Bank Sentral Inggris Pangkas Suku Bunga ke 4% di Tengah Ekonomi Lesu dan Inflasi Tinggi
Poin Penting
|
LONDON, Investortrust.id - Bank sentral Inggris, Bank of England pada Kamis (7/8/2025) memangkas suku bunga acuannya sebesar seperempat poin persentase menjadi 4%, level terendah sejak Maret 2023.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendorong perekonomian Inggris yang lesu.
Keputusan ini sudah banyak diperkirakan oleh pasar keuangan, mengingat Komite Kebijakan Moneter bank tersebut harus menyeimbangkan tanggung jawab mengendalikan inflasi dengan kekhawatiran bahwa kenaikan pajak dan perang dagang global yang dipicu Presiden AS Donald Trump dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Komite memutuskan dengan suara 5-4 untuk menurunkan suku bunga.
Pemangkasan ini menjadi yang kelima sejak Agustus tahun lalu, ketika pembuat kebijakan mulai memangkas biaya pinjaman dari level tertinggi 16 tahun di 5,25%.
Suku bunga acuan Bank of England, yang menjadi tolok ukur bagi kredit pemilikan rumah, pinjaman konsumen, dan pinjaman usaha—kini berada pada titik terendah sejak Maret 2023. Harapannya, dengan pinjaman yang lebih murah, kepercayaan konsumen dan dunia usaha dapat meningkat, meski masih ada jalan panjang untuk pemulihan. Namun, spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan pajak dalam Anggaran Musim Gugur bisa membuat rumah tangga dan perusahaan tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian beban tambahan yang mungkin muncul.
Seperti diberitakan Wahington Times, dikutip Jumat (8/8/2025), Bank of England memutuskan memangkas suku bunga meski inflasi tahunan pada Juni masih mencapai 3,6%, jauh di atas target 2%. Bank menjelaskan bahwa kenaikan harga tersebut terutama disebabkan lonjakan sementara harga pangan dan energi, dan inflasi diperkirakan mulai turun akhir tahun ini setelah memuncak di sekitar 4%. Inflasi diharapkan kembali ke target pada kuartal kedua 2027.
Di sisi lain, para pembuat kebijakan juga dihadapkan pada tanda-tanda melambatnya ekonomi. Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 0,1% pada kuartal kedua 2025, dari 0,7% di kuartal pertama. Produk domestik bruto diperkirakan tumbuh 0,3% di kuartal ketiga. Gubernur Bank of England Andrew Bailey menyebut ada sedikit lebih banyak risiko penurunan pada aktivitas ekonomi, pasar tenaga kerja terus melemah, dan pertumbuhan konsumsi kemungkinan akan butuh waktu lebih lama untuk pulih.
Lembaga think tank independen National Institute of Economic and Social Research awal pekan ini memperingatkan bahwa pemerintah mungkin terpaksa menaikkan pajak akhir tahun ini akibat perlambatan pertumbuhan, kenaikan biaya pinjaman, dan tekanan untuk meningkatkan belanja. Tingkat pengangguran Inggris naik menjadi 4,7% pada tiga bulan hingga Mei, tertinggi dalam empat tahun, menandakan kenaikan pajak sebelumnya dan ketidakpastian ekonomi global membebani dunia usaha.
Baca Juga
“Ada harapan bahwa jika pinjaman menjadi lebih murah, hal itu akan membantu meningkatkan kepercayaan konsumen dan dunia usaha, tetapi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh,” ujar Susannah Streeter, Kepala Divisi Uang dan Pasar di Hargreaves Lansdown, sebelum keputusan diumumkan. “Sementara itu, spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan pajak dalam Anggaran Musim Gugur dapat membuat rumah tangga dan perusahaan tetap berhati-hati, mengingat ketidakpastian di mana beban tambahan itu akan dikenakan.”
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mengatakan pemerintah berupaya mengamankan pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui investasi infrastruktur, perjanjian perdagangan internasional, dan menjadikan Inggris sebagai pusat pengembangan kecerdasan buatan serta teknologi inovatif lainnya. Reeves bersama Perdana Menteri Keir Starmer berusaha menghindari kenaikan pajak dan pemotongan belanja yang tidak populer dengan kebijakan yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan penerimaan pajak sejak menjabat pada Juli 2024.
Menurut Reeves, pemangkasan suku bunga kelima sejak pemilu ini merupakan kabar baik karena membantu menurunkan biaya hipotek dan pinjaman bagi keluarga serta pelaku usaha.
“Pemangkasan suku bunga kelima sejak pemilu ini merupakan kabar baik, karena membantu menurunkan biaya hipotek dan pinjaman bagi keluarga serta pelaku usaha,” ujar Reeves dalam sebuah pernyataan.

