WEF Sebut Krisis Iklim Akan Berdampak Besar bagi Negara di Afrika dan Asia Selatan
JAKARTA, Investortrust.id - World Economic Forum (WEF) menyebut krisis iklim yang terjadi sekarang akan semakin memperparah kesenjangan kesehatan global jika tidak segera ditanggulangi. Utamanya, di kawasan Afrika dan Asia bagian Selatan diperkirakan mendapat dampak paling parah.
Kedua wilayah tersebut disebut menghadapi peningkatan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim karena diperburuk oleh keterbatasan sumber daya, infrastruktur yang kurang memadai, dan minimnya peralatan medis penting, yang semakin memperumit kemampuan mereka dalam mengatasi dan beradaptasi terhadap tantangan lingkungan.
CEO Seed Global Health dan Utusan Khusus WHO untuk Perubahan Iklim dan Kesehatan, Vanessa Kerry menerangkan, jika pemerintah dunia gagal mengambil tindakan untuk mengatasi krisis iklim ini maka jumlah kematian akan sangat besar.
Baca Juga
WEF: Krisis Iklim Bisa Sebabkan Kerugian Ekonomi US$ 12,5 Triliun dan 14,5 Juta Kematian di 2050
Diperkirakan 14,5 juta kematian akan terjadi pada tahun 2050. Selain itu, krisis iklim juga berisiko membuat umat manusia kehilangan kemajuan yang telah dicapai selama beberapa dekade dalam meningkatkan hasil kesehatan di seluruh dunia.
“Negara-negara yang paling tidak mampu menanggung guncangan ini, dan yang berkontribusi paling sedikit terhadap emisi global, akan terkena dampak paling besar,” ujar Vanessa Kerry dikutip dari laman weforum.org, Selasa (16/1/2024).
Disebutkan bahwa kelompok masyarakat yang paling rentan, termasuk perempuan, pemuda, lansia, kelompok berpendapatan rendah, dan masyarakat yang sulit dijangkau, adalah kelompok yang paling terkena dampak dari krisis iklim ini.
Global Leader of Health, Sam Glick mengatakan, diperlukan tindakan berkelanjutan jika ingin memitigasi dampak perubahan iklim yang luas dan memastikan masa depan yang sehat bagi semua orang.
“Analisis kami menyoroti dampak besar perubahan iklim terhadap angka kematian, kesakitan, dan lanskap makroekonomi yang saling berhubungan. Dengan sistem layanan kesehatan saja yang kemungkinan harus menanggung biaya tambahan sebesar US$ 1,1 triliun akibat perubahan iklim,” sebut Sam Glick.

