Baidu Tanggapi Ancaman ChatGPT dengan Mesin Pencari Berbasis AI
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id - Perusahaan teknologi asal China, Baidu, resmi merombak mesin pencarinya dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pembaruan terbesar selama satu dekade terakhir. Langkah ini dianggap sebagai respons strategis terhadap meningkatnya ancaman dari layanan AI generatif seperti ChatGPT dan pesaing lokal, DeepSeek.
Analis menyebut pembaruan ini sebagai cara Baidu untuk tetap unggul di tengah gempuran layanan AI yang lebih gesit. “Baidu tidak sedang menunggu dan menonton, mereka tancap gas di bidang AI,” ujar Kepala Riset Teknologi Global di Wedbush Securities, Dan Ives dikutip dari CNBC International, Jumat (4/7/2025).
Sebagai mesin pencari terbesar di China, posisi Baidu mulai terancam seiring pergeseran perilaku pengguna yang kini lebih banyak mengandalkan chatbot AI dalam mencari informasi. Bahkan, platform video pendek seperti Douyin dan Kuaishou mulai mengembangkan fitur pencarian berbasis AI.
Untuk menjawab tantangan ini, Baidu memperkenalkan sejumlah peningkatan pada produk pencariannya. Kini, pengguna bisa mengetik lebih dari seribu karakter dalam satu kueri, dibandingkan batas sebelumnya yang hanya 28 karakter.
Selain itu, pertanyaan kini bisa diajukan secara lebih percakapan layaknya berdialog dengan chatbot. Pengguna juga dapat mengajukan pertanyaan menggunakan suara, gambar, maupun file untuk mendapatkan jawaban yang lebih kontekstual.
Baca Juga
Tantang Dominasi AS, Baidu Buka Akses ‘Open Source’ Model AI Ernie
Fitur-fitur chatbot dari Ernie Bot, chatbot AI milik Baidu, kini terintegrasi langsung dalam mesin pencari. Ini memungkinkan pengguna menghasilkan teks, gambar, hingga video secara langsung dari kotak pencarian.
“Fitur-fitur ini membuat cara kerja Baidu lebih mirip ChatGPT atau DeepSeek, sesuai dengan tren pencarian modern,” jelas analis pasar ekuitas di Morningstar, Kai Wang. Langkah ini menunjukkan Baidu mencoba mengadopsi cara kerja AI yang lebih intuitif dan multimodal.
Meski telah merilis Ernie Bot sejak 2023 dan memperbarui model AI-nya secara agresif, Baidu tetap menghadapi persaingan sengit dari sesama raksasa teknologi seperti Alibaba dan Tencent. Bahkan perusahaan baru seperti DeepSeek telah menarik perhatian global dengan model AI berbiaya rendah namun sangat canggih.
Dari sisi pasar, saham Baidu hanya naik sekitar 2,5% sepanjang tahun ini, kalah jauh dibanding Alibaba yang naik lebih dari 30% dan Tencent sekitar 20%. Ini menambah tekanan bagi Baidu untuk menunjukkan bahwa mereka masih menjadi pemain utama di industri AI China.
“Ini bukan hanya langkah bertahan, tapi juga langkah ofensif. Baidu ingin menunjukkan bahwa mereka bukan adik kecil Tencent dalam bidang AI,” tutup Dan Ives.

