Mengapa Dunia Menangisi Ronaldo?
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu
“Dunia tidak sedang menangisi kekalahan Portugal. Dunia sedang mengucapkan terima kasih kepada seorang legenda yang selama lebih dari dua puluh tahun membuat sepak bola terasa lebih atraktif.”
JAKARTA, Investortrust.id — Ketika peluit panjang berbunyi di Stadion AT&T, Arlington, Amerika Serikat, Selasa (07/07/2026) dini hari WIB, dunia seolah berhenti bernapas. Tidak ada lagi teriakan kemenangan. Tidak ada lagi selebrasi “Siuuu” yang selama lebih dari dua dekade menjadi gema paling ikonik di stadion-stadion sepak bola dunia. Yang terlihat hanyalah seorang pria berusia 41 tahun berdiri beberapa saat di tengah lapangan, menatap kosong ke arah langit, sebelum akhirnya menundukkan kepala dan membiarkan air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.
Cristiano Ronaldo menangis. Portugal baru saja kalah 0-1 dari Spanyol pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Bersamaan dengan kekalahan itu, berakhir pula perjalanan internasional seorang pemain yang selama bertahun-tahun menjadi simbol sepak bola modern. Malam itu, yang berakhir bukan sekadar pertandingan. Yang berakhir adalah sebuah zaman.
Tidak banyak atlet yang mampu membuat miliaran orang ikut bersedih ketika mereka gagal. Lebih sedikit lagi yang mampu membuat para penggemarnya merasa kehilangan, padahal mereka masih hidup, masih sehat, dan mungkin masih akan bermain di level klub. Ronaldo termasuk di antara sedikit manusia itu. Air matanya bukan sekadar ekspresi kekalahan. Air mata itu adalah bahasa yang dimengerti oleh siapa pun yang pernah mengejar impian dengan seluruh jiwa, tetapi harus menerima kenyataan bahwa tidak semua impian dapat digenggam, betapapun keras perjuangan telah dilakukan.
Sepanjang kariernya, Ronaldo hampir selalu tampil sebagai sosok yang tak tergoyahkan. Ia berlari lebih cepat daripada banyak pemain yang lebih muda, melompat lebih tinggi daripada sebagian besar bek, mencetak gol dengan kaki kanan, kaki kiri, sundulan, tendangan bebas, bahkan dari sudut-sudut yang nyaris mustahil. Ia membangun citra sebagai manusia yang hampir tidak mengenal kata menyerah. Karena itulah, ketika dunia melihat Cristiano Ronaldo menangis, yang runtuh bukan hanya seorang pesepak bola. Yang runtuh adalah bayangan tentang seorang manusia yang selama ini tampak kebal terhadap luka.
Air mata itu menjadi begitu mahal karena Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen biasa baginya. Sejak jauh hari, Ronaldo telah memberi isyarat bahwa inilah panggung Piala Dunia terakhirnya. Pada usia 41 tahun, ia memahami bahwa ada satu lawan yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun: waktu. Kecepatan boleh dilatih. Otot boleh diperkuat. Teknik dapat terus diasah. Mental bisa ditempa. Namun usia berjalan tanpa pernah meminta izin kepada manusia.
Karena itulah, ia datang ke Amerika Utara bukan hanya sebagai kapten Portugal. Ia datang membawa mimpi terakhir yang belum pernah berhasil diwujudkannya: Piala Dunia bagi Portugal sebagaimana diraih Lionel Messi untuk Argentina pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Baca Juga
Gagal Lagi, Inilah Statistik dan Rekor Cristiano Ronaldo di Piala Dunia
Selama lebih dari dua puluh tahun, Cristiano Ronaldo telah memenangkan hampir semua yang bisa dimenangkan seorang pesepak bola. Lima Ballon d’Or menghiasi lemari prestasinya. Lima gelar Liga Champions Eropa menjadi saksi dominasinya di level klub. Ia membawa Portugal menjuarai Euro 2016, gelar internasional pertama dalam sejarah negaranya, kemudian mengangkat trofi UEFA Nations League. Ia memecahkan rekor demi rekor, menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa di level internasional, melampaui seribu pertandingan profesional, dan mendekati seribu gol resmi sepanjang kariernya. Tidak berlebihan jika banyak pengamat menempatkannya sebagai salah satu Greatest of All Time atau GOAT dalam sejarah sepak bola.
Namun, di antara semua trofi, medali, dan penghargaan itu, selalu ada satu ruang kosong yang belum pernah terisi: trofi Piala Dunia. Barangkali ruang kosong itulah yang membuat air matanya malam itu terasa begitu berat.
Ia tentu tidak datang ke Piala Dunia sekadar untuk menikmati suasana. Ia datang untuk memberikan persembahan terakhir kepada Portugal, negeri kecil di Semenanjung Iberia yang telah membesarkan namanya. Ia ingin menutup perjalanan internasionalnya dengan cara yang paling indah: mengangkat trofi yang selama ini hanya bisa dipandang dari kejauhan.
Kalaupun takdir berkata lain, ia mungkin berharap perpisahan itu terjadi di partai final, ketika seluruh dunia berdiri memberikan tepuk tangan kepada seorang legenda. Bukan di babak 16 besar, ketika perjalanan harus berhenti lebih cepat daripada yang dibayangkan.
Namun, sepak bola tidak pernah menjanjikan akhir yang indah bagi setiap pahlawannya. Permainan yang dicintai miliaran manusia itu justru sering menjadi panggung bagi ironi terbesar. Johan Cruyff tidak pernah mengangkat Piala Dunia. Ferenc Puskás gagal menjadi juara dunia. Roberto Baggio dikenang karena penalti yang melambung di Pasadena. Zico, Michel Platini, George Best, Alfredo Di Stéfano—masing-masing memiliki kisah yang mengajarkan bahwa kehebatan seorang pemain tidak selalu diukur dari satu trofi.
Kini, Cristiano Ronaldo masuk ke dalam daftar itu. Namun, justru di situlah letak kebesaran olahraga. Nilai seorang legenda tidak pernah hanya ditentukan oleh apa yang berhasil ia menangkan, melainkan juga oleh bagaimana ia memperjuangkan impiannya hingga detik terakhir.
Ronaldo telah melakukan itu. Selama lebih dari dua dekade ia tidak pernah berhenti mengejar kesempurnaan. Ia terus berlari ketika banyak pemain seangkatannya sudah pensiun. Ia tetap menjaga tubuhnya dengan disiplin yang nyaris tanpa kompromi. Ia masih berlatih dengan intensitas yang sama ketika sebagian besar pemain seusianya telah menjadi pelatih, komentator, atau menikmati masa pensiun.
Mungkin itulah sebabnya dunia tidak sekadar menghormati Cristiano Ronaldo. Dunia mencintainya. Bukan karena ia selalu menang. Bukan karena ia memiliki koleksi trofi yang luar biasa.
Melainkan karena ia mengajarkan satu hal yang semakin langka pada zaman serba instan ini: bahwa kebesaran tidak dibangun dalam semalam. Kebesaran lahir dari ribuan pagi ketika seseorang memilih bangun lebih awal daripada orang lain, dari ribuan sore ketika ia memilih tetap berlatih sementara yang lain sudah pulang, dan dari ribuan malam ketika ia menolak menyerah meski tubuhnya memohon untuk berhenti.
Air mata yang jatuh di Arlington itu sesungguhnya bukan hanya milik Cristiano Ronaldo. Air mata itu adalah air mata setiap manusia yang pernah berjuang sekuat tenaga, tetapi tetap harus berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua mimpi berakhir seperti yang diharapkan.
Karena itu, ketika Ronaldo menangis, dunia pun ikut menangis. Bukan karena Portugal kalah. Bukan semata karena seorang pemain gagal meraih Piala Dunia. Melainkan karena pada malam itu, miliaran orang sadar bahwa mereka baru saja menyaksikan detik-detik terakhir dari sebuah era yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.
Kegetiran Bukan Alasan untuk Menyerah
Air mata yang jatuh di Arlington sesungguhnya telah mulai mengalir jauh sebelum Cristiano Ronaldo mengenal gemerlap stadion, jutaan penonton, dan tepuk tangan dunia. Air mata itu berawal dari sebuah rumah sederhana di Funchal, Pulau Madeira, Portugal. Di rumah yang sempit itulah Ronaldo lahir pada 5 Februari 1985 sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, José Dinis Aveiro, hanyalah seorang pekerja taman kota yang juga menjadi pengurus perlengkapan sebuah klub sepak bola kecil. Ibunya, Maria Dolores dos Santos, bekerja sebagai juru masak untuk membantu keluarga bertahan hidup.
Kemiskinan bukan sekadar cerita dalam keluarga Ronaldo. Kemiskinan adalah kenyataan yang mereka jalani setiap hari. Bertahun-tahun kemudian, sang ibu mengungkapkan sebuah pengakuan yang mengejutkan dunia. Ketika mengandung Cristiano, ia sempat ingin menggugurkan kandungannya. Bukan karena tidak mencintai anak itu, melainkan karena merasa keluarga mereka sudah terlalu miskin untuk membesarkan seorang anak lagi. Dokter menolak permintaan tersebut. Keputusan itulah yang kemudian mengubah sejarah sepak bola dunia.
Tidak ada seorang pun yang membayangkan bahwa bayi yang nyaris tidak pernah lahir itu kelak akan menjadi salah satu manusia paling terkenal di muka bumi.
Sejak kecil Ronaldo telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap sepak bola. Bola seolah menjadi sahabatnya. Ketika anak-anak lain berhenti bermain menjelang senja, Ronaldo masih ingin terus mengejar bola. Ketika teman-temannya merasa puas setelah mencetak satu atau dua gol, Ronaldo selalu ingin mencetak lebih banyak lagi. Bahkan sejak usia sangat muda, ambisi itu sudah terlihat jelas.
Pada usia 12 tahun, ia meninggalkan Madeira menuju akademi Sporting CP di dekat Lisboa. Keputusan itu bukan perkara mudah. Untuk pertama kalinya ia harus hidup jauh dari keluarga. Ia sering menangis karena rindu rumah. Namun kerinduan itu tidak pernah membuatnya menyerah. Sebaliknya, kesepian justru ditempanya menjadi kekuatan.
Cobaan lain datang ketika dokter mendiagnosis Ronaldo mengalami takikardia, gangguan irama jantung yang berpotensi mengakhiri impiannya sebagai pesepak bola. Banyak anak seusianya mungkin akan patah semangat. Ronaldo memilih jalan berbeda. Ia menjalani operasi jantung, pulih, lalu kembali berlatih hanya beberapa hari kemudian. Seolah-olah tubuhnya berkata bahwa mimpi tidak boleh berhenti hanya karena rasa sakit.
Mungkin di situlah rahasia terbesar Cristiano Ronaldo. Ia tidak pernah membiarkan kesulitan menjadi alasan untuk menyerah. Setiap rintangan justru diubahnya menjadi bahan bakar untuk bekerja lebih keras.
Ketika bergabung dengan Manchester United pada usia 18 tahun, dunia mulai melihat bakat luar biasanya. Tetapi orang-orang yang berada paling dekat dengannya melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada bakat.
Sir Alex Ferguson melihat seorang anak muda yang haus belajar. Ferguson pernah mengatakan bahwa dalam enam tahun melatih Ronaldo, ia menyaksikan perkembangan yang hampir tidak masuk akal. Setiap musim Ronaldo datang sebagai pemain yang lebih matang daripada musim sebelumnya. Baginya, Ronaldo tidak pernah merasa dirinya sudah cukup baik.
Itulah sebabnya Ferguson berani memberikan nomor punggung keramat tujuh, nomor yang sebelumnya dikenakan para legenda Manchester United seperti George Best, Bryan Robson, Eric Cantona, dan David Beckham. Nomor itu bukan sekadar angka. Nomor itu adalah sebuah kepercayaan. Dan Ronaldo menjawab kepercayaan itu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh pemain besar.
Legenda Prancis, Zinedine Zidane, yang kemudian melatih Ronaldo di Real Madrid, memberikan kesaksian serupa. Menurut Zidane, hal paling mengagumkan dari Ronaldo bukanlah kemampuan mencetak golnya, melainkan kenyataan bahwa ia tidak pernah merasa puas. Setiap sesi latihan dijalaninya seperti pertandingan final. Setiap latihan adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada hari sebelumnya.
Kesaksian yang paling menarik justru datang dari rekan-rekan setimnya. Patrice Evra pernah menceritakan pengalaman yang kini hampir menjadi legenda di kalangan pemain Manchester United. Seusai latihan, Ronaldo mengundangnya makan siang di rumah. Evra membayangkan meja makan penuh hidangan lezat. Yang ia temukan hanyalah dada ayam tanpa lemak, salad, dan air putih. Setelah makan, Evra mengira mereka akan bersantai. Ronaldo justru mengajaknya berenang, bermain tenis meja, lalu kembali berlatih.
Sambil tertawa, Evra kemudian berpesan kepada pemain-pemain muda, “Kalau Cristiano mengundang kalian makan siang, jangan datang kalau tujuan kalian ingin bersantai.”
Cerita itu mungkin terdengar lucu. Tetapi di baliknya tersimpan pelajaran besar. Bagi Ronaldo, tidak ada hari libur untuk menjadi lebih baik.
Baca Juga
Sinyal Pensiun, Cristiano Ronaldo Tegaskan Piala Dunia 2026 Ajang Terakhir
Rio Ferdinand juga berkali-kali mengisahkan bahwa Ronaldo hampir selalu menjadi pemain pertama yang datang ke pusat latihan dan pemain terakhir yang pulang. Bahkan setelah memenangkan Ballon d’Or, ia tetap meminta teman-temannya mengirimkan umpan tambahan agar ia bisa terus melatih penyelesaian akhir. Status sebagai pemain terbaik dunia tidak pernah membuatnya berhenti menjadi murid.
Jose Mourinho, yang dikenal sebagai pelatih dengan standar tinggi, pernah menyebut Ronaldo sebagai pemain paling profesional yang pernah ia tangani. Gianluigi Buffon mengaku paling terkesan bukan oleh bakat Ronaldo, melainkan oleh obsesinya untuk terus berkembang. Sementara Zlatan Ibrahimović memberikan penilaian yang sangat menarik. Menurutnya, Lionel Messi adalah anugerah alam yang mungkin hanya lahir sekali dalam satu generasi. Ronaldo, sebaliknya, adalah bukti hidup bahwa latihan, disiplin, dan kerja keras dapat membawa seseorang mencapai puncak yang sama.
Pernyataan Zlatan itu mungkin merupakan salah satu penjelasan terbaik mengenai mengapa begitu banyak orang mencintai Cristiano Ronaldo. Messi sering dipandang sebagai keajaiban bakat. Ronaldo dipandang sebagai kemenangan kerja keras.
Karena itu, jutaan orang tua di berbagai negara lebih mudah menggunakan Ronaldo sebagai contoh ketika mendidik anak-anak mereka. Mereka tidak berkata kepada anak-anaknya, “Jadilah Ronaldo karena kamu akan memiliki bakat sepertinya.” Mereka berkata, “Belajarlah dari Ronaldo karena ia tidak pernah berhenti bekerja keras.”
Di era yang serba instan, Ronaldo mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas menuju keunggulan. Otot tidak dibangun dalam sehari. Ketahanan mental tidak lahir dalam semalam. Prestasi besar selalu merupakan hasil dari ribuan keputusan kecil yang diambil setiap hari: bangun lebih pagi, berlatih sedikit lebih lama, makan lebih sehat, tidur lebih disiplin, dan terus belajar ketika orang lain merasa sudah cukup.
Barangkali karena itulah Cristiano Ronaldo telah melampaui statusnya sebagai pesepak bola. Ia telah berubah menjadi simbol karakter. Simbol tentang bagaimana manusia dapat mengalahkan keterbatasan dirinya sendiri melalui disiplin yang nyaris tanpa kompromi.
Dan mungkin itulah sebabnya, ketika dunia melihat air mata mengalir di wajahnya malam itu, yang mereka lihat bukan hanya seorang pencetak gol terbesar. Mereka melihat seorang manusia yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar kesempurnaan, dan tetap memilih berjuang sampai peluit terakhir berbunyi.
Hati yang Lembut
Cristiano Ronaldo memiliki begitu banyak penggemar di seluruh dunia. Popularitasnya bahkan melampaui batas-batas sepak bola. Ia bukan hanya atlet dengan pengikut media sosial terbanyak di dunia. Ia telah menjelma menjadi simbol global tentang mimpi, kerja keras, dan keberanian untuk terus bangkit. Di berbagai penjuru dunia, anak-anak mengenakan nomor punggung tujuh bukan semata-mata karena mereka ingin mencetak gol seperti Ronaldo, tetapi karena mereka ingin menjadi seperti dirinya: berani bermimpi besar dan bersedia membayar harga untuk mewujudkannya.
Ironisnya, sosok yang di lapangan sering dianggap keras, emosional, bahkan arogan, justru menyimpan sisi kemanusiaan yang sangat lembut. Wajahnya mungkin terlihat garang ketika pertandingan berlangsung. Ia bisa marah kepada dirinya sendiri ketika gagal memanfaatkan peluang. Ia bisa berteriak kepada rekan setimnya ketika merasa permainan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua itu kerap membuat sebagian orang menyebutnya egois. Namun, mereka yang mengenalnya di luar lapangan sering menggambarkan Ronaldo sebagai pribadi yang hangat, penuh perhatian kepada keluarga, dan tidak ragu menggunakan ketenaran serta kekayaannya untuk membantu orang lain.
Indonesia memiliki kisah yang sangat istimewa dengan Cristiano Ronaldo. Setelah bencana tsunami melanda Aceh pada Desember 2004, dunia mengenal sosok Martunis, seorang bocah yang bertahan hidup selama hampir tiga pekan dengan mengenakan kaus tim nasional Portugal. Kisah itu menyentuh hati Ronaldo. Ia datang menemui Martunis, menjalin hubungan yang akrab dengannya, membantu pendidikan dan kehidupannya, bahkan mengundang Martunis berkunjung ke Portugal. Hubungan itu tidak berhenti sebagai pertemuan sesaat di depan kamera. Bertahun-tahun kemudian, Ronaldo tetap menjaga komunikasi dan memberikan dukungan kepada anak yang pernah menjadi simbol harapan di tengah tragedi tersebut.
Kepeduliannya juga terlihat ketika ia menjadi Duta Save the Children, mendukung Palang Merah Internasional, menggalang dana bagi korban perang dan bencana, serta aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ronaldo juga dikenal rutin mendonorkan darah dan sumsum tulang untuk membantu pasien leukemia. Ia bahkan menolak membuat tato di tubuhnya, salah satunya karena ingin tetap memenuhi syarat sebagai pendonor darah secara rutin. Tidak semua aksi kemanusiaannya dipublikasikan. Banyak yang baru diketahui publik bertahun-tahun kemudian dari orang-orang yang pernah menerima bantuannya.
Indonesia kembali menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaannya ketika Ronaldo bersedia menjadi Duta Forum Peduli Mangrove di Bali. Tanpa meminta bayaran, ia ikut mengampanyekan pelestarian hutan mangrove dengan pesan sederhana namun kuat: Save the Mangrove, Save the Earth. Bagi Ronaldo, ketenaran bukan sekadar sarana untuk menjual produk atau membangun merek pribadi. Ketenaran juga merupakan tanggung jawab moral untuk menyuarakan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.
Baca Juga
Kontroversi? Minim Kontribusi, Cristiano Ronaldo Man of the Match Lawan Kroasia
Mungkin di sinilah letak perbedaan antara Cristiano Ronaldo dan banyak atlet besar lainnya. Prestasi membuat seseorang terkenal. Karakter membuatnya dikenang.
Selama lebih dari dua puluh tahun, dunia memang menyaksikan ribuan gol indah yang lahir dari kaki dan kepalanya. Dunia menikmati tendangan bebas yang melengkung tajam, sundulan yang seolah menentang hukum gravitasi, serta selebrasi “Siuuu” yang ditirukan jutaan anak di berbagai negara. Namun, jika semua itu berhenti hari ini, yang akan tetap tinggal bukanlah sekadar angka-angka statistik.
Yang akan tinggal adalah cerita. Cerita tentang seorang anak miskin dari Madeira yang nyaris tidak pernah dilahirkan, tetapi kemudian mengubah sejarah sepak bola.
Cerita tentang seorang remaja yang rela meninggalkan keluarga demi mengejar mimpi. Cerita tentang seorang pemain yang menjalani operasi jantung, lalu kembali berlatih hanya beberapa hari kemudian.
Cerita tentang seorang atlet yang tetap datang paling pagi ke tempat latihan ketika ia sudah menjadi pemain terbaik dunia. Cerita tentang seorang ayah yang mencintai keluarganya. Cerita tentang seorang manusia yang percaya bahwa bakat hanyalah awal dari perjalanan, sedangkan kerja keraslah yang menentukan akhir cerita.
Karena itu, perdebatan mengenai siapa yang lebih hebat antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo mungkin tidak akan pernah selesai. Sepak bola memang beruntung pernah memiliki dua pemain luar biasa dalam satu generasi. Messi membuat dunia berdecak kagum melalui kejeniusan yang seolah mengalir secara alami. Ronaldo membuat dunia percaya bahwa manusia dapat mencapai tingkat kehebatan yang sama melalui disiplin, latihan tanpa henti, dan tekad yang nyaris tidak mengenal batas. Keduanya memilih jalan yang berbeda, tetapi sama-sama mencapai puncak sejarah.
Bagi banyak orang tua, Ronaldo bahkan lebih dari seorang pesepak bola. Ia adalah bahan pelajaran kehidupan. Ketika seorang ayah meminta anaknya bangun pagi untuk berlatih, ketika seorang ibu mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, ketika seorang guru mengajarkan bahwa keberhasilan tidak pernah datang secara instan, nama Cristiano Ronaldo sering kali muncul sebagai contoh. Ia membuktikan bahwa mimpi besar selalu menuntut pengorbanan yang besar pula.
Maka, ketika peluit panjang berbunyi di Arlington malam itu, dunia sesungguhnya tidak hanya mengantar pulang seorang pemain. Dunia sedang mengucapkan selamat tinggal kepada salah satu kisah paling menginspirasi dalam sejarah olahraga.
Portugal memang kalah. Piala Dunia tidak pernah berhasil singgah di tangan Cristiano Ronaldo. Namun, sejarah tidak pernah hanya ditulis oleh para juara. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang mengubah cara manusia memandang kehidupan.
Ronaldo telah melakukan itu. Ia mengubah cara orang memandang disiplin. Ia mengubah cara orang memandang kerja keras. Ia mengubah cara orang memandang kegagalan.
Ia menunjukkan bahwa menang bukanlah satu-satunya ukuran kebesaran. Ada kebesaran yang lahir dari keberanian untuk terus berdiri setelah jatuh, terus berlari ketika usia semakin menua, terus bermimpi ketika dunia mulai meragukan.
Karena itu, malam ketika Cristiano Ronaldo menangis bukanlah malam tentang kekalahan Portugal. Itu adalah malam ketika dunia menyadari bahwa mereka baru saja menyaksikan lembar terakhir dari sebuah kisah yang mungkin hanya lahir sekali dalam satu abad.
Dan barangkali, puluhan tahun dari sekarang, ketika anak-anak bertanya kepada ayah mereka, “Apakah Ayah pernah melihat Cristiano Ronaldo bermain?”, sang ayah akan tersenyum, menarik napas panjang, lalu menjawab dengan bangga, “Ya. Ayah pernah hidup pada zamannya.”
Cristiano Ronaldo mungkin gagal membawa pulang Piala Dunia. Namun ia pulang membawa sesuatu yang jauh lebih abadi: rasa hormat, cinta, dan inspirasi dari miliaran manusia. Sebab pada dasarnya, legenda tidak diukur dari banyaknya trofi yang diangkat, melainkan dari banyaknya kehidupan yang disentuhnya. Itulah sebabnya, ketika Ronaldo menangis, dunia ikut menangis.***
