Siapa Bilang Indonesia Cuma Punya Batik?
JAKARTA, investortrust.id – Batik sudah begitu identik dengan Indonesia. Apalagi setelah seni kriya itu mendapat pengakuan resmi dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya bukan benda. Tetapi, siapa bilang seni kriya Indonesia cuma batik?
“Karya orang Indonesia itu banyak, bukan hanya batik. Ada ikat sumut dengan teknik tenun sederhana, kerajinan sulam, tapis lampung, dan seabrek seni kriya lainnya,” ujar Founder dan Creative Director Seratan Studio, Deya Ayu kepada investortrust.id.
Baca Juga
Konsumsi Fesyen Muslim RI Baru Segini, Menperin Bilang Begini…
Deya Ayu mengungkapkan hal itu di sela-sela workshop Pengolahan Serat Kayu Menjadi Aksesoris Fashion Eksklusif di Jakarta, Jumat (20/10/2023). Workshop tersebut merupakan rangkaian pameran Asta Karya Nusa yang dihelat Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Deya Ayu menjelaskan, Seratan Studio merupakan studio tekstil rumahan dan komunitas yang mengeksplorasi berbagai jenis tekstil buatan dalam negeri.
“Seratan Studio didirikan untuk memperkenalkan seni tekstil di Indonesia. Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa karya di Indonesia, termasuk seni kriya, itu banyak, bukan hanya batik,” tegas dia.
Seratan Studio, menurut Deya Ayu, telah menghimpun banyak peserta workshop yang secara berantai menyebarkan ilmu seni kriya atau kerajinan tangan kepada Masyarakat luas.
Dia menambahkan, peserta workshop umumnya orang kantoran yang ingin mencari hobi baru. Banyak pula perempuan berusia lanjut yang ingin membuat kerajinan tangan sendiri setelah masa pensiun.
“Banyak juga guru sekolah yang mengikuti pelatihan agar dapat memberikan pelajaran yang out of the box bagi muridnya,” tutur dia.
Baca Juga
Dikunjungi 633 Orang, Pameran Asta Karya Nusa Cetak Transaksi Rp 281,86 Juta
Fesyen Berkelanjutan
Deya Ayu mengemukakan, dalam memberikan edukasi, Seratan Studio menekankan pentingya fesyen dan seni berkelanjutan. “Masih banyak yang belum paham sustainable fashion atau sustainable art, terutama bagaimana caranya agar barang bekas bisa dibentuk sebagai art, sehingga tidak menjadi sampah,” papar dia.
Seratan Studio, kata Deya, juga fokus pada edukasi pemanfaatan limbah, terutama limbah pakaian yang dihasilkan berbagai macam keperluan, seperti tugas akhir sekolah jurusan kriya tekstil dan mode (fesyen) atau limbah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga
Pengusaha Produk Halal Diminta Manfaatkan Tren Gaya Hidup Sehat
“Limbah-limbah tersebut bisa dibuat menjadi berbagai macam produk ramah lingkungan, seperti sustainable fashion dan home décor melalui patchwork dan sulam,” ucap dia.
Deya mencontohkan, harga pewarna alam sangat mahal sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap isu keberlanjutan lingkungan.
Deya Ayu mengakui, seni kriya local Indonesia kurang diapresiasi di dalam negeri. Padahal, seni kriya menempati peringkat ke-3 ekonomi kreatif nasional setelah kuliner dan mode.
“Harapan kami, semoga seni kriya lebih diapresiasi dan didukung. Harusnya kita aware terhadap produk lokal karena tidak kalah kok dengan produk impor. Justru banyak produk kriya lokal yang diekspor,” tandas Deya. (CR-4)

