Kenalkan Suzanne Huurman, Satu-satunya Dokter Perempuan di Piala Dunia 2026
Poin Penting
|
HOUSTON, investortrust.id – Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan cerita dari lapangan hijau, melainkan juga dari bangku tim medis. Di tengah dominasi pria di turnamen sepak bola terbesar di dunia, ada satu nama yang mencuri perhatian, yakni Suzanne Huurman.
Dari total 48 kepala tim medis di turnamen tahun ini, hanya ada satu Perempuan. Sisanya, 47 lainnya laki-laki. Kehadiran Huurman juga membuatnya tercatat sebagai dokter perempuan ketiga dalam sejarah 96 tahun Piala Dunia putra.
Sebelumnya, dokter perempuan pertama di Piala Dunia putra adalah Celeste Geertsema yang mendampingi Selandia Baru pada turnamen 2010 di Afrika Selatan. Sementara dokter tim Jerman, Silja Schwarz, menjadi sosok perempuan kedua yang bekerja di tim peserta Piala Dunia putra.
Baca Juga
Tampil Penuh Gaya, Belanda Hajar Swedia di Laga Kedua Piala Dunia 2026
Saat FIFA memberi tahu dirinya bahwa dia adalah satu-satunya kepala tim medis perempuan di Piala Dunia 2026, Huurman mengaku tidak terlalu memikirkannya. “Saya tidak menyadarinya pada awalnya karena sudah menjadi hal yang biasa bagi saya menjadi satu-satunya, atau salah satu dari sedikit perempuan, di dalam ruangan,” katanya, dilansir BBC Sport.
“Tapi saya berharap akan ada lebih banyak perempuan dalam waktu dekat karena ada banyak perempuan di luar sana yang sangat mampu,” tambah Huurman.
Perjalanan Huurman menuju Piala Dunia juga tidak biasa. Dokter kelahiran Brasil itu pernah bekerja di berbagai klub Eropa, seperti Real Madrid, PSV Eindhoven, dan Go Ahead Eagles. Dia juga menjadi kepala tim medis Belanda U-16 dan dokter tim nasional bola tangan putri Belanda.
Kini, Huurman mengemban tugas bersama Curacao, negara Karibia berpenduduk sekitar 158 ribu jiwa yang menjadi tim dengan populasi terkecil dalam sejarah Piala Dunia. Hebatnya, Curacao lolos ke Piala Dunia 2026 tanpa menelan satu pun kekalahan, dengan catatan tujuh kemenangan dan tiga hasil imbang.
Meski terbiasa bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki, Huurman mengakui tantangannya tidak sedikit. “Jika Anda menunjukkan bahwa Anda kompeten dan bagus dalam pekerjaan, mereka akan menerima Anda. Ini soal kualitas dan performa,” ujarnya.
“Tapi anda harus membuktikan diri. Sulit untuk masuk karena pada awalnya banyak orang yang berkata tidak mungkin. Bagaimana perempuan bisa bekerja di lingkungan laki-laki?” beber Huurman.
Bahkan di Curacao, Huurman menjadi satu-satunya perempuan dalam rombongan tim. “Seluruh staf asosiasi kami didominasi laki-laki. Kami bepergian dengan 49 orang, pemain dan staf, dan saya adalah satu-satunya perempuan,” lanjut Huurman.
Menurut Huurman, minimnya keterwakilan perempuan di sepak bola bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan tuntutan pekerjaan yang sangat berat. “Bukan hanya soal kemampuan. Ada perjalanan, gaya hidup, dan dampaknya terhadap kehidupan pribadi. Jika anda memiliki keluarga atau sedang hamil, anda harus absen dalam periode tertentu. Sulit menyesuaikannya dengan musim sepak bola profesional,” katanya.
“Bukan hanya di sepak bola, tetapi di seluruh dunia olahraga elite yang menuntut kesiapan 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu,” lanjut Huurman.
Huurman menyambut positif perubahan regulasi FIFA yang mewajibkan turnamen putri memiliki setidaknya satu staf medis dan satu pelatih perempuan. Dia berharap perubahan serupa suatu hari nanti juga dapat memperbesar peluang perempuan di sepak bola putra.
Untuk para perempuan yang bercita-cita bekerja di sepak bola profesional, Huurman memiliki pesan sederhana. “Saya mendengar jutaan kali bahwa saya tidak bisa melakukan ini karena saya seorang perempuan, terutama di sepak bola profesional,” ujarnya.
“Tapi, jika anda mampu membuktikan kualitas dan profesionalisme, Anda pasti bisa melakukannya,” tyambah Huurman.
Tentang peluang Curacao di Piala Dunia 2026, Huurman percaya diri. “Kami optimistis untuk dua pertandingan berikutnya. Mereka (para pemain) bahagia, fokus, dan di sepak bola anda tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi,” tutup Huurman.
Baca Juga
Hasil Pertandingan Piala Dunia 2026: Turkiye Ikuti Jejak Haiti, Tersingkir!
