Kanker Serviks Tempati Urutan Kedua Sebagai Kanker Paling Berisiko bagi Wanita
JAKARTA, investortrust.id - Komisi IX DPR menyebut kanker leher rahim alias kanker serviks menduduki urutan kedua sebagai kanker paling berisiko bagi wanita setelah kanker payudara.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena mengungkapkan, lebih dari 40% perempuan Indonesia yang didiagnosis penyakit kanker ini meninggal.
"Dan biasanya sudah terdeteksi itu pada stadium lanjut. Dan setiap hari sekitar 57 wanita meninggal dunia akibat kanker serviks, setara dengan 2 sampai 3 wanita setiap jamnya meninggal," ujar Emanuel dalam kegiatan diskusi kesehatan yang bertajuk “Perempuan Indonesia Merdeka dari Bahaya Kanker Leher Rahim” di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (13/8/2024).
Sehubungan dengan hal tersebut, Emanuel menilai angka ini bukan merupakan angka yang kecil, sehingga dibutuhkan keseriusan bersama dari berbagai pihak untuk menanganinya dengan sungguh-sungguh.
"Angka ini yang sangat memprihatinkan, menuntut kita semua untuk bersama-sama bekerja keras mengubahnya. Untuk itu, upaya preventif dan kolaboratif yang kuat antar semua pemangku kepentingan sangat penting dalam rangka memberikan edukasi kanker leher rahim di Indonesia," ungkap Emanuel.
Pada kesempatan tersebut, Emanuel juga kembali menegaskan dukungan penuh dari Komisi IX DPR RI terhadap Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia untuk tahun 2023-2030.
Seperti yang diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan sejumlah lembaga penting, telah mengembangkan RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia untuk tahun 2023-2030. Salah satu prioritas dalam pilar aksi pemberian layanan dalam RAN ini adalah imunisasi.
Menurut Emanuel RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia untuk tahun 2023-2030 merupakan langkah strategis yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, pemerintah, swasta, organisasi masyarakat, hingga individu di level komunitas.
"Langkah ini merupakan langkah nyata komitmen kita untuk menyelamatkan perempuan Indonesia dari ancaman kanker leher rahim yang mematikan," kata Emanuel.
Emanuel menjelaskan, Komisi IX DPR RI telah memberikan perhatian serius dalam upaya penawaran kanker rahim di Indonesia, khususnya melalui imunisasi human papillomavirus (HPV).
Lebih lanjut, Emanuel menyebut, Komisi IX DPR RI konsisten mendorong perluasan program imunisasi HPV, yang kemudian pada tahun 2021, Komisi IX DPR RI mendesak Kemenkes untuk mempercepat imunisasi HPV menjadi program nasional.
"Dan tentu kami tentu akan mendukung langkah penuh Kemenkes RI yang telah memasukkan imunisasi HPV untuk seluruh anak perempuan sekolah dasar kelas 5 dosis 1 dan kelas 6 untuk dosis 2 dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS," jelas Emanuel.
Sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Yudhi Pramono mengungkapkan bahwa RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia untuk tahun 2023-2030 merupakan respons dari masyarakat yang komprehensif untuk mengeliminasi kanker leher rahim, memberdayakan perempuan, dan membangun masyarakat yang lebih sehat.
Yudhi menuturkan, dalam upaya eliminasi kanker leher rahim di Indonesia, setidaknya ada tiga strategi. Yang pertama adalah 90% anak perempuan dan laki-laki yang berusia 15 tahun menerima vaksinasi.
"Kemudian, 75% dari seluruh wanita usia 30 sampai 69 tahun menjalani screening dengan high performance test," kata Yudhi.
Selanjutnya yang ketiga, yakni 90% wanita yang teridentifikasi yang menderita lesi pra kanker serviks dan kanker menerima pengobatan sesuai standar.

