Kadin Pastikan Eksekusi MoU dengan Prancis dan Uni Eropa, Anindya: Bisnis Tak Perlu Menunggu
Poin Penting
|
PARIS, Investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa kehadiran Kadin Indonesia dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Paris, Prancis, bertepatan dengan peringatan Hari Bastille (Bastille Day), merupakan langkah lanjutan untuk memastikan kesepakatan bisnis yang telah ditandatangani sebelumnya dapat segera dieksekusi.
Ia menekankan bahwa saat ini bukan lagi saatnya menunggu, tetapi saatnya kalangan dunia usaha mengeksekusi berbagai nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani dua bulan sebelumnya.
"Kenapa timing-nya tepat? Dua bulan yang lalu, kita tandatangani 27 MoU senilai US$ 11 miliar. Pada saat ini, dari sisi bisnis adalah untuk mengeksekusi MoU-MoU tersebut. Kita bertemu dengan MEDEF itu memastikan MoU-nya jalan," ujar Anindya dalam saat di Paris, Selasa (15/7/2025).
MEDEF, atau Mouvement des entreprises de France adalah organisasi pengusaha terbesar di Perancis, yang mewakili kepentingan berbagai perusahaan di negara tersebut. MEDEF menjadi organisasi mitra Kadin Indonesia di Prancis yang menaungi sektor swasta dan dunia usaha negara tersebut.
Anindya juga menyinggung pentingnya kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa. Ia menyebut, kendati kesepakatan perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antara Indonesia dan Uni Eropa direncanakan akan ditandatangani pada September, kalangan bisnis tak perlu menunggu formalitas tersebut untuk mulai menjalankan kerja sama konkret. "Bisnis tidak perlu menunggu. Bisnis bisa mulai dari sekarang. Setahun itu kan cepat," tegasnya.
Baca Juga
Perkuat Eksistensi di Ranah Global, Kadin Indonesia Bentuk Kadin GEO di Paris
Ia pun menggarisbawahi besarnya potensi perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa yang saat ini sudah mencapai US$30 miliar, hanya terpaut sedikit dari nilai perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat yang berada di angka US$40 miliar. “Ini bisa menjadi pasar tambahan atau alternatif tergantung nanti seperti apa. Dan kebetulan yang diekspor dari Indonesia juga mirip-mirip: alas kaki, garmen, tekstil, palm oil, rubber dan juga elektronik. Jadi ini pangsa yang menarik buat Indonesia, terutama untuk menciptakan pasar baru yang ujungnya investasi dan lapangan kerja,” jelasnya.
Dalam konteks geopolitik dan perdagangan global, Anindya mengingatkan bahwa Amerika Serikat hanya menyumbang 13 persen dari perdagangan dunia, sementara 87 persen sisanya adalah negara-negara lain, termasuk Uni Eropa. “Saya tidak mengatakan Amerika tidak penting, sangat penting. Tapi kita tidak bisa melupakan hal-hal yang lain,” ujarnya. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan dalam Bastille Day dan hubungan baik dengan Presiden Emmanuel Macron menjadi momentum diplomasi yang sangat penting.
“Hubungan sangat baik dari G2G, Pak Presiden sebagai tamu kehormatan di Bastille Day dengan Presiden Macron ini menjadi modal yang besar. Ini bukan hanya modal pemerintah kali ini saja, ini jangka panjang,” tegas Anindya.
Ia juga menyampaikan pentingnya kehadiran para Ketua Kadin Provinsi dalam misi dagang ini. Menurutnya, kesempatan dagang di luar negeri tak seharusnya hanya dinikmati oleh perusahaan besar yang berbasis di Jakarta, tetapi juga harus terbuka bagi pelaku usaha di daerah.
“Teman-teman Kadin Provinsi ini juga mesti melihat dan menangkap kesempatan ini. Tidak semua kesempatan hanya dinikmati oleh perusahaan yang berpusat di Jakarta,” ucapnya.

