Menghitung Deadline Nego Tarif Trump, Ini Alutsista AS yang Akan Dibeli RI
Poin Penting
| • |
Negosiasi Tarif dan Strategi Impor RI-AS: Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dan meredam tarif tinggi, Indonesia berencana mengimpor barang strategis dari AS, termasuk alutsista dan pesawat. |
| • |
Pengadaan Alutsista AS oleh Indonesia: Sebagai bagian dari strategi dagang, Indonesia berencana membeli alutsista buatan AS, yakni 24 unit jet tempur F-15EX |
| • |
AS Bukan Pemasok Utama Alutsista TNI: Meskipun TNI memiliki sejumlah alutsista buatan AS (seperti F-16, AH-64 Apache, C-130), secara historis Indonesia bukan pelanggan utama industri pertahanan AS. |
Jakarta, Investortrust – Hingga kini Indonesia belum juga mencapai kata sepakat dengan Amerika Serikat setelah administrasi Presiden Donald Trump mengenakan tarif hingga 32% pada produk dari Indonesia akibat defisit yang dialami AS pada perdagangan kedua negara.
Dilansir dari Bloomberg, Jumat (4/7/2025), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan komitmen pemerintah RI untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan AS. Pada tahun lalu, USTR mencatat defisit perdagangan barang AS dengan Indonesia mencapai US$17,9 miliar.
Oleh sebab itu, Indonesia akan melakukan impor sejumlah barang dari AS. Upaya tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan ancaman tarif sebesar 32% yang akan diberlakukan AS, dengan target memperoleh tarif yang lebih rendah dibandingkan Vietnam yang sebelumnya mendapatkan tarif 20%.
Pemerintah RI telah dikabarkan akan membeli beberapa jenis alutsista dan pesawat dari Amerika Serikat (AS), sebagai bagian dari paket kesepakatan dagang komprehensif yang tengah dirundingkan oleh kedua delegasi AS dan RI. Misalnya, PT Garuda Indonesia saat ini tengah menggodok rencana dan menjajaki pembelian pesawat dari Boeing dan layanan perawatan armada pesawat.
Alutsista Buatan AS Untuk TNI AU
Tak ketinggalan pada sektor pertahanan, Airlangga mengungkapkan pemerintah membuka peluang untuk memperluas pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari AS.
“Ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik,” ungkapnya dalam pernyataan resmi. Selain itu, sambung Airlangga, Indonesia juga akan meningkatkan impor gas dan produk pertanian dari AS untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan.
Seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Pertahanan RI, Boeing mengumumkan upacara penandatanganan nota kesepahaman pembelian 24 jet tempur F-15EX oleh Indonesia pada (22/8/2023), yang diadakan di fasilitasnya di St.Louis, Missouri, AS. Menteri Pertahanan RI waktu itu, Prabowo Subianto (sekarang Presiden RI) yang hadir pada penandatanganan nota kesepahaman tersebut mengaku senang mengumumkan niatnya membeli jet tempur F-15EX untuk TNI AU.
Menurut laporan Air Force Magazine, yang dikutip dari Forbes, harga satu unit F-15EX mencapai US$ 87,7 juta, termasuk mesin. Apabila dikonversi ke mata uang rupiah, maka sekitar Rp 1,3 triliun (asumsi kurs Rp 15.000). Namun, Wakil Presiden Boeing dan Manajer Program F-15 Prat Kumar mengatakan laporan itu kurang benar. “Biaya peluncuran Blok 1 (F-15EX) akan kurang dari US$ 80 juta,” ucap Kumar dalam unggahan Forbes, pada Jumat, 24 Juli 2020.
Sekilas F-15EX
Pesawat tempur F-15EX yang dibuat oleh Boeing ini merupakan varian terbaru dari keluarga pesawat F-15 yang telah mencatatkan prestasi di berbagai medan tempur. Pesawat ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya, Kemampuan Muatan: F-15EX dapat membawa hingga 29.500 pound (sekitar 13.380 kilogram) muatan. Ini membuatnya mampu membawa lebih banyak senjata dibandingkan pesawat tempur generasi sebelumnya. Kemudian Kinerja Mesin yang Tinggi: dilengkapi dengan mesin modern yang memberikan kecepatan dan kelincahan lebih kepada pesawat.
Selain itu, Struktur Pesawat yang Kuat didesain untuk memiliki umur layanan hingga 20.000 jam terbang, yang memberikannya keunggulan dalam hal daya tahan dan rentang operasional yang panjang, Sistem Avionik Canggih: F-15EX dilengkapi dengan sistem radar canggih dan avionik lainnya yang memungkinkan pesawat mendeteksi dan melacak target dengan akurasi yang tinggi, Kemampuan Survivabilitas: pesawat ini memiliki perlindungan elektronik, termasuk sistem perang elektronik yang canggih untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup di medan perang.
Selain jet tempur, TNI AU tentu juga akan melengkapi F-15EX tersebut dengan berbagai misil udara-ke-udara dan udara-ke-darat seperti AIM-9 Sidewinder, AIM-120 AMRAAM hingga AGM-64 Maverick. Selain itu juga terbuka potensi penambahan rudal Hellfire untuk helikopter serbu TNI AD, AH-64 Apache dan pesawat angkut C-130J. Dengan potensi pembelian paket sebanyak itu, neraca perdagangan Indonesia dan AS diharapkan dapat kembali seimbang sehingga negosiasi tarif produk dari Indonesia dapat segera tercapai.
Indonesia Bukan Pelanggan Tradisional Alutsista AS
Namun jika ditilik dari sejarah inventori ketiga Matra TNI, Indonesia bukanlah pelanggan tradisional senjata dari AS. Meski banyak alutsista buatan AS, namun prosentase senjata dari negara lain tidaklah mayoritas. Boleh dibilang gudang senjata TNI dipenuhi produk dari berbagai negara.
Daftar Alutsista buatan AS yang dimiliki TNI
TNI AU
F-16 Fighting Falcon A/B, AM/BM, C/D
Boeing 737 2X8/2Q8 Surveiller
Boeing VVIP/Maritim Patrol
C-130 B/H/L-100/J dan C-130 Tanker
Cessna 172/182/T-41
Schweizer SGS 2-33
Rudal AIM-9/AIM 120/AGM 64
TNI AD
Rantis Cadillac Gage Commando/Scout
Meriam M109A4-BE Howitzer
Meriam M2A2 Howitzer
Ranpur M113A1-BE
Truk M35/M49/M60
Helikopter Boeing AH-64 Apache
Helikopter Bell 204/205A-1
Helikopter Hughes 300
Rudal AGM-114 Hellfire
Rudal Antitank Javelin
TNI AL
Torpedo Mk-46
Selain alutsista di atas, TNI juga membeli beberapa jenis senjata perorangan seperti senapan, pistol, granat dan amunisi untuk meriam, tank, helikopter dan kendaraan lapis baja dari AS. Di antaranya adalah: Colt M4, M1191, M16, M240, M134D, M2 Browning, M93, M82 Barret dan M203. TNI AL bahkan hanya memiliki torpeda sebagai senjata buatan AS selain senjata genggam, itupun bukan mayoritas.
Pasukan elit TNI dari ketiga matra tentu saja dibekali beragam senjata. Senjata perorangan seperti senapan serbu, pistol, senapan mesin, sub-machine gun buatan berbagai negara, termasuk produk AS melengkapi inventori TNI. Namun mayoritas senapan serbu TNI adalah SS-1, SS-2 dan SS-3 buatan PT Pindad yang telah mengantar penembak TNI menjuarai berbagai kejuaraan menembak di tingkat internasional.

