Jembatan Kaca di Langit Bromo Kuat dan Aman, Benarkah?
JAKARTA, investortrust.id – Jembatan kaca yang membentang di langit Bromo, persisnya di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Bromo Tengger Semeru (BTS), Jawa Timur membuat masyarakat penasaran terhadap kekuatan dan keamanan wahana wisata yang dibangun dengan investasi Rp 15,7 miliar tersebut.
Bukan apa-apa. Wahana wisata yang siap diresmikan pada awal 2024 itu menyegarkan kembali ingatan masyarakat di Tanah Air tentang objek wisata serupa, The Geong Hutan Pinus di Limpakuwus, Banyumas, Jawa Tengah.
Jembatan kaca di The Geong Hutan Pinus Limpakuwus memilki panjang sekitar 75 meter, tinggi 15 meter, dan lebar 118 cm. Nah, pada Oktober lalu, masyarakat dibuat heboh oleh insiden pecahnya kaca di salah satu bagian jembatan tersebut.
Baca Juga
Keren Abis! Ada Jembatan Kaca Rp 15,7 Miliar di Langit Bromo
Dalam insiden itu, seorang wisatawan lokal meninggal dunia dan sejumlah lainnya luka-luka karena jatuh dari atas jembatan setelah kaca yang dipijaknya pecah berhamburan.
Berdasarkan hasil penyelidikan Polres Banyumas, salah satu bagian jembatan kaca itu hancur di antaranya karena kerangka yang dilas tidak simetris dan bergelombang sehingga rawan pecah. Selain itu, bahan kaca terlalu tipis (tempered satu lapis setebal 12 mm atau 1,2 cm), padahal harusnya menggunakan kaca tempered laminated minimal dua lapis dengan total ketebalan setidaknya 3,6 cm.
Polres Banyumas menetapkan pemilik wahana jembatan kaca The Geong, Edi Suseno (63), sebagai tersangka. Edi diduga lalai karena tidak melibatkan ahli dan melakukan uji kelaikan saat membangun jembatan kaca tersebut.
Jembatan Kaca Bromo
Bagaimana dengan jembatan kaca di KSPN Bromo Tengger Semeru (BTS)? Berdasarkan penelusuran investortrust.id, jembatan kaca di KSPN BTS memiliki panjang 120 meter dengan tinggi 80 meter dan lebar 1,8-3,0 meter. Lantai kaca jembatan terdiri atas dua lapis, dengan ketebalan masing-masing 12 mm yang direkatkan menggunakan lapisan vinyl interlayer.
Menurut Kepala Balai Geoteknik Terowongan dan Struktur (BGTS) Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Fahmi Aldiamar, jembatan kaca yang melintang di atas lembah dan seolah melayang di awang-awang itu telah melalui uji beban (loading test) untuk memastikan performa struktur dan keamanan jembatan.
“Berdasarkan hasil pengujian itu, jembatan kaca di KSPN Bromo Tengger Semeru mampu memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi wisatawan setelah dioperasikan,” tegas Fahmi dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Minggu (25/12/2023).
Dari hasil uji beban itu, kata Fahmi Aldiamar, jembatan kaca di langit Bromo mampu memikul beban hingga 8,4 ton atau setara 100 orang. “Namun, dalam tahap operasional perlu dipertimbangkan kembali kepadatannya dari segi keamanan dan kenyamanan pengunjung,” tutur dia.
Diresmikan Awal 2024
Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP) Kementerian PUPR, J Wahyu Kusumosusanto mengungkapkan, jembatan kaca yang membentang seperti melintasi awan ini terletak di kawasan Seruni Point BTS. Progres fisik penataan kawasan Seruni Point hampir mencapai 100% dan siap diresmikan pada awal 2024.
Baca Juga
Apa ya Industri Pariwisata Indonesia Sudah Pulih? Ini Kata BPS
“Kementerian PUPR tengah merampungkan penataan KSPN BTS Tahap I. Proyek tahap I ini dibangun mulai September 2022 dengan investasi Rp 15,7 miliar. Kontraktor pelaksananya PT Sasmito, dengan konsultan manajemen konstruksi kerja sama operasi (KSO) PT Yodya Karya - Indah Karya,” kata dia.
Di sisi lain, Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dalam keterangan resminya mengemukakan, pembangunan infrastruktur di setiap KSPN dilakukan secara terpadu, baik dari segi penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih, pengelolaan sampah, maupun sanitasi. “Begitu pula dari sisi perbaikan hunian penduduk melalui rencana induk pembangunan infrastruktur,” ujar dia.
Menteri PUPR menekankan pentingnya ketersediaan infrastruktur untuk mendorong sektor pariwisata. “Di sektor pariwisata, pertama yang harus diperbaiki infrastrukturnya, kemudian amenities dan event, baru promosi besar-besaran. Kalau hal itu tidak disiapkan, nanti wisatawan cuma datang sekali dan tidak akan kembali lagi,” tandas Menteri Basuki.

