Lebih Rendah dari Perkiraan, Inflasi Inggris Maret 2,6%
LONDON, investortrust.id – Inflasi Inggris melambat, lebih rendah dari perkiraan. Tingkat inflasi tahunan Inggris turun menjadi 2,6% di bulan Maret, berada di bawah ekspektasi analis, menurut data yang dirilis oleh Kantor Statistik Nasional (ONS) pada Rabu (16/4/2025).
Ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan indeks harga konsumen akan mencapai 2,7% dalam dua belas bulan hingga Maret.
Baca Juga
Inflasi Inggris Januari Melonjak Jadi 3% YoY, Lebih Tinggi dari Perkiraan
Laju kenaikan harga di Inggris mencapai 2,8% pada Februari, setelah melonjak tajam menjadi 3% di Januari.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga energi, makanan, alkohol, dan tembakau yang lebih fluktuatif, naik 3,4% dalam setahun hingga Maret, sedikit turun dari 3,5% di Februari.
ONS menyatakan bahwa kontribusi penurunan terbesar terhadap perubahan bulanan tingkat inflasi berasal dari rekreasi dan budaya, serta bahan bakar kendaraan, sementara penyumbang kenaikan terbesar adalah pakaian.
Poundsterling naik 0,25% terhadap dolar AS menjadi $1,3265 setelah data dirilis.
Data terbaru ini akan dianalisis secara seksama oleh para pengambil kebijakan di Bank of England (BOE), yang diperkirakan akan memangkas suku bunga pada pertemuan berikutnya tanggal 8 Mei. BOE menahan suku bunga 4,5% pada pertemuan sebelumnya di bulan Maret di tengah prediksi kenaikan inflasi dan ketidakpastian terhadap pertumbuhan ekonomi serta perdagangan global akibat tarif Presiden AS Donald Trump.
Ada kabar baik untuk Inggris pekan lalu, ketika data pertumbuhan bulanan terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Inggris tumbuh 0,5% secara bulanan di bulan Februari. Inggris juga berharap dapat menandatangani kesepakatan dagang dengan Washington, setelah relatif tidak terdampak besar oleh rezim tarif Trump dengan hanya bea masuk dasar 10% atas ekspor ke AS.
Para pelaku pasar akan mencermati pernyataan kebijakan BOE berikutnya pada hari Kamis untuk melihat penilaian mereka terhadap prospek ekonomi negara tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis pada bulan Maret, bank sentral mengatakan bahwa “ketidakpastian kebijakan perdagangan global telah meningkat, dan Amerika Serikat telah mengumumkan berbagai tarif, yang direspons oleh beberapa pemerintah.”
“Ketidakpastian geopolitik lainnya juga meningkat dan indikator volatilitas pasar keuangan telah naik secara global,” tambahnya.
BOE memperingatkan pada bulan Februari bahwa mereka memperkirakan inflasi akan naik sementara menjadi 3,7% pada kuartal ketiga tahun ini, karena biaya energi diperkirakan akan meningkat. Pada saat itu, mereka juga memangkas setengah proyeksi pertumbuhan Inggris untuk tahun 2025 menjadi 0,75%.
Baca Juga
Ketidakpastian Global Meningkat, Bank Sentral Inggris Pertahankan Suku Bunga
Ruth Gregory, wakil kepala ekonom Inggris di Capital Economics, termasuk di antara analis yang mencatat bahwa perlambatan inflasi ini tidak diharapkan akan berlangsung lama.
“Penurunan tidak akan bertahan lama, dengan inflasi diperkirakan naik menjadi sekitar 3,5% dalam beberapa bulan mendatang. Tapi kami pikir lemahnya ekonomi akan menekan inflasi pada akhirnya dan guncangan tarif telah menggeser keseimbangan risiko ke arah inflasi yang lebih rendah dan penurunan suku bunga yang lebih cepat,” urainya dalam komentar tertulis seperti dikutip CNBC.
“Untuk saat ini, kami tetap pada pandangan bahwa inflasi akan secara bertahap turun menjadi 2,0% pada tahun 2026. Namun, risiko terhadap proyeksi tersebut tampaknya semakin condong ke arah penurunan,” tambahnya.

