ketukan drum 4/4 straight rock beat. Artinya ketukan dasar rock di lagu ini dilakukan dengan snar drum di ketukan 2 dan 4, sementara hi-hat menjaga ritme konstan, dan bass drum mengikuti groove riff pada gitar.
Tidak banyak fill rumit yang dilakukan Watts di banyak lagu The Rolling Stones, karena selain menjaga ritme, ia ingin memberi ruang pada riff gitar yang fuzz dari Keith Richards yang dominan.
Inilah perbedaan tugas Watts dan Bonzo. John Bonham menjadikan perangkat drumnya sebagai instrumen ekspresif. Solo drum-nya bahkan memberikan fill (pola peralihan) dengan warna dan kejutan. Sehingga banyak kalangan menilai Bonham punya tugas dan fungsi yang jauh lebih luas. Dalam musik dan lagu-lagu Led Zeppelin, Bonham mampu memberikan ritme dan groove yang sangat khas pada masanya.
Alih-alih menjadi metronom, kendati masih tetap mampu menjaga tempo, Bonzo kerap ikut berfungsi sebagai pendukung riff gitar yang dimainkan oleh Page.
Contoh yang jelas terdengar pada lagu “Good Times Bad Times”, trek pembuka album debut Led Zeppelin. Bagi banyak orang, inilah perkenalan pertama mereka pada John Bonham, dan dari sekali dengar saja, gayanya sudah terlihat. Perhatikan bass drum di sepanjang lagu. Alih-alih memainkan bass secara bersih di setiap ketukan, Bonham menambahkan aksen triplet yang memperkaya ritme. Triplet adalah kelompok tiga nada yang dimainkan dalam panjang waktu yang biasanya diisi satu ketukan.
Aksen triplet pada buss drum bukanlah hal yang lazim saat itu, ketika double pedal pada bass drum belum dikenal dan belum lazim digunakan para drummer.
Cara Bonham memecah ritme dengan triplet ini memberi warna tersendiri pada groove. Meski teknik ini tidak sepenuhnya baru — Bonham banyak terinspirasi oleh musisi jazz seperti Gene Krupa dan Buddy Rich — hampir tidak ada drummer rock yang menerapkannya sebelum Bonham.
Jika dibandingkan, misalnya, dengan “Satisfaction” milik The Rolling Stones, kita bisa mendengar perbedaannya yang sangat kontras. Beat di “Satisfaction” terasa rapat dan berada di atas ketukan, memberi urgensi yang stabil.
Sedangkan di “Heartbreaker” milik Zeppelin, Bonham bermain-main dengan bass drum, menambahkan aksen-aksen kecil dan mengubah aliran setiap bar. Ritme yang lebih santai ini membantu band saling mengisi dan membangun groove khas. Bonham mendapatkan ide untuk groove sinkopasi seperti ini dari musik funk, terutama James Brown.
Ron Nevison, engineer yang bekerja di beberapa album Zeppelin, pernah mengatakan bahwa salah satu rahasia kekuatan band adalah bagaimana Bonham mengikuti gitar Jimmy Page.
“Dia akan mengambil riff gitar dan menjadikannya bagian drum-nya, bukannya hanya mengikuti bass.” Pendekatan ini membuat suara Zeppelin terasa rapat dan bertenaga. Contohnya terdengar jelas di “Immigrant Song”, “The Wanton Song”, dan “When the Levee Breaks”, di mana Bonham tetap selaras dengan riff gitar meski ada perubahan frasa.
Kekompakan ini sangat penting saat band mulai membuat musik dengan struktur yang lebih rumit. Di “Kashmir”, misalnya, beat drum berada di 4/4 sementara gitar dan string memainkan pola 3/4. Akibatnya, frasa drum dan string hanya bertemu di ketukan kuat setiap 12 ketukan. Perbedaan waktu ini menciptakan ketegangan yang berpadu dengan intensitas musik.
Ketukan lebih ekstrem ada di “Black Dog”, yang penuh permainan tanda birama dan frasa. Di bagian pra-refrein, riff gitar dan bass bergeser setengah ketukan di setiap pengulangan, menciptakan efek 9/8 di atas drum 4/4 Bonham. Meski terdengar seolah-olah tidak sinkron, semua anggota band bermain sangat terukur. John Paul Jones menyebutnya “stomp groove” — groove yang tak mungkin ada tanpa Bonham yang mengunci tempo dengan kokoh.
Salah satu permainan drum paling mengesankan ada di “Fool in the Rain”, yang merupakan favorit banyak penggemar.
Beat ini poliritmik, memadukan dua ritme sekaligus. Hi-hat memainkan triplet dengan bukaan-tutup tertentu, snare menambahkan ghost notes yang hampir tak terdengar, sementara bass dan snare memainkan shuffle halftime yang diayun. Di atas semua itu, piano dan gitar memainkan pola 12/8 di atas beat 4/4, menciptakan nuansa triplet sinkopasi yang sulit untuk tidak ikut terbawa.
John Bonham adalah drummer yang benar-benar unik. Fondasi ritmenya yang solid memungkinkan Led Zeppelin menciptakan musik-musik luar biasa. Bahkan John Paul Jones sempat menyampaikan 'respek yang sangat tinggi' pada kaki Bonzo. "Seriusan, saya sangat respek pada kakinya. Kemampuan kakinya membentuk ritme pada pedal bass drum memang luar biasa," tuturnya dalam sebuah dokumenter "Becoming Led Zeppelin" yang dirilis tahun ini oleh Bernard McMahon Film.
Hari-Hari Akhir Sang Drummer
Hari terakhirnya dimulai pada Rabu, 24 September 1980, di Old Hyde Farm, Worcestershire, sekitar 30 mil dari Birmingham, Inggris. Bonham memang telah membeli lahan seluas 100 hektare tersebut pada 1972 dan menjadikannya rumah bersama istri dan dua anaknya, Zoe dan Jason. Kehidupan di pedesaan dengan hewan ternak, koleksi mobil antik, serta motor kesayangannya menjadi surga pribadi baginya. Pagi itu, ia membantu ayahnya, Jack, memindahkan barang ke salah satu cottage di lahan tersebut. Dengan rencana tur Amerika Utara yang sudah dekat, Bonham ingin memastikan ayahnya sudah tinggal di Old Hyde sebelum ia berangkat. Bonzo sudah terlihat gelisah jelang keberangkatan tur Zeppelin berikutnya di tahun tersebut.
Bayang-bayang tur panjang membuat Bonham semakin gelisah. Bersama asisten pribadinya, Rex King, ia berangkat menuju studio latihan. Perjalanan seharusnya langsung ke Bray Studios, Windsor, tetapi Bonham meminta singgah di sebuah pub. Di sana ia menenggak empat gelas dobel screwdriver hanya dalam setengah jam, setara dengan sekitar satu setengah shot vodka per menit. Ketika King mengingatkan bahwa mereka mampir karena ia mengaku lapar, Bonham hanya menggigit sepotong sandwich ham dengan gaya sarkastik.
Sampai di studio sore hari, kondisinya sudah sangat mabuk. John Paul Jones mengenang bagaimana Bonham terus meneguk vodka dari botol, dan berulang kali jatuh dari kursi drum set-nya, sebelum sempat memainkan satu lagu penuh.
Robert Plant kemudian berkata, “let’s call it a day and sort it out tomorrow,” kode bagi mereka untuk mengakhiri sesi latihan. Bonham kemudian ikut Jimmy Page pulang ke Old Mill House, kediaman baru sang gitaris yang dibeli dari aktor Michael Caine.
Di sana, Bonham kembali menenggak tiga double vodka. Ia melampiaskan kegelisahan soal tur yang akan menjauhkannya dari keluarga.
Beberapa jam kemudian, ia tertidur di sofa. Rick Hobbs, asisten Page, kemudian membawanya ke kamar tamu, menidurkannya miring, dan menopang tubuhnya dengan bantal. Itulah terakhir kali Bonham terlihat hidup.
John Bonham, drummer legendaris Led Zeppelin, meninggal dunia pada 25 September 1980 di usia 32 tahun akibat pulmonary aspiration setelah sehari penuh mengonsumsi alkohol. Meski dikenal sebagai sosok liar dan penuh energi di panggung, hari-hari terakhirnya justru dipenuhi kecemasan, depresi, dan tekanan batin yang pada akhirnya tak sanggup ia tanggung.
Led Zeppelin secara resmi menyatakan bubar pada 4 Desember 1980, sekitar dua bulan setelah John Bonham meninggal dunia. "“Kami ingin menyatakan bahwa kehilangan sahabat tercinta kami, serta rasa kebersamaan yang tak terpisahkan yang kami rasakan bersama manajer kami, telah membuat kami memutuskan bahwa kami tidak dapat melanjutkan sebagaimana adanya,” demikian ditulis Jimmy Page mengenai sosok Bonzo yang tak mungkin tergantikan.
John Bonham ditahbiskan dalam daftar Rock and Roll Hall of Fame pada tahun 1995 sebagai anggota Led Zeppelin.

