Harga Minyak Melaju di Atas 1%, Ini Faktor Pemicunya
Poin Penting
- Harga Brent naik 1,23% ke $68,05, WTI menguat 1,42% ke $64,15.
- Stok minyak AS turun 2,4 juta barel, lebih besar dari perkiraan.
- Tarif impor AS terhadap India hingga 50% picu kekhawatiran ekonomi global.
- Risiko geopolitik Rusia-Ukraina dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed memperkuat sentimen minyak.
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak naik pada Rabu (27/8/2025) setelah data menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan, serta kekhawatiran atas dampak tarif baru AS terhadap India. Pasar juga mencermati konflik Rusia-Ukraina yang masih memanas.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Dipicu Sinyal Permintaan AS dan Ketidakpastian Perdamaian Rusia-Ukraina
Kontrak berjangka Brent naik 83 sen atau 1,23% menjadi ditutup di $68,05 per barel. West Texas Intermediate (WTI) menguat 90 sen atau 1,42% menjadi $64,15 per barel. Kedua kontrak sebelumnya anjlok lebih dari 2% pada Selasa.
Persediaan minyak mentah AS turun 2,4 juta barel menjadi 418,3 juta barel pekan lalu, menurut Badan Informasi Energi (EIA), lebih besar dibandingkan ekspektasi penurunan 1,9 juta barel dalam jajak pendapat Reuters.
Stok bensin AS turun 1,2 juta barel, di bawah ekspektasi penurunan 2,2 juta barel. Sementara persediaan distilat, termasuk solar dan minyak pemanas, menyusut 1,8 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 885.000 barel, menurut EIA.
“Angka permintaan bensin mendukung dan menunjukkan masyarakat bersiap untuk melakukan perjalanan selama libur panjang Labor Day. Ini adalah puncak musim berkendara musim panas, sekaligus momen terakhir untuk campuran bensin musim panas,” kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, seperti dikutip CNBC.
Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menggandakan tarif impor dari India hingga 50% juga menjadi sorotan. Tarif ini diberlakukan sebagai respons atas pembelian minyak Rusia oleh India, dan mulai berlaku pada Rabu.
Baca Juga
Trump Resmi Gandakan Tarif Impor India hingga 50%, Hubungan Dagang Memanas
Meski dampak langsung tarif terhadap ekspor India terlihat terbatas, efek rambatan terhadap perekonomian tetap menjadi tantangan, menurut laporan tinjauan ekonomi bulanan Kementerian Keuangan India edisi Juli yang dirilis Rabu.
Perang Ukraina
Sementara itu, Rusia dan Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing, menambah kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan. Rusia melancarkan serangan drone besar-besaran terhadap infrastruktur energi dan transportasi gas di enam wilayah Ukraina pada Selasa malam, menurut pejabat Ukraina. Sebaliknya, Ukraina menyerang kilang minyak dan fasilitas ekspor Rusia dalam beberapa hari terakhir.
Utusan khusus AS Steve Witkoff pada Selasa mengatakan akan bertemu perwakilan Ukraina di New York pekan ini, dan Washington juga tengah mengadakan pembicaraan dengan Rusia dalam upaya mengakhiri perang.
Rusia menaikkan rencana ekspor minyak mentah dari pelabuhan barat sebesar 200.000 barel per hari pada Agustus dari jadwal awal, setelah serangan ke kilang-kilangnya pekan lalu, menurut tiga sumber.
Penurunan Suku Bunga
Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan pada Rabu bahwa suku bunga kemungkinan akan turun di suatu waktu, namun pembuat kebijakan perlu menunggu data ekonomi terbaru sebelum memutuskan apakah pemangkasan tepat dilakukan dalam pertemuan 16–17 September mendatang.
Suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi biaya pinjaman konsumen, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan permintaan minyak.

