Lampaui Ekspektasi, Pertumbuhan Penjualan Ritel China Capai Level Tertinggi Sejak 2023
BEIJING, investortrust.id – Konsumsi domestik Tiongkok menunjukkan momentum pemulihan yang kuat pada Mei, dengan pertumbuhan penjualan ritel mencapai level tertinggi sejak Desember 2023. Kinerja ini didorong oleh program subsidi pemerintah serta lonjakan aktivitas belanja daring menjelang festival e-commerce “618”.
Baca Juga
Data yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) pada Senin (17/6/2015) menunjukkan penjualan ritel naik 6,4% secara tahunan, melampaui ekspektasi konsensus dalam jajak pendapat Reuters sebesar 5%, dan juga menguat dari pertumbuhan 5,1% pada April.
Juru bicara NBS, Fu Linghui, mengatakan peningkatan konsumsi bulan lalu didorong oleh program tukar tambah barang konsumen, lonjakan pembelian online menjelang festival 618, serta kenaikan kunjungan wisatawan asing setelah kebijakan bebas visa diperluas ke lebih banyak negara.
Namun demikian, Fu mengakui bahwa mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil sejak kuartal kedua merupakan tantangan, dengan menyebut ketidakpastian kebijakan perdagangan global sebagai salah satu hambatan utama.
Produksi industri Tiongkok melambat menjadi 5,8% yoy pada Mei dari 6,1% pada bulan sebelumnya, sedikit di bawah proyeksi pasar sebesar 5,9%. Di sisi lain, investasi aset tetap (year-to-date) tumbuh 3,7% hingga Mei dibanding tahun lalu, di bawah ekspektasi 3,9% dan turun dari 4% pada periode Januari-April.
Penurunan paling tajam terlihat pada sektor properti, dengan investasi properti menyusut 10,7% selama lima bulan pertama tahun ini, menunjukkan berlanjutnya tekanan struktural di sektor ini.
“Lonjakan penjualan ritel mengejutkan,” ujar Zhiwei Zhang, Presiden dan Kepala Ekonom di Pinpoint Asset Management, sembari memperingatkan bahwa penurunan harga properti dapat kembali menekan sentimen konsumen.
Data terpisah dari NBS menunjukkan harga rumah baru di kota tier 1 turun 1,7% pada Mei (yoy), sementara kota tier 2 dan tier 3 masing-masing mencatatkan penurunan 3,5% dan 4,9%.
Stimulus
Sementara itu, sektor eksternal Tiongkok mencatat campuran hasil. Ekspor tumbuh lebih rendah dari perkiraan pada Mei, meskipun peningkatan pengiriman ke Asia Tenggara, Uni Eropa, dan Afrika mampu menutupi penurunan tajam ke Amerika Serikat. Ekspor Tiongkok ke AS merosot lebih dari 34% yoy, menjadi penurunan terdalam sejak Februari 2020.
Baca Juga
Pelemahan tersebut terjadi meskipun adanya kesepakatan tarif sementara dengan Washington pada pertengahan Mei, yang mencakup gencatan senjata 90 hari dan penarikan sebagian tarif ratusan persen yang diberlakukan sejak awal April. Namun, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan pekan lalu bahwa tarif impor atas produk Tiongkok akan tetap berada di level tinggi 55%.
Goldman Sachs mencatat bahwa data perdagangan dua bulan terakhir menunjukkan daya tahan ekspor Tiongkok tetap kuat, menandakan bahwa tarif bilateral sulit secara signifikan menekan total ekspor Tiongkok.
Deflasi Masih Jadi Ancaman
Di sisi domestik, tekanan deflasi masih membayangi. Indeks harga konsumen (CPI) kembali turun 0,1% yoy pada Mei, menandai penurunan selama empat bulan berturut-turut. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) merosot 3,3% yoy, mencerminkan tekanan harga dari sektor manufaktur hulu.
Baca Juga
Namun, Beijing belum menunjukkan urgensi untuk meluncurkan stimulus tambahan, seiring ekspor yang lebih resilien dan proyeksi pertumbuhan PDB semester I yang diperkirakan melampaui 5%, menurut Goldman Sachs.
Meski demikian, beberapa ekonom tetap berhati-hati. Tianchen Xu dari Economist Intelligence Unit memperkirakan konsumsi swasta akan menghadapi “triple whammy”: larangan makan resmi bagi pejabat, berakhirnya belanja cepat festival 618, dan penghentian subsidi pemerintah.
Goldman Sachs mencatat bahwa beberapa kota telah menghentikan program tukar tambah barang konsumen karena dua tahap pertama subsidi pusat telah habis, sementara pendanaan tambahan belum turun.
Stimulus tambahan baru akan muncul bila ekonomi menunjukkan tanda-tanda pelemahan, kata para ekonom. “Tanpa stimulus sisi permintaan tambahan, pemulihan konsumsi ini berpotensi tidak bertahan lama,” ungkap Jianwei Xu, ekonom senior di Natixis, seperti dikutip CNBC.
Robin Xing, Kepala Ekonom Tiongkok di Morgan Stanley, memperkirakan pemerintah pusat baru akan menambah kuota fiskal untuk mendanai program subsidi pada akhir kuartal ketiga atau awal kuartal keempat, jika pertumbuhan ekonomi melemah di bawah 4,5%.

