Geser Microsoft, Nvidia Jadi Perusahaan Terbesar di Dunia dengan ‘Market Cap’ US$ 3,77 Triliun
NEW YORK, investortrust.id – Harga saham Nvidia melonjak lebih dari 4% pada Rabu (25/6/2025) dan ditutup di level tertinggi sejak Januari, seiring meningkatnya keyakinan investor bahwa dominasi perusahaan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) tidak akan terganggu oleh kontrol ekspor dari Tiongkok.
Baca Juga
Wall Street Bervariasi, Nvidia Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Lonjakan Saham Teknologi
Dikutip dari CNBC, saham ditutup pada US$154,31, melampaui rekor penutupan sebelumnya di US$149,43 pada 6 Januari lalu.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai US$3,77 triliun, Nvidia kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, mengungguli Microsoft — yang juga merupakan salah satu pelanggan utama Nvidia. Apple berada di posisi ketiga dengan valuasi sekitar US$3 triliun.
Meski Nvidia tetap menjadi pemimpin tak terbantahkan di pasar GPU (graphics processing units) yang digunakan dalam pembangunan model bahasa besar dan menjalankan beban kerja AI, reli harga saham tahun ini tergolong mengejutkan. Pasalnya, perusahaan telah kehilangan akses ke pasar terbesar kedua di dunia, yakni Tiongkok.
Pada April lalu, pemerintahan Trump mengeluarkan aturan baru yang melarang penjualan prosesor AI H20 Nvidia yang dikembangkan untuk mematuhi pembatasan sebelumnya. Nvidia mengungkapkan bahwa kebijakan baru tersebut akan memangkas pendapatan sebesar US$8 miliar dan memaksa perusahaan mencatat kerugian persediaan sebesar US$4,5 miliar. Saat ini, Nvidia tidak lagi mengandalkan pendapatan dari Tiongkok.
Baca Juga
Salip Microsoft, Nvidia Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia
“Pasar senilai US$50 miliar di Tiongkok secara efektif telah tertutup bagi industri AS,” kata CEO Nvidia Jensen Huang bulan lalu.
Pemerintahan Trump juga telah mengisyaratkan bahwa akan ada aturan lanjutan yang memperluas pembatasan ekspor untuk chip AI.
Meski demikian, dalam laporan keuangan Mei lalu, Nvidia melaporkan lonjakan pendapatan tahunan sebesar 69%, didorong oleh kenaikan 73% dalam bisnis pusat datanya. Menurut LSEG, analis memperkirakan pendapatan akan tumbuh 53% secara tahunan pada tahun fiskal ini hingga hampir menyentuh US$200 miliar.
Dalam rapat umum pemegang saham yang digelar Rabu, Jensen Huang menyatakan bahwa selain AI, bidang robotik menjadi peluang pertumbuhan terbesar selanjutnya bagi Nvidia.

