Tersengat Tarif Trump, Aktivitas Manufaktur di Asia Melemah
TOKYO, investortrust.id – Aktivitas pabrik di Asia melemah pada Januari karena lemahnya permintaan dari China dan ancaman tarif yang lebih tinggi oleh Presiden AS Donald Trump. Hal inii menekan sentimen bisnis, yang memperburuk prospek ekonomi kawasan.
Baca Juga
Gedung Putih Tegaskan Tarif Agresif terhadap Kanada, Meksiko, dan China Mulai Berlaku 1 Februari
Data terbaru mengenai aktivitas manufaktur ini muncul ketika pasar global anjlok setelah Trump pada Sabtu memenuhi ancamannya dan memerintahkan penerapan tarif besar-besaran pada impor dari Meksiko, Kanada, dan China.
Hambatan dari China dan ketidakpastian mengenai dampak kebijakan Trump kemungkinan akan menjadi tantangan besar bagi para pembuat kebijakan di Asia, yang banyak ekonominya bergantung pada konsumsi China dan perdagangan global.
Aktivitas pabrik China tumbuh pada kecepatan yang lebih lambat di Januari, sementara jumlah tenaga kerja menurun pada laju tercepat dalam hampir lima tahun akibat meningkatnya ketidakpastian perdagangan, menurut survei sektor swasta yang dirilis pada Senin (03/02/2025).
Baca Juga
Aktivitas Manufaktur China Melambat pada Desember, Ini Pemicunya
Hasil ini lebih baik dibandingkan survei resmi pekan lalu, yang menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di ekonomi terbesar kedua di dunia ini secara tak terduga mengalami kontraksi pada Januari.
Sebagai tanda meluasnya dampak pelemahan China dan ancaman tarif AS, aktivitas pabrik Jepang turun pada Januari dengan laju tercepat dalam 10 bulan, sementara kepercayaan bisnis mencapai level terendah dalam lebih dari dua tahun.
Sementara aktivitas manufaktur Korea Selatan tumbuh tipis pada Januari, aktivitas manufaktur di Taiwan dan Filipina justru melambat akibat prospek perdagangan global yang semakin suram.
"Ada kehati-hatian di antara perusahaan-perusahaan Asia terkait ancaman tarif Trump. Produsen juga tidak terlalu optimistis terhadap prospek China, di mana konsumsi diperkirakan tidak akan meningkat secara signifikan akibat meningkatnya pengangguran di kalangan generasi muda," urai Toru Nishihama, kepala ekonom pasar negara berkembang di Dai-ichi Life Research Institute, seperti dikutip Reuters.
"Tarif Trump juga dapat mempercepat inflasi AS dan menjaga dolar tetap kuat, yang akan menekan mata uang negara-negara Asia yang sedang berkembang. Ketika perdagangan global menyusut, itu tidak akan banyak membawa keuntungan bagi produsen di Asia," tambahnya.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Caixin/S&P Global China turun menjadi 50,1 pada Januari dari 50,5 di bulan sebelumnya, meleset dari perkiraan analis dan mencapai level terendah dalam empat bulan. Namun, angka ini masih sedikit di atas ambang batas 50, yang memisahkan ekspansi dari kontraksi.
PMI akhir Jepang turun menjadi 48,7 pada Januari, lebih rendah dari 49,6 di Desember, dan tetap di bawah ambang batas 50 selama tujuh bulan berturut-turut.
Sebaliknya, PMI Korea Selatan naik menjadi 50,3 pada Januari dari 49,0 di Desember, ketika sentimen bisnis terpengaruh oleh gejolak politik domestik, menurut survei yang disusun oleh S&P Global.
Ekonomi Korea Selatan hampir tidak tumbuh pada kuartal keempat 2024, karena krisis politik yang dipicu oleh upaya darurat militer Presiden Yoon Suk Yeol pada 3 Desember melemahkan konsumsi yang sudah rapuh.
PMI Vietnam turun menjadi 48,9 pada Januari dari 49,8 di Desember, sementara Taiwan turun menjadi 51,1 dari 52,7, menurut survei tersebut. Indeks untuk Filipina juga turun menjadi 52,3 pada Januari dari 54,3 di Desember.

