Jelang Kick-off, Klub Liga Premier Sudah Habiskan Rp52 Triliun di Bursa Transfer
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Klub-klub Liga Premier sudah menghabiskan sekitar £2,14 miliar (Rp52,12 triliun) pada bursa transfer musim panas 2026. Padahal, jendela perpindahan pemain masih terbuka lebih dari dua pekan sebelum jendela transfer ditutup.
Pengeluaran tersebut sudah melampaui total belanja sepanjang musim panas 2024 yang mencapai £1,98 miliar (Rp48,23 triliun), 2022 sebesar £1,94 miliar (Rp47,25 triliun), 2021 £1,13 miliar (Rp27,52 triliun), dan 2020 £1,32 miliar (Rp32,15 triliun).
Menurut data yang diberikan kepada BBC Sport oleh pendiri FootballTransfers.com, Paul Macdonald, hanya musim 2023 dengan £2,36 miliar (Rp57,48 triliun) dan musim panas 2025 dengan rekor £3,14 miliar (Rp76,48 triliun) yang masih berada di atas pengeluaran tahun ini. Dengan waktu bursa yang masih panjang, rekor belanja musim panas 2025 bahkan berpeluang kembali dipecahkan.
Baca Juga
Curiga Match Fixing di Piala AFF 2026, Asosiasi Sepak Bola Laos Gelar Investigasi
Kegilaan belanja tersebut juga menunjukkan semakin besarnya jarak finansial Liga Premier dengan kompetisi elite Eropa lainnya. Klub-klub Liga Premier sudah menggelontorkan £2,14 miliar (Rp52,12 triliun), jauh di atas Serie A yang menghabiskan £780 juta (Rp19,00 triliun), La Liga £515 juta (Rp12,55 triliun), Bundesliga £505 juta (Rp12,30 triliun), dan Ligue 1 £412 juta (Rp10,04 triliun).
Artinya, Liga Premier sudah menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan total belanja empat liga top Eropa tersebut jika digabungkan.
Chelsea menjadi klub paling royal dengan pengeluaran £348 juta (Rp8,48 triliun). Tottenham Hotspur berada di urutan berikutnya dengan £228 juta (Rp5,56 triliun), sedangkan Arsenal dan Manchester City masing-masing telah mengeluarkan £151 juta (Rp3,68 triliun). Chelsea, Tottenham, dan Manchester City bahkan sudah memecahkan rekor transfer klub masing-masing pada bursa kali ini.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kalangan klub elite. Aston Villa, Brentford, Brighton, dan Leeds United juga mencatatkan pembelian pemain termahal sepanjang sejarah klub pada musim panas ini.
Tiga klub promosi, Coventry City, Hull City, dan Ipswich Town, juga masuk dalam daftar tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan finansial untuk berbelanja semakin tersebar di seluruh kasta teratas sepak bola Inggris.
Jika menghitung seluruh transaksi sepanjang 2026, termasuk transfer Jorgen Strand Larsen ke Crystal Palace pada Januari, sebanyak 11 dari 20 klub Liga Premier sudah memecahkan rekor transfer mereka dalam satu tahun kalender.
Hal menarik lainnya adalah semakin besarnya transaksi antarklub Liga Premier. Sekitar £785 juta (Rp19,13 triliun) sudah digunakan untuk transfer pemain dari satu klub Liga Premier ke klub Liga Premier lainnya. Delapan dari 12 transfer terbesar Liga Premier musim panas ini bahkan terjadi di antara klub sesama kompetisi Inggris.
Tren tersebut bukan fenomena sesaat. Musim lalu, transaksi antarklub Liga Premier mencapai £1,29 miliar (Rp31,43 triliun), menjadi angka tertinggi untuk transfer domestik sejak 2016. Pada musim panas ini saja, transaksi antarklub Liga Premier sudah menyumbang hampir sepertiga dari seluruh pengeluaran transfer kompetisi.
Klub-klub yang tergabung dalam kelompok Big Six, yakni Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham, menjadi pemain utama dalam pasar domestik tersebut. Keenam klub itu sudah mengeluarkan £546,5 juta (Rp13,31 triliun) untuk membeli pemain dari klub Liga Premier di luar Big Six.
Musim lalu, angka tersebut mencapai rekor £647 juta (Rp15,76 triliun). Sejak musim panas 2016, hampir £3 miliar (Rp73,07 triliun) telah mengalir dari Big Six ke klub Liga Premier lainnya melalui biaya transfer.
Chelsea menjadi klub yang paling aktif dalam pasar domestik sejak musim 2016/2017 dengan total pengeluaran £867 juta (Rp21,12 triliun) dan menerima £683 juta (Rp16,64 triliun) dari transaksi dengan sesama klub Liga Premier.
Sejumlah transfer bahkan mengubah peta persaingan pemain dan klub. Morgan Rogers pindah dari Aston Villa ke Chelsea, sedangkan Elliot Anderson meninggalkan Nottingham Forest untuk bergabung dengan Manchester City. Keduanya merupakan pemain Inggris yang masuk skuad Piala Dunia 2026.
Mantan rekan setim di Newcastle United, Sandro Tonali dan Bruno Guimaraes, juga berpisah dan kini memperkuat dua klub rival London Utara, Tottenham dan Arsenal.
Dari tujuh transfer senilai lebih dari £100 juta (Rp2,44 triliun) dari klub Liga Premier non-Big Six ke anggota Big Six sejak 2016, tiga di antaranya terjadi pada musim panas ini melalui transfer Rogers, Anderson, dan Tonali.
Ada alasan olahraga sekaligus finansial di balik tingginya transaksi domestik tersebut. Pemain yang sudah terbukti mampu tampil di Liga Premier memberikan kepastian lebih besar bagi klub pembeli dibandingkan pemain yang baru datang dari kompetisi luar negeri.
Bagi klub penjual, transfer besar ke sesama klub Liga Premier juga memberikan keuntungan finansial yang signifikan. Pemasukan tersebut dapat memberikan ruang lebih besar untuk memenuhi aturan biaya skuad serta Profitability and Sustainability Rules (PSR), sekaligus membiayai perekrutan pemain baru.
Namun, nilai belanja kotor tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi keuangan klub. Klub-klub Liga Premier juga telah menerima £1,28 miliar (Rp31,18 triliun) dari penjualan pemain pada musim panas ini, sehingga total pengeluaran bersih kompetisi berada di kisaran £856 juta (Rp20,85 triliun).
Angka tersebut tetap jauh lebih tinggi dibandingkan liga elite Eropa lainnya. Serie A mencatat pengeluaran bersih £320 juta (Rp7,79 triliun). Sedangkan La Liga berada di angka £185 juta (Rp4,51 triliun). Sementara Bundesliga dan Ligue 1 justru menjadi kompetisi yang mencatatkan neraca transfer positif karena pemasukan dari penjualan pemain lebih besar dibandingkan pengeluaran.
Di Liga Premier, Chelsea menjadi klub dengan neraca transfer negatif terbesar, yakni £209,5 juta (Rp5,10 triliun), disusul Arsenal £111,6 juta (Rp2,72 triliun) dan Manchester City £92 juta (Rp2,24 triliun).
Pengeluaran besar Chelsea juga bukan fenomena baru. Dalam lima musim terakhir, akumulasi pengeluaran bersih The Blues mencapai sekitar £977 juta (Rp23,81 triliun), tertinggi di antara klub-klub yang dianalisis.
Sebaliknya, Newcastle United sudah memperoleh £226 juta (Rp5,51 triliun) dari penjualan pemain musim panas ini. Aston Villa mengantongi £199,5 juta (Rp4,86 triliun), sedangkan Nottingham Forest mendapatkan £123 juta (Rp3,00 triliun). Crystal Palace dan Sunderland juga mencatatkan neraca transfer positif.
Aston Villa saat ini memiliki surplus transfer terbesar sebesar £109,8 juta (Rp2,68 triliun), diikuti Newcastle £88,5 juta (Rp2,16 triliun) dan Nottingham Forest £71,8 juta (Rp1,75 triliun).
Besarnya perputaran uang tersebut memperlihatkan bagaimana klub-klub Liga Premier menggunakan strategi berbeda pada bursa transfer musim panas ini. Sebagian klub berani mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mengejar target, sementara klub lainnya memanfaatkan tingginya harga pemain untuk mendapatkan pemasukan besar dari penjualan.
Dengan total £2,14 miliar (Rp52,12 triliun), belanja Liga Premier memang masih terpaut cukup jauh dari rekor £3,14 miliar (Rp76,48 triliun) pada musim panas 2025. Namun, bursa transfer masih belum berakhir dan klub-klub Liga Premier terus menunjukkan daya beli yang tidak tertandingi kompetisi elite Eropa lainnya.
Baca Juga
Gila! Rp2,1 Triliun Jadi Gaji Tijjani Reijnders Jika Sepakat Main di Arab Saudi

