Wall Street di Zona Merah, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Arah Suku Bunga
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham AS ditutup di zona merah pada Senin waktu AS atau Selasa (12/8/2025) WIB. Investor menahan langkah menjelang rilis data inflasi utama pekan ini, sementara perkembangan positif dari penundaan tarif China tak mampu mengangkat sentimen.
Baca Juga
Wall Street Menguat Ditopang Saham Apple, Nasdaq Cetak Rekor Baru
Dow Jones Industrial Average merosot 200,52 poin atau 0,45% ke 43.975,09. S&P 500 melemah 0,25% ke 6.373,45, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,3% ke 21.385,40.
Data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI), menjadi fokus pasar. CPI yang akan dirilis pada Selasa, serta PPI yang dijadwalkan keluar Kamis, akan sangat berpengaruh dalam membentuk proyeksi arah suku bunga, khususnya untuk rapat Federal Reserve pada September mendatang. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan bisa menghambat kenaikan pasar.
Baca Juga
Ekonom memperkirakan CPI Juli akan naik 0,2% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan, menurut estimasi Dow Jones. CPI inti — yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak — diperkirakan naik 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan, lebih tinggi dari kenaikan Juni yang masing-masing sebesar 0,2% dan 2,9%.
Data inflasi ini muncul menjelang pertemuan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, pada 21–23 Agustus, yang bisa menjadi penentu arah kebijakan untuk rapat September. Saat ini, pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga bulan depan sebesar 87%, namun Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall, mengatakan kepada CNBC bahwa investor bisa saja terlalu optimistis.
“Saya sedikit khawatir pasar akan kecewa,” ujarnya. “The Fed akan menghadapi dilema jika inflasi tetap tinggi dan konsumen tetap mau belanja — di mana urgensi untuk menurunkan suku bunga?”
Baca Juga
Negosiasi Masih Alot, Trump Perpanjang Lagi Tenggat Tarif China 90 Hari
Pelaku pasar juga tampak tidak terlalu terkesan pada keputusan Presiden Donald Trump yang memperpanjang tenggat tarif terhadap barang-barang China selama 90 hari lagi. Perintah eksekutif penundaan itu diteken hanya beberapa jam sebelum tengah malam, tepat ketika masa jeda tarif sebelumnya dijadwalkan berakhir.

