Trump Terapkan Biaya Rp1,65 Miliar per Tahun untuk Visa Tenaga Kerja Asing Kualifikasi Tinggi
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani sebuah keputusan pada Jumat (19/9/2025) yang mewajibkan perusahaan membayar biaya sebesar US$100.000 per tahun atau setara Rp 1,65 miliar (Kurs dolar Rp16.500) untuk visa pekerja asing kategori H-1B.
Visa H-1B adalah visa non-imigran yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengizinkan perusahaan di AS mempekerjakan tenaga kerja asing yang berkualifikasi tinggi dalam bidang tertentu untuk bekerja sementara di AS.
Langkah ini merupakan bagian dari perubahan kebijakan besar-besaran yang dimaksudkan untuk mengurangi apa yang menurut pemerintah merupakan penyalahgunaan sistem visa, khususnya oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan tenaga asing murah untuk menggantikan pekerja AS.
“Kita butuh pekerja. Kita butuh pekerja yang hebat. Dan kebijakan ini kurang lebih memastikan hal itu akan terjadi,” kata Trump di Kantor Oval saat menandatangani pengumuman tersebut, seperti dikutip Anadolu, Sabtu (20/9/2025).
Baca Juga
Kolaborasi Indonesia–Korea Perkaya Pengetahuan di Bidang Estetika
Perombakan kebijakan tersebut digambarkan sebagai respons terhadap “penggantian pekerja Amerika secara besar-besaran melalui penyalahgunaan program ini” yang dinilai merugikan keamanan ekonomi dan juga keamanan nasional. Proklamasi yang dirilis Gedung Putih menyebut bahwa tindakan sistemik ini telah melemahkan kedua aspek tersebut.
Sekretaris Perdagangan, Howard Lutnick, menyebut bahwa biaya baru ini dirancang untuk mencegah perusahaan bergantung pada tenaga kerja asing dan untuk mendorong perekrutan pekerja AS. “Stop bringing people to take our jobs, that’s our policy here,” ujarnya di samping Trump.
Kebijakan ini sekaligus merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk memperketat kontrol imigrasi dan dapat membawa dampak luas pada sektor-sektor yang sangat tergantung pada pekerja H-1B, seperti sektor teknologi. Dengan kenaikan biaya yang sangat tinggi dibandingkan dengan biaya sebelumnya, banyak yang memprediksi bahwa perusahaan, terutama startup dan perusahaan teknologi, akan mengalami beban biaya yang jauh lebih besar apabila tetap memakai pekerja asing.

