Dari Juara Eropa ke Degradasi, West Ham United Hadapi Krisis Finansial
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Hanya kurang dari tiga tahun sejak ribuan suporter merayakan trofi UEFA Europa Conference League di jalanan London Timur, West Ham United kini justru harus menerima kenyataan pahit terdegradasi dari Liga Premier setelah 14 musim bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Keberhasilan mengalahkan Fiorentina 2-1 di final Liga Konferensi 2022/2023 sempat dianggap sebagai awal kebangkitan West Ham. Gelar tersebut mengakhiri penantian trofi selama 40 tahun dan memberi harapan baru setelah klub lama dilanda kontroversi sejak pindah dari Upton Park ke London Stadium pada 2016.
Namun, situasi berubah drastis hanya dalam waktu singkat. West Ham dipastikan turun ke Championship setelah gagal keluar dari zona degradasi pada pekan terakhir Liga Premier musim 2025/2026.
Baca Juga
West Ham sebenarnya masih memiliki peluang bertahan saat menghadapi Leeds United di laga terakhir. Namun, mereka wajib menang sambil berharap Everton mampu mengalahkan Tottenham Hotspur.
Harapan itu akhirnya pupus. Meski sempat unggul atas Leeds, hasil pertandingan lain tidak berpihak kepada mereka. Suporter yang sebelumnya menikmati suasana santai sebelum laga langsung meluapkan kemarahan kepada pemilik klub, David Sullivan, yang dianggap bertanggung jawab atas keterpurukan klub.
Beberapa jam setelah degradasi dipastikan, manajemen West Ham merilis pernyataan resmi bernada penyesalan. “Pada akhirnya, kami gagal membalas dukungan para suporter. Kenyataannya, kami memang tidak cukup baik. Sekarang kami harus menerima konsekuensi dari kegagalan ini dengan kejujuran, transparansi, serta tekad untuk memperbaiki dan membangun ulang klub,” tulis The Hammer dalam pernyataan resminya.
Di balik degradasi tersebut, West Ham kini juga menghadapi ancaman finansial besar. Dalam laporan keuangan terbaru hingga 31 Mei 2025, klub mencatat kerugian mencapai £104 juta (Rp2,3 triliun). Pendapatan klub juga turun dari £269,7 juta (Rp5,9 triliun) menjadi £227,6 juta (Rp5 triliun).
Sumber internal klub memperkirakan pendapatan West Ham bisa kembali merosot hingga 50-60 persen setelah turun kasta ke Championship. Kondisi itu membuat klub kemungkinan harus menjual sejumlah pemain demi mengurangi beban gaji dan menambah pemasukan transfer.
Meski begitu, ada sedikit keuntungan finansial dari degradasi ini. Wali Kota London Sadiq Khan menyebut West Ham akan mendapat pengurangan biaya penggunaan London Stadium senilai £2,5 juta (Rp55 miliar). Tapi, jumlah tersebut dianggap tidak signifikan dibanding kerugian besar yang harus ditanggung klub.
Situasi internal klub juga jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Setelah meninggalnya mantan pemilik bersama David Gold pada 2023, struktur kepemilikan berubah. Putri Gold, Vanessa Gold, kini memegang 25,1 persen saham klub. Pebisnis asal Republik Ceko Daniel Kretinsky juga sedang memperbesar kepemilikannya untuk menyamai saham Sullivan sebesar 38,8 persen.
Selain itu, sosok penting klub Karren Brady resmi mundur dari jabatan wakil ketua pada April lalu dan posisinya digantikan Karim Virani sebagai chief executive.
Kini, West Ham menghadapi pekerjaan besar untuk kembali ke Liga Premier. Sullivan memang memiliki pengalaman membawa klub promosi, termasuk bersama Birmingham City pada 2007 dan 2009, serta bersama West Ham pada 2012 lewat bantuan Sam Allardyce.
Namun, kondisi West Ham saat ini dinilai jauh lebih rumit dibanding masa-masa sebelumnya. Selain tekanan finansial, klub juga harus membangun ulang skuad dan memulihkan kepercayaan suporter yang kecewa berat setelah perjalanan singkat dari juara Eropa hingga terdegradasi.
Baca Juga
Fakta Unik Dibalik Gelar Juara Super League 2025/2026 Milik Persib Bandung

