Terungkap, Pasukan Elite AS Gagal Lancarkan Misi Rahasia dan Bunuh Nelayan Korut
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – The New York Times dalam sebuah laporannya mengungkap bahwa pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat lewat persetujuan Donald Trump pernah melancarkan misi yang bertujuan menanam sebuah perangkat elektronik yang memungkinkan Amerika Serikat bisa mencegat komunikasi pemimpin Korea Utara yang tertutup, Kim Jong-un.
Operasi senyap dilakukan justru di tengah pembicaraan tingkat tinggi mengenai nuklir antara Presiden Donald Trump dengan Kim Jong Un. Misi ini diduga kuat digelar berbarengan dengan diselenggarakannya KTT Hanoi, di Vietnam pada 27–28 Februari 2019, yang mempertemukan secara resmi Donald Trump dan Kim Jong Un untuk membahas denuklirisasi Korea Utara dan pencabutan sanksi.
Sebagaimana diceritakan The Telegraph India yang mengutip laporan The New York Times hari Jumat (5/9/2025), sekelompok anggota pasukan elite angkatan laut AS, Navy SEAL muncul dari lautan yang gelap gulita pada malam musim dingin awal 2019 dan merayap ke pantai berbatu di Korea Utara. Mereka sedang menjalankan misi super-rahasia yang begitu rumit dan berisiko sehingga semuanya harus berjalan sempurna.
Misi SEAL ditujukan untuk memperbaiki “titik buta” strategis yang selama bertahun-tahun hampir bisa diperoleh AS, termasuk dengan cara merekrut sumber manusia atau menyadap komunikasi di negara otoriter tertutup itu.
Di tengah ketidakpastian, badan intelijen AS memberi tahu Gedung Putih bahwa mereka punya solusi dengan menyiapkann sebuah perangkat elektronik baru yang bisa mencegat komunikasi Kim. Syaratnya, seseorang harus menyelinap masuk dan menanamnya.
Jika berhasil, maka misi tersebut berpotensi memberi AS aliran intelijen yang sangat berharga. Namun, itu berarti AS harus menempatkan pasukan komando Amerika di wilayah Korea Utara—sebuah langkah yang berisiko dan jika terungkap tak hanya dapat menggagalkan negosiasi, tetapi juga memicu krisis sandera atau konflik yang meningkat dengan musuh bersenjata nuklir. Mengingat begitu tingginya risiko yang dihadapi, misi ini pun sampai harus mendapatkan persetujuan langsung Presiden Trump.
Untuk operasi tersebut, Pentagon memilih SEAL Team 6 Red Squadron, sebuah unit yang sama yang membunuh Osama bin Laden di wilayah Pakistan. Para anggota SEAL berlatih selama berbulan-bulan, karena mereka sadar bahwa setiap gerakan harus dilakukan secara sempurna.
Para anggota SEAL percaya mereka mampu. Mereka pernah melakukannya pada tahun 2005 dengan misi yang nyaris sama. Menggunakan mini-sub atau kapal selam mini, dan mendarat di Korea Utara, lalu pergi tanpa terlihat. Operasi era George W. Bush itu pun belum pernah diungkap sebelumnya.
Namun, ketika mereka mencapai pantai yang diperkirakan sepi malam itu, denganmengenakan pakaian selam hitam dan kacamata night vision, ternyata misi langsung berantakan.
Pasalnya sebuah kapal Korea Utara muncul dari kegelapan. Senter dari haluan kapal tersebut menyapu permukaan laut, termasuk ke arah para anggota Navy SEAL yang tengah menjalankan misi.
Baca Juga
BNN Perkuat Kerja Sama Intelijen ASEAN untuk Hancurkan Jaringan Golden Triangle
Khawatir telah terlihat, para anggota SEAL melepaskan tembakan. Dalam hitungan detik, seluruh kru kapal Korea Utara tewas. Berikutnya para anggota SEAL mundur kembali ke laut tanpa sempat menanam perangkat penyadap.
Kesalahan pertama terjadi ketika Mini-sub atau kapal selam kecil pengantar mereka tiba di dekat pantai salah satunya berhenti di titik yang salah sehingga harus berputar balik dan membuat posisi misi berlawanan arah.
Saat para anggota SEAL berenang ke pantai dengan senjata dan perangkat, pantai juga dimonitor dalam kondisi kosong. Tanpa disadari sensor panas mereka gagal mendeteksi sebuah kapal kecil berisi warga Korea Utara penyelam kerang laut karena para nelayan Korea Utara tersebut mengenakan pakaian basah di tengah udara yang dingin.
Sementara itu ketika Mini-sub yang putar arah menyalakan motor elektrik untuk reposisi, cahaya yang keluar dari kokpit kemungkinan menarik perhatian kapal kecil nelayan tadi sehingga mereka menyorotkan senter ke ara para anggota SEAL. Apalagi salah seorang awak kapalnya meloncat ke laut.
Para SEAL di pantai panik? Lalu tanpa komunikasi dan tanpa ada yang bisa dikonfirmasi pemimpin SEAL di pantai memutuskan menembak, dan seluruh tim ikut menembak. Seluruh awak kapal sipil Korea Utara dipastikan tewas.
Mundur & Menyembunyikan Bukti
Setelah semua anggota misi memastikan seluruh awak sipil Korea Utara tewas, termasuk seorang penyelam di air. Mereka menarik tubuh ke laut dan bahkan menusuk paru-paru korban agar tenggelam.
Misi dibatalkan. Mereka berenang kembali ke mini-sub, memberi sinyal darurat. Kapal selam besar masuk ke perairan dangkal dengan risiko tinggi, menjemput mereka, lalu kabur ke laut lepas. Semua personel AS selamat.
Segera setelah itu, satelit AS mendeteksi lonjakan aktivitas militer Korea Utara. Namun, rezim tidak pernah membuat pernyataan publik tentang kejadian tersebut. Tidak jelas apakah mereka tahu siapa pelakunya.
Pertemuan puncak di Vietnam tetap berlangsung Februari 2019, tapi gagal menghasilkan kesepakatan. Mei, Korea Utara melanjutkan uji coba rudal.
Misi Rahasia yang Tak Pernah Diakui
Operasi 2019 ini tidak pernah diakui, bahkan sedikit pun, oleh AS maupun Korea Utara. Detailnya masih tergolong rahasia dan baru diungkap kali ini. Bahkan pemerintahan Trump tidak memberi tahu anggota Kongres kunci yang membawahi pengawasan atas operasi intelijen negara, baik sebelum maupun setelah misi. Kelalaian tersebut mungkin melanggar hukum.
Baca Juga
Iran Kecam Keras Serangan AS, Tegaskan Tolak Tekanan Militer
Laporan ini didasarkan pada wawancara The New York times dengan 24 orang, termasuk pejabat sipil pemerintah, anggota pemerintahan pertama Trump, serta personel militer aktif dan pensiunan yang mengetahui misi tersebut. Semuanya berbicara dengan syarat anonim karena status misi yang diklasifikasikan.
Beberapa di antara mereka mengatakan jika publik dan pembuat kebijakan hanya mengetahui keberhasilan besar seperti penggerebekan yang menewaskan bin Laden di Pakistan, bisa jadi pemerintah akan meremehkan risiko ekstrem yang ditanggung pasukan Amerika.
Operasi militer di tanah Korea Utara, dekat pangkalan AS di Korea Selatan dan Pasifik, juga berisiko memicu konflik lebih luas dengan musuh yang bermusuhan, bersenjata nuklir, dan sangat termiliterisasi.

