FIFA Minta Maaf Soal Polemik Penjualan Saham Piala Dunia
Poin Penting
|
ZURICH, investortrust.id – FIFA akhirnya mengakui adanya kesalahan dalam penanganan rencana kontroversial penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia. Federasi sepak bola dunia itu menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh anggota setelah proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) resmi dibatalkan.
Proposal FFE sebelumnya mengusulkan pembentukan perusahaan komersial yang mengelola hak bisnis seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri. Dalam skema tersebut, FIFA berencana melepas sekitar 20 persen saham perusahaan kepada investor swasta.
Targetnya, FIFA ingin menghimpun dana sebesar US$4,2 miliar (Rp68,9 triliun) melalui valuasi perusahaan mencapai US$20 miliar (Rp328 triliun). Investor utama yang disiapkan adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi milik Joshua Kushner.
Baca Juga
Kisah Gavin Lee, Pelatih Milenial Singapura Lawan Tangguh John Herdman
Namun, rencana tersebut memicu gelombang penolakan dari berbagai konfederasi dan liga dunia. Tekanan akhirnya memaksa Infantino menarik proposal itu pada akhir pekan lalu.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (5/8/2026), FIFA mengungkapkan Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom bersama jajaran manajemen yang menghadiri pertemuan puncak di Maroko kembali menegaskan dukungan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.
Namun, organisasi itu juga mengakui proses penyusunan proposal FFE dilakukan dengan cara yang keliru. FIFA menyatakan surat permintaan maaf telah dikirim kepada Dewan FIFA dan seluruh asosiasi anggota. Organisasi tersebut juga berjanji memperbaiki tata kelola agar kesalahan serupa tidak kembali terulang.
"Kesalahan yang terjadi telah diakui dan proses ini seharusnya ditangani dengan cara yang berbeda. FIFA berkomitmen memastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," bunyi pernyataan resmi FIFA di situsnya.
Selain menarik proposal, FIFA juga menegaskan FFE kini "tidak lagi menjadi agenda pembahasan". Organisasi itu juga memperingatkan akan mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dinilai menyerang integritas dan reputasi FIFA.
Di sisi lain, tekanan terhadap Infantino belum mereda. Asosiasi Liga-Liga Eropa (ECA) yang menaungi kompetisi seperti Liga Premier, La Liga, dan Serie A kembali mendesak reformasi tata kelola FIFA. Mereka menilai proposal FFE sebagai langkah berbahaya yang memunculkan pertanyaan serius mengenai proses pengambilan keputusan di tubuh FIFA.
"Lebih dari sebelumnya, FIFA membutuhkan reformasi tata kelola yang memastikan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran resmi dalam setiap keputusan yang menentukan masa depan sepak bola," bunyi pernyataan ECA.
Legenda Portugal sekaligus mantan bintang Real Madrid, Luis Figo, bahkan secara terbuka meminta Infantino mengundurkan diri karena dinilai telah merusak martabat jabatan Presiden FIFA.
Tekanan juga datang dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney. Dia menyatakan sudah tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Infantino karena menganggap sang presiden melakukan kegagalan fatal dalam tata kelola dengan tidak berkonsultasi kepada para penasihat senior sebelum mengajukan proposal tersebut. "Saya jelas tidak lagi memiliki kepercayaan kepada Tuan Infantino," kata Carney.
FIFA juga membantah laporan media Inggris yang menyebut Infantino menjanjikan Maroko sebagai tuan rumah final Piala Dunia 2030 demi memperoleh dukungan politik. Menurut FIFA, keputusan mengenai lokasi partai final akan ditentukan melalui mekanisme resmi pada waktunya.
Krisis ini semakin memperbesar tekanan terhadap Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret mendatang. Presiden asal Swiss tersebut berambisi mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat sekaligus terakhir, tetapi dukungan terhadap kepemimpinannya kini terus terkikis setelah UEFA, Concacaf, hingga sejumlah tokoh sepak bola dunia menyuarakan kritik terbuka.
Baca Juga
Bayar Rp198 Miliar, Newcastle United Tunjuk Matthias Jaissle Gantikan Eddie Howe
