Vietnam Airlines Pangkas Puluhan Penerbangan Akibat Krisis Bahan Bakar
Poin Penting
|
HANOI, Investortrust.id - Maskapai penerbangan nasional Vietnam mengumumkan rencana untuk menangguhkan 23 penerbangan domestik setiap pekan mulai bulan depan.
Langkah drastis ini diambil akibat terbatasnya pasokan bahan bakar yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Otoritas penerbangan sipil Vietnam menyatakan bahwa lonjakan harga bahan bakar jet (Jet A-1) sejak awal konflik tiga pekan lalu telah memicu kekhawatiran serius akan terjadinya kelangkaan bahan bakar di tingkat nasional.
Otoritas penerbangan sipil Vietnam dalam pernyataan resminya pada Senin, (23/3/2026) yang dikutip CNA News menjelaskan bahwa Vietnam Airlines berencana untuk menangguhkan sementara operasional di beberapa rute mulai 1 April mendatang dengan total mencapai 23 penerbangan per minggu.
"Pasokan bahan bakar penerbangan (Jet A-1) yang terbatas akibat konflik di Timur Tengah telah menempatkan maskapai domestik pada risiko kekurangan bahan bakar," ungkap otoritas tersebut. Meski demikian, rute domestik utama dan penerbangan internasional tetap diupayakan untuk beroperasi secara normal.
Baca Juga
Filipina Deklarasikan Status Darurat Energi Nasional 2026 Akibat Konflik di Timur Tengah
Menghadapi tekanan biaya operasional yang kian membengkak, maskapai-maskapai di Vietnam kini tengah mengkaji penerapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk rute internasional yang kemungkinan mulai berlaku pada April mendatang. Di sisi lain, Pemerintah Vietnam juga bergerak cepat dengan meminta dukungan pasokan bahan bakar dari sejumlah negara, termasuk Qatar, Kuwait, Aljazair, dan Jepang. Bahkan, pada hari Senin, Vietnam dilaporkan telah menandatangani kesepakatan dengan Rusia terkait produksi minyak dan gas di kedua negara guna mengamankan stok energi.
Fenomena pengurangan jadwal penerbangan ini ternyata tidak hanya dialami oleh Vietnam. Di kawasan regional, maskapai nasional Myanmar juga telah mengumumkan pembatalan beberapa penerbangan domestik karena alasan kondisi yang tidak dapat dihindari.
Sementara itu, maskapai asal Amerika Serikat, United Airlines, pekan lalu juga menyatakan telah mengurangi kapasitas penerbangannya akibat kenaikan biaya bahan bakar jet yang diperkirakan akan terus melonjak selama perang di kawasan Teluk masih terus berlangsung.

