Pasar Eropa Rontok di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran, Stoxx 600 Anjlok Lebih dari 3%
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Saham-saham Eropa turun tajam pada Selasa (3/3/2026), seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah yang terus membebani sentimen investor global.
Baca Juga
Bursa Eropa Memerah Imbas Perang Iran, Stoxx 600 Anjlok Hampir 2%
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup anjlok 3,2%, memperpanjang kerugian pada Senin ketika indeks tersebut ditutup turun 1,6%.
Saham di berbagai sektor mengalami aksi jual, dengan saham perbankan turun 4,3%, saham asuransi melemah 3,6% dan saham utilitas turun 4,4%. Bahkan indeks Stoxx Aerospace and Defense — yang menaungi perusahaan pertahanan terbesar di kawasan — ditutup hampir 3% lebih rendah setelah pada Senin berakhir di wilayah positif.
Saham perjalanan dan rekreasi anjlok 2% setelah penutupan wilayah udara di Timur Tengah memaksa maskapai di seluruh dunia membatalkan ribuan penerbangan.
Semua bursa utama kawasan diperdagangkan di wilayah negatif, dengan Jerman dan Italia mencatat penurunan terdalam.
Pelemahan ini terjadi ketika pasar global terus merosot akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meluas ke kawasan Teluk. Kondisi tersebut memicu sentimen risk-off di pasar, dengan emas — yang dianggap sebagai aset safe haven saat ketidakpastian — melonjak, sementara saham AS dan Asia melemah.
Harga minyak mentah global juga melonjak untuk hari kedua berturut-turut karena kekhawatiran konflik AS-Iran dapat mengganggu infrastruktur minyak dan mendorong harga bahan bakar lebih tinggi, sehingga menambah risiko inflasi.
Seorang komandan Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz — jalur transit minyak mentah paling vital di dunia — telah ditutup dan Iran akan membakar kapal yang mencoba melintasi rute tersebut, lapor Reuters mengutip media Iran.
Konflik kini memasuki hari keempat tanpa titik akhir yang jelas. Pada Senin, para pemimpin militer AS mengatakan lebih banyak pasukan akan dikirim ke kawasan tersebut, dan Presiden Donald Trump menyebut perang akan berlangsung empat hingga lima pekan, namun bisa berlanjut “jauh lebih lama dari itu.”
Baca Juga
Enam Tentara AS Tewas, Trump Perkirakan Perang Iran Bisa Berlangsung Lebih Lama
Uni Eropa menyerukan de-eskalasi dan “penahanan diri maksimum” serta perlindungan terhadap warga sipil.
Data Inflasi dan Pergerakan Saham
Data kilat dari Eurostat pada Selasa pagi menunjukkan inflasi zona euro naik menjadi 1,9% pada Februari, dari 1,7% pada Januari. Meskipun masih sedikit di bawah target 2% Bank Sentral Eropa, para pembuat kebijakan akan mencermati potensi volatilitas harga energi akibat konflik di Iran.
Raksasa pertahanan Prancis Thales melaporkan kinerja setahun penuh pada Selasa, dengan pesanan menyamai rekor 25,3 miliar euro (US$29,41 miliar) yang ditetapkan pada 2024.
Penjualan melonjak 7,6% menjadi 22,1 miliar euro, lebih kuat dari perkiraan, sementara laba bersih naik 6% secara tahunan menjadi 2 miliar euro. Divisi kedirgantaraan dan pertahanan mendorong pertumbuhan, dengan perusahaan mencatat 28 kontrak besar senilai total 7,75 miliar euro pada 2025.
Namun saham Thales yang tercatat di Paris ditutup turun 2,4% di tengah aksi jual saham pertahanan Eropa secara luas.
Di sisi lain, manajer investasi Inggris Aberdeen menyatakan laba operasional setahun penuh 2025 diperkirakan sesuai ekspektasi pasar setelah aset kelolaan naik 9% menjadi £556 miliar (US$739 miliar). Meski demikian, harga sahamnya merosot 10,5% hingga akhir perdagangan.
Analis di Citi mencatat Aberdeen menunda pemulihan arus dana unit Adviser hingga 2027, dan panduan baru pertumbuhan tahunan 5%–10% dalam pembentukan modal bersih dinilai “jauh di bawah konsensus.”

