AS Ancam Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 2%
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari $1 pada Jumat (12/4/2025) setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa Amerika Serikat bisa menghentikan ekspor minyak Iran sebagai bagian dari upaya untuk menekan Republik Islam tersebut agar mematuhi kesepakatan terkait program nuklirnya.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok 3% karena Trump Naikkan Tarif ke Tiongkok Jadi 145%
Futures minyak mentah Brent ditutup pada $64,76 per barel, naik $1,43 atau 2,26%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir pada $61,50 per barel, naik $1,43 atau 2,38%.
“Penegakan ketat terhadap pembatasan ekspor minyak mentah Iran akan mengurangi pasokan global. Saya menduga China akan terus membeli minyak dari Iran,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, seperti dikutip CNBC.
Pernyataan Wright memberikan dorongan kenaikan harga minyak, menyusul fluktuasi harga yang volatil minggu ini ketika kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump memaksa para pedagang menilai ulang risiko geopolitik yang memengaruhi pasar minyak mentah.
“AS menjadi faktor risiko geopolitik adalah hal baru bagi pasar. Kita akan melihat penataan ulang papan catur seperti yang terjadi setelah Rusia menginvasi Ukraina,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital.
China mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan memberlakukan tarif sebesar 125% terhadap barang-barang AS mulai hari Sabtu, naik dari yang sebelumnya diumumkan sebesar 84%, setelah Trump menaikkan tarif terhadap China menjadi 145% pada hari Kamis.
Baca Juga
Trump minggu ini menunda penerapan tarif tinggi terhadap puluhan mitra dagang lainnya, tetapi perselisihan berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar dunia kemungkinan akan mengurangi volume perdagangan global dan mengganggu jalur distribusi, yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global dan menurunkan permintaan minyak.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
“Meski penerapan beberapa tarif, kecuali terhadap China, ditunda selama 90 hari, kerusakan pada pasar sudah terjadi, sehingga harga kesulitan untuk kembali stabil,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.
Badan Informasi Energi AS (EIA) pada hari Kamis menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan memperingatkan bahwa tarif dapat sangat membebani harga minyak. EIA juga menurunkan proyeksi permintaan minyak AS dan global untuk tahun ini dan tahun depan.
Pertumbuhan ekonomi China pada 2025 diperkirakan akan melambat dibandingkan laju tahun lalu, menurut jajak pendapat Reuters, karena tarif AS menambah tekanan pada negara importir minyak terbesar di dunia tersebut.
Dampak tarif dapat menjadi “katastrofik” bagi negara-negara berkembang, kata direktur badan perdagangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Konsumsi minyak diperkirakan akan menurun sebesar 1% jika pertumbuhan ekonomi global turun di bawah 3%, kata Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior.

