Kantong Ekosistem Gajah Sumatera Hanya Tersisa 22, Kementerian Kehutanan Dorong Kolaborasi Multisektor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa kantong ekosistem gajah Sumatera di Indonesia hanya tersisa 22 wilayah hingga saat ini.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan, jumlah ini menyusut sejak tahun 1980-an, yang pada waktu itu mencapai 44 wilayah ekosistem.
“Itupun sudah tercabik-cabik, tidak tersambung antara ekosistem dengan ekosistem yang lain. Tidak ada koridor yang bisa menyatukan atau membuat mereka berhubungan,” ujar Raja dalam acara Konferensi Pers dan Pemutaran Film Dokumenter Berbagi Ruangbuntuk Bukit Tigapuluh di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Sejalan dengan hal tersebut, Raja membeberkan bahwa kementerian yang dipimpinnya itu mendukung upaya edukasi dan konservasi gajah di berbagai pelosok Indonesia, termasuk di Bukit Tigapuluh, Jambi. Menurut Raja, pemerintah saat ini telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama WWF-Indonesia, dalam upaya mengintensifkan konservasi gajah di Indonesia.
"Kami menyadari bahwa edukasi merupakan bagian penting dari pelestarian satwa liar dan kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan Permata Bank dalam bentuk film Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga habitat gajah. Khususnya pelestarian koridor hidupan liar gajah secara berkelanjutan agar populasi gajah bisa dijaga dan interaksi negatif dengan masyarakat juga bisa dihindari,” ungkap Raja.
Lebih lanjut, Raja mengakui dirinya memikul beban yang berat, namun ia merasa tertolong dengan kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem antara manusia dan gajah. Raja pun mengimbau kolaborasi yang lebih banyak lagi dari multisektor.
"Dan sekiranya inilah tantangan kita bersama, saya membuka pintu kantor saya selebar-lebarnya, pintu hati saya untuk bekerja sama dengan semua pihak yang memang memiliki komitmen dan keinginan untuk menyelamatkan gajah," ucap Raja.
Dalam kesempatan yang sama, Chief of Corporate Affairs & Sustainability Permata Bank Katharine Grace menuturkan, sebagai institusi keuangan yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Permata Bank percaya bahwa pelestarian lingkungan hanya dapat terwujud dengan peran aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk korporasi dan masyarakat.
"Melalui Film Dokumenter Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh, kami mengajak berbagai pihak dan lapisan masyarakat untuk turut berperan aktif menjaga kelestarian habitat Gajah Sumatra dan mencegah populasinya kritis. Dengan kolaborasi bersama, kita dapat mendukung upaya hidup yang harmonis dan sejahtera antara manusia dan satwa liar," jelas Katharine.
Sementara itu, Chief Executive Officer WWF-Indonesia Aditya Bayunanda menyebut, gajah Sumatra termasuk salah satu spesies yang memiliki status kritis menurut daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), dengan wilayah penyebaran di berbagai kantong hutan Sumatra, mulai dari Aceh, Riau, Jambi, hingga Lampung. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2020 mencatat populasi gajah antara 924 hingga 1.359 individu di 22 lokasi jelajah Gajah.
Menurut Aditya, populasi gajah terpaksa bersinggungan dengan warga lantaran tempat hidupnya mengalami alih fungsi. Pembangunan wilayah sudah seharusnya mengedepankan konsep berkelanjutan, dengan membagi ruang antara gajah dan warga setempat.
Dengan demikian, setiap penghuni ruang alam dapat menjaga keberlangsungan rantai kehidupan secara harmonis. Pola percontohan seperti ini sudah terimplementasi di lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi.
“WWF-Indonesia mengapresiasi komitmen Permata Bank yang berperan aktif dalam pelestarian lanskap Bukit Tigapuluh. Kerja sama ini bukan hanya memperkuat lanskap yang aman bagi gajah Sumatra, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam konservasi alam Indonesia,” terang Aditya.
Asal tahu saja, PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan komunitas untuk menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui peluncuran Film Dokumenter “Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh” di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Film ini merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem antara manusia dan gajah Sumatra, sekaligus mendorong partisipasi publik pada program Adopt a Tree, sebagai bagian dari inisiatif #DenganHati untuk Bukit Tigapuluh.

