Terkait Perusahaan Judi Rusia Jadi Alasan Andrea Pirlo Dicoret dari Bursa Pelatih Italia
Poin Penting
|
ROMA, investortrust.id – Harapan Andrea Pirlo untuk menangani Italia pupus di tengah kontroversi. Legenda Gli Azzurri itu dipastikan tidak lagi masuk dalam daftar kandidat pelatih setelah hubungan profesionalnya dengan perusahaan taruhan asal Rusia, Fonbet, menuai gelombang kritik di Italia.
Dalam beberapa hari terakhir, nama Pirlo sebenarnya disebut sebagai calon terdepan pengganti Gennaro Gattuso. Meski Asosiasi Sepak Bola Italia (FIGC) belum mengumumkan keputusan resmi, media-media setempat meyakini penunjukannya tinggal menunggu waktu.
Namun, situasi berubah setelah sejumlah politikus mempertanyakan keputusan FIGC karena Pirlo diketahui menjadi duta global Fonbet sejak Oktober tahun lalu. Perusahaan tersebut dikaitkan dengan berbagai kegiatan olahraga di Rusia, termasuk acara yang melibatkan tokoh-tokoh pendukung Kremlin.
Baca Juga
Erick Thohir Sebut Mitchell Baker Jadi Solusi Baru Lini Depan Timnas Indonesia
Kontroversi itu membuat peluang Pirlo menangani Gli Azzurri sirna. Melalui unggahan di Instagram, mantan gelandang AC Milan, Juventus, Inter Milan, dan Italia tersebut akhirnya memberikan klarifikasi. "Setelah mengetahui tadi malam bahwa saya tidak lagi menjadi kandidat pelatih Italia, saya merasa memiliki kewajiban untuk menjelaskan beberapa hal," tulis Pirlo.
Pirlo mengaku sedih melihat namanya menjadi bahan perdebatan publik dalam beberapa hari terakhir. "Selama beberapa hari terakhir, saya menyaksikan dengan sangat kecewa perdebatan yang terus bergulir mengenai diri saya," beber Pirlo.
Pirlo menegaskan kerja samanya dengan Fonbet sama sekali tidak memiliki muatan politik. Menurut dia, hubungan tersebut murni bersifat profesional ketika masih melatih United FC di Dubai. "Kerja sama profesional yang saya jalani sebagai pelatih United FC di Dubai murni bersifat komersial dan olahraga," lanjut Pirlo.
Pirlo juga membantah anggapan bahwa kolaborasi tersebut mencerminkan pandangan politik pribadinya. "Memberikan makna politik terhadap kerja sama itu sama saja dengan menuduhkan kepada saya keyakinan yang tidak pernah saya ungkapkan dan bukan merupakan bagian dari diri saya," tegas Pirlo.
Penolakan terhadap Pirlo datang dari berbagai pihak. Politikus Partai Azione, Carlo Calenda, menilai siapa pun yang masih mempromosikan Rusia setelah 2022 tidak layak memegang jabatan di tim nasional. "Siapa pun yang sedang atau pernah mempromosikan Rusia setelah 2022 seharusnya tidak menduduki jabatan di tim nasional," ujar Calenda, dilansir BBC.
Wakil Presiden Parlemen Eropa, Pina Picierno, juga mengkritik wacana penunjukan Pirlo. Menurut dia, sepak bola Italia membutuhkan perubahan menyeluruh dari sisi budaya, etika, hingga tata kelola, sedangkan memilih Pirlo justru mengarah ke jalan yang berlawanan.
Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk Italia, Aleksey Paramonov, justru menyatakan dukungannya kepada Pirlo. Dia mengaku prihatin melihat legenda sepak bola Italia tersebut dikucilkan di negaranya sendiri meski telah memberikan kontribusi besar bagi dunia sepak bola.
Kontroversi mengenai Fonbet semakin menguat setelah Pirlo menghadiri acara perusahaan itu di Stadion Luzhniki, Moskow, pada musim semi lalu. Dalam kegiatan tersebut dia tampil bersama mantan rekannya, Marco Materazzi, serta sejumlah tokoh yang dikenal mendukung Kremlin.
Atlet skeleton Ukraina, Vladyslav Heraskevych, menjadi salah satu pihak yang mengecam keras kehadiran Pirlo dalam acara tersebut. "Sangat menyedihkan melihat para legenda masa kecil berubah menjadi orang yang kehilangan integritas moral," kata Heraskevych.
Situasi ini semakin memperpanjang ketidakpastian di tubuh Italia yang masih mencari pelatih baru seusai kembali gagal lolos ke Piala Dunia. Sebelum mengarah kepada Pirlo, FIGC juga sempat mencoba mendekati Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti, namun keduanya menolak.
Media-media Italia kini menyebut Antonio Conte dan Roberto Mancini sebagai dua kandidat terkuat untuk memimpin Gli Azzurri pada periode berikutnya.
Baca Juga
Marc Klok Minta Timnas Indonesia Langsung Fokus ke Timor Leste
