Biaya Healthcare Indonesia Naik Hingga 13,6%, Tertinggi di Asia
JAKARTA, investortrust.id - Praktisi Medis Yayasan Orangtua Peduli dr. Emira E. Oepangat memaparkan bahwa biaya healthcare di Indonesia telah naik 13,6% yoy dibandingkan dengan rata-rata biaya healthcare di negara Asia lainnya,yang berkisar 11,5%. Hal ini juga memengaruhi peningkatan klaim asuransi kesehatan.
Bukan hanya Asia, hal tersebut juga terjadi di Amerika Serikat, yang mana healthcare spending telah meningkat 5,1% pada tahun 2023 dan akan terus meningkat pada tahun 2024.
Lebih lanjut, dr Emira menjelaskan bahwa peningkatan biaya medis tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut survey yang dilakukan oleh perusahaan asuransi di Asia Pasifik, 81% menunjukkan peningkatan biaya disebabkan oleh overuse of care atau perawatan yang berlebihan, yang diakibatkan oleh tenaga medis yang merekomendasikan terlalu banyak layanan atau resep yang berlebihan.
Baca Juga
DPR Sebut UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan Kado Istimewa bagi Masyarakat Indonesia
Kemudian, 58% disebabkan oleh kebiasaan kesehatan yang kurang baik, kemudian faktor pendorong lain adalah kurangnya penggunaan layanan pencegahan penyakit sebesar 46%.
“Dari survey di asia pasifik, sama semua negara juga disampaikan bahwa 81% dari peningkatan biasa medis disebabkan overused of care atau perawatan yang berlebihan,” jelas dr Emira dalam Investor Trust Power Talk dengan tema “Pentingnya Layanan Kesehatan yang Layak dan Tepat bagi Publik di Jakarta, Rabu (31/7/2024).
Pada pandemi COVID-19, banyak dari karyawan yang telah menggunakan benefit kesehatan dan hal ini juga mempengaruhi inflasi medis yang meningkat disebabkan oleh peningkatan biaya alat medis dan obat, sejalan dengan terbatasnya ketersediaan alat medis tersebut.
Di Indonesia sendiri, ekosistem digital jaminan sosial dan kesehatan nasional yang dikelola oleh BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan Kesehatan) mendapatkan pengakuan atas praktik terbaiknya dalam pengelolaan jaminan sosial.
BPJS Kesehatan dikenal atas efisiensinya yang mana berhasil membayar sekitar 96 % dari total biaya mereka yang dicakup oleh jaminan sosial dan menangani sekitar 1 juta transaksi sehari dan telah berhasil mengurangi waktu respons pemberian layanan menjadi sekitar 30 menit.

