Pidato Prabowo di PBB: Antitesis Trump yang Mendapat Tepuk Tangan Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pidato Presiden Prabowo di Majelis Umum PBB mendapat apresiasi luas di kalangan pemimpin dunia. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah sesi pertemuan tersendiri bersama para pemimpin dunia, salah satunya bersama Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan juga tentunya Presiden Prabowo, Trump sempat berkelakar bahwa ia sangat mengapresiasi isi dan gaya pidato Prabowo.
"Dan Anda juga temanku (Prabowo), pidato yang hebat. You did a great job, dengan mengetukkan tangan di meja, saya mengatakan, bagaimana kalau saya harus berhadapan dengannya ketika dia marah," kata Trump di hadapan para pemimpin dunia di ruangan tersebut, yang segera disambut gelak tawa.
Sejumlah media massa memang memberikan pujian dan apresiasi pada apa yang disampaikan Prabowo. Harian Sydney Morning Herald (SMH) misalnya, halaman editorialnya secara khusus mengulas betapa materi yang disampaikan oleh Prabowo dalam pidatonya, seperti sebuah tantangan terbuka dari apa yang disampaikan Trump. Semacam sebuah antitesis.
Baca Juga
Trump Puji Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB: You Did a Great Job
Tampil setelah Donald Trump di panggung Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentu bukan tugas yang mudah. Terlebih ketika Presiden Amerika Serikat itu baru saja mengguncang ruangan dengan pidato kontroversial yang menyerang banyak hal yang dijunjung tinggi oleh tuan rumah forum internasional tersebut. Namun itulah tantangan yang dihadapi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dalam penampilannya di New York, Selasa (22/9/2025) lalu.
Ditulis SMH, Pidato Prabowo, yang ditempatkan di antara Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Trump, telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Timnya bahkan menyebutnya sebagai “pidato penentu tentang peran global Indonesia”, penampilan terpenting sejak ia menjabat setahun lalu. Namun perhatian media dan dunia keburu direbut oleh Trump yang berbicara hampir empat kali lebih lama dari batas waktu 15 menit yang ditentukan, membanjiri podium dengan keluh kesah dan retorika lama serta baru.
Meski begitu, pidato Prabowo seperti dipaparkan SMH, tetap meninggalkan kesan yang kuat, khususnya bagi audiens yang telah kelelahan oleh gaya Trump yang provokatif. “Setiap hari kita menyaksikan penderitaan, genosida, dan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan martabat manusia,” tegas Prabowo dalam nada yang menggelegar. “Dalam menghadapi tantangan ini, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh mengorbankan harapan atau cita-cita kita. Kita harus saling mendekat, bukan semakin menjauh.”
Baca Juga
Prabowo Serukan Keadilan bagi Palestina di Sidang PBB: Kita Tidak Boleh Diam
Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari para delegasi, yang memberikan tepuk tangan dalam beberapa momen. Prabowo pun menawarkan pasukan perdamaian Indonesia untuk Gaza dan “bagian lain dunia”, dengan menyebut jumlah yang konkret: setidaknya 20.000 personel. Ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan seorang menterinya sebelumnya, meski realisasi di lapangan masih diragukan, apalagi mengingat sikap keras Israel.
Prabowo juga menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara di Timur Tengah, sebuah posisi yang bukan baru namun tetap sarat risiko politik, mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Ia menegaskan komitmen Indonesia untuk mengakui Israel, asalkan Palestina mendapatkan pengakuan sebagai negara berdaulat.
Di tengah banyak pernyataan diplomatis yang berbunyi klise seperti “Bersama-sama kita harus berjuang meraih harapan dan mimpi kita”, pidato Prabowo tetap menyajikan pesan yang kuat dan menjadi semacam penawar terhadap retorika Trump yang penuh kebencian dan egosentrisme. Hal ini cukup kontras, mengingat Prabowo adalah mantan komandan pasukan khusus yang selama ini kerap menghindari tudingan pelanggaran HAM di masa lalu.
Sementara Trump menggunakan sebagian besar pidatonya untuk mengecam negara-negara PBB atas kegagalan mengendalikan migrasi, Prabowo justru menekankan urgensi kerja sama global, termasuk dalam isu perubahan iklim. Saat Trump menyebut perubahan iklim sebagai “tipuan”, Prabowo menyebutnya sebagai kenyataan. “Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kami sudah mengalami dampak langsung perubahan iklim, khususnya ancaman naiknya permukaan air laut,” ujarnya.
“Karena itu, kami memilih untuk menghadapi perubahan iklim – bukan dengan slogan, tetapi melalui langkah yang terukur dan segera. Kami berkomitmen untuk memenuhi kewajiban kami dalam Perjanjian Paris 2015,” tambahnya.
Berbeda dengan pendekatan Trump yang sangat nasionalistik dalam gerakan “America First”, Prabowo menggarisbawahi pentingnya internasionalisme, multilateralisme, dan penguatan lembaga dunia seperti PBB.
Pada awal pidatonya – setelah Presiden Majelis Umum, Annalena Baerbock, berhasil menenangkan keributan di ruang sidang dan sempat salah mengucapkan nama Prabowo – Presiden Indonesia itu mengutip sebagian dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Ia membacakan bagian yang menyatakan bahwa semua manusia diciptakan setara dan dikaruniai hak-hak yang tidak dapat dicabut, seperti hidup, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.
Baca Juga
Pidato Berapi-api soal Palestina, Prabowo Dihujani Applause di Sidang Umum PBB
Prabowo menyebut bahwa prinsip tersebut telah membuka jalan bagi “kemakmuran dan martabat global yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Namun, ia memperingatkan bahwa “kebodohan manusia, yang dipicu oleh ketakutan, rasisme, kebencian, penindasan, dan apartheid, mengancam masa depan bersama kita”.
Walaupun kutipan tersebut tidak dimaksudkan secara langsung sebagai respons terhadap Trump, konteks pidato itu – terutama di tengah suasana ruang sidang yang masih dipenuhi aroma retorika anti-imigran Trump – membuatnya terasa sangat relevan.
Meski pidatonya mungkin tidak akan sepenuhnya mengubah persepsi global atau kondisi politik dalam negeri yang masih penuh tantangan, Prabowo berhasil memanfaatkan momen di panggung dunia untuk menampilkan Indonesia sebagai suara yang rasional, progresif, dan siap berkontribusi pada perdamaian dunia. Sebuah kemenangan diplomatik kecil yang terasa besar, di tengah sorotan besar yang terlanjur jatuh kepada drama seorang Donald Trump.

