Volume Ekspor Teh Indonesia Anjlok 60% dalam 20 Tahun, Juara Pengusaha Muda BRILiaN Ini Punya Solusinya
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia adalah negara penghasil teh terbesar ke-7 di dunia. Namun, ironisnya volume ekspor teh Indonesia justru menurun drastis 60%, dari 88.894 ton pada 2003 menjadi hanya 35.970 ton di 20 tahun kemudian. Sedangkan, ketergantungan pada impor teh meningkat tajam 140% dengan volume impor menurut BPS, dari 4.000 ton menjadi 9.605 ton. Demikian menurut data yang diambil dari Publikasi Statistik Teh Indonesia 2023.
Sementara tren konsumen global saat ini menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk teh premium, sehat, dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, mengembangkan varian teh dengan konsep yang menarik dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan daya tarik di pasar lokal maupun internasional. Pada tahun 2023 tercatat 56 negara yang menjadi pangsa pasar teh Indonesia.
Menurut data BPS (Susenas 2023), Indonesia berada di urutan ke-22 dalam konsumsi teh per kapita global, dengan rata-rata konsumsi per kapita hanya 0,38 kilogram per tahun.
Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan konsumsi teh pada pasar global terus menunjukkan pertumbuhan positif, meningkat dari 6,89 juta ton pada 2022 menjadi proyeksi 7,44 juta ton pada 2025. Nilai pasar teh dunia diperkirakan melonjak dari Rp 3.300 triliun pada 2022 menjadi sekitar Rp 4.000 triliun pada 2025, menciptakan peluang besar bagi negara-negara produsen teh.
Sumber: BPS
Ketua Umum Indonesian Gastronomy Community Ria Musiawan menilai, penurunan ekspor teh Indonesia sebagai tantangan yang cukup kompleks. Beberapa faktor yang berperan adalah berkurangnya luas lahan perkebunan, produktivitas yang stagnan, serta meningkatnya persaingan global. Selain itu, banyak petani teh menghadapi tekanan karena harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi.
Di sisi lain, tren konsumsi teh dalam negeri terus meningkat, tetapi justru diiringi dengan kenaikan impor teh dari negara lain. “Ini menunjukkan bahwa ada celah yang perlu kita perbaiki, baik dari segi kualitas, inovasi produk, maupun strategi pemasaran agar teh Indonesia bisa kembali bersaing di pasar ekspor,” ujarnya kepada Investortrust, Senin (17/3/2025).
Foto: Instagram/ria_musiawan
Sebagai negara dengan warisan teh yang kaya, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan keunikan teh, baik dari sisi cita rasa maupun cerita di baliknya. Langkah itu penting untuk menarik minat pasar global.
“Mungkin sudah saatnya industri teh kita lebih fokus pada produk bernilai tambah, seperti teh premium atau teh dengan konsep wellness, yang semakin diminati di pasar internasional,” ujar pecinta teh tersebut.
Baca Juga
Pertemuan Hangat Prabowo dan Anwar Ibrahim: Dari Penyambutan Adat hingga Jamuan Teh
Didirikan pada tahun 2014 oleh Neysa Valeria dan Ajeng Respati, Havilla Tea ingin berbagi apresiasi dan kecintaan terhadap teh kepada lebih banyak orang, khususnya generasi muda. Havilla yang berasal dari bahasa Ibrani yang berarti tanah yang subur ini ingin mengembalikan kejayaan ekspor teh nasional.
Tidak hanya mengandalkan teh berkualitas tinggi, usaha asal Bandung ini juga berinovasi dengan menciptakan signature blend yang unik. Dengan memadukan teh premium dengan rempah-rempah khas Indonesia seperti kelapa dan pepaya, mereka menghadirkan rasa yang baru dan mengejutkan.
“Kami ingin memberikan pengalaman minum teh yang berbeda. Teh Indonesia tidak hanya enak, tetapi juga bisa dieksplorasi dengan berbagai rasa yang khas,” ungkap General Manager Havilla Tea Irine Sugiarto kepada Investortrust di BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD, Tangerang, baru-baru ini.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Produk Havilla Tea hadir dalam dua pilihan utama yakni teh celup dan daun teh utuh (loose leaf).Beragam teh spesial yang dikurasi di antaranya black tea, green tea, oolong tea hingga white tea. Untuk harganya, kemasan kaleng loose leaf dibanderol Rp 140.000, sementara teh celup mulai dari Rp 15.000 per sachet. Produk ini sudah bisa ditemukan di berbagai supermarket, seperti Food Hall, Sarinah, serta beberapa kafe dan restoran di Jakarta dan Bandung.
Gayung pun akhirnya bersambut, Havilla Tea tampil sebagai juara 2 Pengusaha Muda BRILiaN 2020. "Mengikuti Pengusaha Muda BRILiaN ini sangat bermanfaat sekali. Kami mendapat ilmu yang fundamental untuk memperkuat dasar usaha. Kami bersyukur mendapat kesempatan dari BRI untuk mendapat mentoring sehingga dapat ditebarkan untuk kebaikan orang banyak," ucap Irine.
Sejak saat itu, Havilla Tea semakin dikenal dan mendapat berbagai peluang untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Havilla Tea bahkan sudah hadir di beberapa kafe dan restoran di Korea Selatan dan Washington, AS.
Mega, pelanggan Havilla Tea mengaku jadi suka minum teh sejak kenal dengan Havilla. "Kesekian jalinya beli teh Havilla senang sekali sama tehnya. Semenjak kenal kenal Havilla jadi suka ngeteh, apalagi variannya unik-unik rasanya tidak buat bosan. Kemasannya juga bagus," ucapnya.
Program Akselerasi
Pengusaha Muda BRILiaN merupakan program akselerasi untuk para pengusaha muda di Indonesia. Sebagai wadah untuk mewujudkan visi BRI dalam mendukung kemajuan UKM di Indonesia dengan program pengembangan sumber daya manusia yang unggul, melalui inovasi dan pemanfaatan kemajuan teknologi, sehingga UKM di Indonesia dapat naik kelas dan memiliki kualitas daya saing yang tinggi.
Foto: Dok. BRI
“Melalui Program Pengusaha Muda BRILiaN, BRI mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan mempersiapkan produk UKM untuk ekspor dan memperluas akses ke pasar internasional. Kami yakin program ini akan menciptakan pengusaha muda tangguh yang menjadi role model nasional dan internasional serta menginspirasi UKM lain untuk berkembang,” kata Direktur Commercial, Small, and Medium Business BRI Amam Sukriyanto.
Baca Juga
Perluas Jangkauan
Lebih lanjut, tahun ini, Havilla Tea memiliki rencana besar untuk memperluas jangkauan ke Eropa dan Amerika, dengan Belanda sebagai target utama. Pasalnya ada empat hal yang mendukungnya, yakni bahan berkualitas tinggi, dikurasi dan dibuat oleh spesialis teh bersertifikat, mendukung produsen lokal, serta bersertifikat standar keamanan pangan internasional - FSSC 22000.
Dengan kapasitas produksi mencapai 500 kilogram per bulan, Ajeng pun optimistis dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Omzetnya pun sekarang mencapai Rp 300 juta per bulan dan sudah melakukan ekspor Hong Kong hingga Perancis. Padahal usaha ini berawal dari modal Rp 50 juta.
“Teh memiliki daya tarik yang berbeda dari kopi. Tidak terlalu cepat naik, tetapi selalu ada peningkatan yang stabil. Kami percaya, teh adalah bagian dari budaya yang harus terus diwariskan dan dikembangkan. Dengan pendekatan yang tepat, teh Indonesia bisa menjadi kebanggaan dan dikenal luas di dunia internasional,” kata Irine.

